Dr. Lia Istifhama, M.E.I. (Ketua Yayasan Universitas Islam Taruna)
INFOnews.id | Surabaya - Seperti diketahui, Kitab Durratun Nashihin adalah salah satu sumber bacaan kaum muslim, terutama kalangan santri, untuk memperdalam wawasan ajaran Islam.
Kitab tersebut, dalam versi aslinya, memuat berbagai kisah (hikayat) maupun keutamaan-keutamaan dari setiap ibadah. Misalnya keutamaan puasa, keutamaan bulan Rajab, Sya'ban, Ramadhan, serta shalat sunat (tarawih, witir, dluha, tasbih, dan tahajud).
Kemudian, di dalamnya tertulis keutamaan atau fadilah shalat berjamaah, menghormati orang tua, dan berzikir, yang didukung dengan ayat-ayat Alquran.
Totalnya memuat sekitar 75 pasal (penjelasan) keutamaan yang berkaitan dengan setiap topik yang dibahas. Dalam setiap keutamaan ibadah yang dijelaskan, juga disertai dengan berbagai kisah dan hikayat yang diambil dari beberapa kitab lainnya, seperti Zubdat al-Wa'izhin, Tuhfah al-Muluk, Kanz al-Akhbar, Durrah al-Wa'izhin, dan Syifa' al-Syarif.
Di antara yang dinukilkan dari kitab Zubdat al-Wa'izhin (Zubdatul Waizin), adalah tentang keutamaan bulan Ramadhan dengan sikap taubat manusia, yaitu sebagai berikut:
“Apabila tiba malam pertama bulan Ramadhan maka setan setan dan jin jin Marid diikat, sedang pintu pintu neraka ditutup, tidak ada satu pintu pun di antaranya yang dibuka. Dan pintu pintu Surga pun dibuka, tidak ada satu pintu pun diantaranya yang ditutup.
Sedang Allah ta’ala pada malam hari setiap bulan Ramadhan berfirman 3 kali:
“Apakah ada orang yang meminta, maka aku akan beri permintaannya”.
“Apakah ada orang yang bertaubat maka akan aku terima taubatnya?”.
“Apakah ada orang yang memohon ampunan maka akan aku ampuni dia”.
Dan Allah membebaskan setiap hari dari bulan Ramadhan sejuta tawanan dari neraka yang seharusnya diajak.
Dan apabila tiba hari Jumat, Allah membebaskan setiap jam sejuta tawanan dari neraka dan apabila tiba hari terakhir dari bulan Ramadhan, maka Allah membebaskan sebanyak orang yang dibebaskan sejak awal bulan.
”Selain itu, banyak hadis tentang keutamaan bulan Ramadhan yang juga diterangkan dalam Kitab Durratun Nasihin, salah satunya adalah hadis yang merelevansikan bulan Ramadhan dengan rasa cinta.
Dan diriwayatkan pula dari Nabi Muhammad SAW., bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa merasa gembira dengan masuknya bulan Ramadhan, maka Allah mengharamkan tubuhnya terhadap neraka.”
Rasulullah juga bersabda:
“Apabila tiba malam pertanda bulan Ramadhan. Maka Allah ta'ala berfirman, barangsiapa yang mencintai kami, maka kami pun mencintainya. Dan barangsiapa yang mencari kami, maka kami pun akan mencari. Dan barangsiapa memohon ampun dan kepada kami, maka kami pun mengakuinya demi kehormatan bulan Ramadhan.”
Kitab Durratun Nasihin juga menukil Kitab Raunaqul Majalis, yaitu tentang empat golongan yang dirindukan Surga.
“Surga itu rindu kepada empat orang: Orang yang membaca Al-Quran, orang yang menjaga lidahnya, orang yang memberi makan kepada mereka yang kelaparan, dan orang-orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan.”
Dalam kitab tersebut, juga diterangkan anjuran amalan yang seharusnya dilakukan manusia. Anjuran tersebut adalah, bahwa seyogyanyalah bagi seorang mukmin menghormati bulan Ramadhan dan memelihara diri dari kemungkaran-kemungkaran dan sibuk dengan ketaatan-ketaatan, yang berupa sholat, tasbih, dzikir, dan membaca Al-Qur’an.
Diterangkan dalam kitab Durratun Nasihin, bahwa Allah ta'ala pernah berfirman kepada Nabi Musa a.s:
“Sesungguhnya aku memberikan kepada umat Muhammad dua cahaya. Supaya mereka tidak terkena bahaya dari dua kegelapan. Musa bertanya apakah kedua cahaya itu ya Rabbi? Allah Ta'ala menjawab cahaya Ramadhan dan cahaya Al Quran. Musa bertanya lagi, dan apakah kedua kegelapan itu ya Rabbi?
Allah Ta'ala menjawab, kegelapan kubur dan kegelapan hari.” Dengan begitu, jika kita ingin tetap memiliki naungan cahaya dalam hidup, maka marilah kita menjaga rasa cinta dan penghambaan diri kita, terlebih dalam momentum bulan Ramadhan.
Mari kita cintai bulan ini dengan segala aktivitas ‘ubudiyah seperti halnya kita mencintai diri kita agar berada dalam naungan cahaya selama kita hidup dan juga kelak di akhirat.
Marhaban Ya Ramadhan,
Marhaban Bulan Penuh Penghambaan. (*)
Editor : Tudji Martudji