MALANG, iNFONews.ID -
Topeng malangan telah lama menjadi mahkota budaya Kota Malang. Sabtu, 27 Juni 2026, mahkota itu disentuh oleh tangan-tangan yang belum pernah menyentuhnya sebelumnya, lima belas anak berkebutuhan khusus yang duduk melingkar di Griya Kriya Topeng Ramah Difabel, Jalan Kyai Parseh Jaya No. 29, Bumiayu, Kedungkandang, masing-masing menggenggam cetakan resin dan siap menciptakan topeng pertama mereka.
Acara yang berlangsung pukul 09.00 hingga 12.00 WIB ini diselenggarakan oleh Sanggar Budaya Anak Nareswari. Sebelas peserta adalah anggota sanggar, empat lainnya berasal dari Kelurahan Bumiayu. Semua adalah anak dengan Down syndrome dan tunagrahita—dan semua, pagi itu, adalah seniman.
Menyesuaikan Tradisi dengan Kemampuan
Pelatih Ndaru Lazarus merancang metode pembelajaran yang disesuaikan khusus: pengenalan bentuk topeng malangan bertahap sesuai kapasitas motorik, prosedur resin yang aman, dan peran aktif orang tua sebagai jembatan komunikasi. Sebelum resin dituangkan, setiap anak memakaikan sarung plastik ke kedua tangan sebagai langkah keamanan.
Peserta dari Sanggar Nareswari meliputi Jesika Ramadhani Sakka, Muhammad Faza Aulia Rahadiyanto, Jordy Arnold Emanuelle Permadi Eoh, Aryasatya Andy Pratama, Agam Baharuddin Syaputra, Dzaky Althaf Wijaya, Aldhi Kurniawan, Dwi Nur Alif Setyawan, Jonathan Heber Bravo, Aline Kirana Salma Asheva, dan Marcel Putra Pamungkas. Dari Kelurahan Bumiayu: Choirul Rozikin, Intan Ade Reza, Dyan Afriananda Sutopo, dan Pungky Chandra Dwi Fransisca.
Tiga Program, Satu Festival
Kegiatan ini adalah program kedua dari tiga rangkaian berkelanjutan. Program pertama—pelatihan batik sampur ramah difabel—telah berlangsung Mei 2026. Program ketiga, mewarnai topeng, dijadwalkan Juli 2026. Seluruhnya bermuara pada Festival Sendratasik Topeng Malangan, Sabtu, 1 Agustus 2026: parade tari, pertunjukan drama tari musik, dan bazar UMKM.
"Hasil karya mereka akan dipamerkan di Galeri di DPRD Kota Malang, Hotel Mercure, Pasar Seni Bareng," ujar Brelliane Semesta Pratiwi, panitia kegiatan yang juga mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. "Topeng Malangan bukan milik sebagian orang saja."
Program ini didukung Dana Abadi Kebudayaan 2025, Kementerian Kebudayaan (Program Dana Indonesiana), Kementerian Keuangan (LPDP)
Berdiri sejak 2017, Sanggar Budaya Anak Nareswari kini memiliki 50 anggota aktif dan berkolaborasi dengan 27 lembaga pendamping ABK se-Malang Raya. Program ini didukung Dana Abadi Kebudayaan 2025, Kementerian Kebudayaan, Kementerian Perhubungan, LPDP, dan Dana Indonesiaraya.
Seni sebagai Ruang Berekspresi Paling Jujur
Brelliane menekankan bahwa keterbatasan verbal bukan penghalang berkarya. Seni, menurutnya, justru menjadi ruang berekspresi paling jujur bagi anak-anak yang menyimpan potensi besar di balik keterbatasan mereka.
Melalui program ini, Sanggar Budaya Anak Nareswari berharap ruang ramah difabel terus meluas. Sebab setiap anak—apa pun kondisinya—berhak berekspresi, berkarya, dan menunjukkan yang terbaik. Topeng malangan, yang telah lama menjadi wajah Malang, kini hadir pula sebagai wajah inklusivitas.
Seluruh kegiatan dipusatkan di Griya Kriya Topeng Ramah Difabel, Jalan Kyai Parseh Jaya No. 29, Bumiayu, Kedungkandang, Kota Malang. (*)
Editor : Tudji Martudji