Tahun Bencana

ILMU TITEN

Design:IN/BungKusanNegara

INFOnews.id | Surabaya - Gempa bermagnitudo 6,2 mengguncang Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) pada Jumat (15/1/2021).

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mendeteksi titik lokasinya berada di koordinat 2,98 lintang selatan dan 118,94 bujur timur. Pusat gempa diketahui di kedalaman 10 kilometer.

Bencana alam ini tidak hanya mengakibatkan bangunan pemukiman dan infrastruktur rusak parah. Tapi juga menelan korban jiwa.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sedikitnya ada 56 orang meninggal dunia. Sebanyak 826 orang dilaporkan luka-luka, dan lebih dari 15 ribu warga terpaksa mengungsi.

BMKG memprediksi potensi gempa susulan. Guncangannya bahkan bisa lebih dahsyat lagi karena memicu tsunami. Prediksi ini diperoleh dari hasil pengamatan kondisi bebatuan rapuh akibat diguncang gempa lebih dari 28 kali dan pusatnya berada di pantai. 

Warga pun dihimbau untuk tidak berada di dalam bangunan atau gedung yang rentan. Menjauh dari pantai, dan tak perlu menunggu Early Warning System (EWS) atau peringatan dini. Sebab, tsunami bisa terjadi dalam waktu cepat.

Dalam mitigasi bencana alam, kehidupan leluhur di bumi Nusantara sejatinya telah mewariskan “ilmu titen”. Disamping ilmu pengetahuan umum dan apapun bentuk produk teknologi, “ilmu titen” diyakini tetap ampuh untuk mengurangi risiko, menanggulangi, bahkan mencegah terjadinya bencana alam. Itu karena “ilmu titen” tidak hanya mengandalkan kecerdasan akal, logika dan pikiran.

Tapi juga mengerahkan kekuatan batin, naluri, rasa, dan kepekaaan di atas rata-rata. Metode inilah yang dipakai untuk menangkap setiap gejala atau pertanda fenomena alam semesta. Sekaligus menumbuhkan dan meningkatkan mawas diri. 

Pada 2006 silam, ketika semua orang kasak-kusuk gelisah oleh peringatan BMKG yang menginformasikan Gunung Merapi akan meletus, Mbah Maridjan tak bergeming.

Juru kunci Merapi bergelar Raden Ngabehi Surakso Hargo ini tetap tegak kukuh berdiri. Ia tak mau mengungsi. Sampai pada akhir Mbah Maridjan meninggal dunia pada 10 Oktober 2010.

Ketika itu, gulungan awan panas meluncur turun melewati kawasan tempatnya bermukim. Beberapa jam kemudian, tim SAR menemukan jasad Mbah Maridjan dalam keadaan bersujud.

Terlepas ikatan janji menjaga Merapi sampai mati, Mbah Maridjan bisa dibilang telah berhasil membaca tanda-tanda alam. Ia seperti mampu “berkomunikasi” dengan Merapi sehingga tahu kapan saat membahayakan atau tidak. 

Mbah Maridjan orangnya “titen” “Ilmu titen” sesungguhnya dimiliki setiap orang. Hanya saja tumpul-tajamnya berbeda-beda.

Bergantung diasah atau tidak. Ini bisa diamati dari tanda-tanda pada seorang anak bayi. Secara psikologis, keadaan bayi adalah polos dan lugu. Mampunya hanya menangis dan menangis. 

Namun, sebagai seorang ibu tentu memiliki hubungan perasaan erat dengan bayinya. Maka sang ibu mempraktekkan “ilmu titen”. Menghafal gelagat hingga tingkah polah bayi saat menangis.

Bila menangisnya begini berarti lapar. Bila menangisnya mengiba, berarti ia merasa sakit, dan seterusnya.

Hematnya, “ilmu titen” menggunakan prinsip cocok. Melandaskan pada kebiasaan yang terjadi berulang-ulang, dicatat, dipelajari, direnungkan, disimpulkan, dan diamalkan. Konsisten dilakukan terus menerus lalu diturunkan turun-temurun. Kompas hidup dengan menggunakan pengalaman nyata. *(bungkusanegara)*

infonews.id tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Berita Terkait