BLORA, INFONews.ID - Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), wacana mengenai pentingnya menghadirkan kepemimpinan yang mampu merangkul seluruh elemen organisasi kembali mengemuka. Di tengah dinamika internal yang berkembang dalam beberapa waktu terakhir, gagasan "jalan tengah" dinilai menjadi kebutuhan untuk menjaga persatuan sekaligus mengembalikan fokus perjuangan organisasi.
Selama ini, NU dikenal sebagai organisasi yang menjunjung tinggi tradisi musyawarah dan menghargai perbedaan pandangan. Perbedaan tersebut dipandang sebagai bagian dari kekayaan pemikiran yang memperkuat organisasi selama tetap berada dalam bingkai ukhuwah dan semangat perjuangan bersama.
Namun, ketika perbedaan berkembang menjadi polarisasi yang berkepanjangan, kondisi itu dinilai berpotensi memengaruhi soliditas organisasi. Dinamika yang semula berada di tingkat elite disebut mulai merembet hingga tingkat wilayah, cabang, dan ranting sehingga memunculkan kekhawatiran akan, warga NU dinilai tidak alergi terhadap politik karena banyak kader yang berkiprah di partai politik maupun lembaga negara. Namun di sisi berkurangnya energi besar NU sebagai jam'iyah dan jamaah.
Selain persoalan internal, menjelang Muktamar juga muncul perhatian terhadap persepsi publik mengenai masuknya kepentingan politik praktis dalam dinamika suksesi kepemimpinan organisasi.
Di satu sisi, warga NU dinilai tidak alergi terhadap politik karena banyak kader yang berkiprah di partai politik maupun lembaga negara. Namun di sisi lain, terdapat pandangan bahwa organisasi harus tetap menjaga independensinya sebagai jam'iyah agar tetap berdiri di atas seluruh kepentingan politik.
Kondisi tersebut dinilai penting dijaga agar NU tetap memiliki kekuatan moral dan menjadi rumah besar bagi seluruh warga nahdliyin yang memiliki beragam pilihan politik.
Sejumlah kalangan menilai, apabila figur-figur yang muncul dalam bursa kepemimpinan dipersepsikan terlalu dekat dengan kekuatan politik tertentu atau masih berada dalam pusaran konflik yang belum selesai, maka kompetisi yang berkembang dikhawatirkan tidak lagi sebatas adu gagasan, melainkan berpotensi memperpanjang fragmentasi di dalam organisasi.
Karena itu, muncul pandangan bahwa NU membutuhkan figur pemimpin yang mampu menjaga jarak yang sama terhadap seluruh kepentingan politik sekaligus memiliki kapasitas untuk merangkul seluruh elemen organisasi.
Gagasan jalan tengah dipandang sebagai salah satu ikhtiar untuk menjaga persatuan organisasi menjelang Muktamar.
Setidaknya terdapat tiga alasan yang dinilai memperkuat relevansi gagasan tersebut.
Pertama, jalan tengah dianggap sejalan dengan prinsip tawasuth yang menjadi karakter NU, yakni sikap moderat yang mengedepankan keseimbangan, kebijaksanaan, dan kemampuan merangkul berbagai perbedaan.
Dengan pendekatan tersebut, energi organisasi diharapkan kembali diarahkan pada pelayanan umat, penguatan kelembagaan, serta pengembangan berbagai program strategis, bukan tersita dalam kontestasi internal.
Kedua, jalan tengah dinilai penting untuk menjaga marwah NU sebagai organisasi yang berdiri di atas seluruh golongan. Independensi organisasi dipandang menjadi modal utama agar NU tetap memiliki ruang moral dalam memberikan kontribusi bagi kehidupan kebangsaan.
Ketiga, muncul harapan agar NU kembali memusatkan perhatian pada khittahnya sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan melalui penguatan sektor pendidikan, dakwah, pemberdayaan ekonomi umat, pelayanan sosial, pengembangan sumber daya manusia, hingga kontribusi terhadap pembangunan peradaban.
Dalam konteks tersebut, figur pemersatu dinilai menjadi salah satu prasyarat penting bagi keberhasilan jalan tengah.
Sosok yang tidak dibebani konflik masa lalu serta mampu diterima oleh berbagai kelompok di lingkungan NU dinilai memiliki peluang lebih besar untuk membangun rekonsiliasi internal sekaligus mengembalikan fokus organisasi kepada agenda-agenda keumatan.
Pandangan tersebut menekankan bahwa kekuatan utama NU selama ini lahir dari kemampuan seluruh elemen organisasi untuk bermusyawarah, merawat persatuan, dan menempatkan kemaslahatan jam'iyah serta kepentingan jamaah di atas kepentingan kelompok.
Pada akhirnya, gagasan jalan tengah dipandang bukan semata berbicara mengenai siapa yang akan memimpin NU pada periode mendatang, melainkan mengenai arah organisasi memasuki abad kedua, dengan tetap menjaga kedaulatan, marwah, serta manfaatnya bagi umat, bangsa, dan kmanusiaan.
Oleh : KH Ahmad Zaki Fuad, M.Ag | Rektor IAI Khozinatul Ulum
Editor : Alim Kusuma