LUMAJANG, INFONEWS.ID - Proses memanen kelapa selama ini dikenal berisiko tinggi. Petani harus memanjat pohon yang bisa mencapai belasan meter dengan cara manual. Kondisi tersebut tak hanya membahayakan keselamatan, tetapi juga membuat produktivitas panen sulit meningkat.
Melihat persoalan itu, dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengembangkan Moto Climber ITS (Mocits), alat panjat kelapa yang dirancang agar petani bisa bekerja lebih aman, cepat, dan efisien.
Baca juga: Guru Besar ITS Gagas AI Adaptif untuk Hadapi Perubahan Data dan Ancaman Siber
Pengembang Mocits, Ir Achmad Syaifudin ST MEng PhD IPM AEng, mengatakan alat tersebut lahir atas permintaan Kementerian Pertanian RI yang ingin menghadirkan teknologi sederhana namun benar-benar dibutuhkan petani.
"Perancangannya memang lebih singkat dibanding riset lain karena berangkat dari kebutuhan nyata untuk meningkatkan produktivitas panen kelapa di Indonesia," kata Syaifudin.
Dalam proses pengembangannya, tim ITS membuat tiga versi prototipe.
Versi pertama masih memiliki banyak kekurangan, mulai dari ukuran roda yang terlalu besar hingga material dan desain yang belum optimal.
Selanjutnya lahir prototipe Beta. Alat tersebut sudah mampu memanjat pohon kelapa, meski masih memiliki bobot cukup berat dan kecepatan yang belum maksimal. Prototipe itu pula yang pertama kali dipamerkan kepada Menteri Pertanian.
Setelah menerima berbagai masukan dari petani, tim kembali menyempurnakan desain hingga lahirlah versi Alpha.
"Versi terakhir sudah jauh lebih optimal. Pengembangannya berdasarkan hasil wawancara dengan petani dan sudah diuji langsung di Lumajang," ujarnya.
Pada versi terbaru, Mocits dibekali sistem pengereman ganda (double brake). Rem akan mengunci alat secara otomatis pada batang pohon sehingga pengguna bisa naik maupun turun dengan lebih aman.
Baca juga: Lulus SMA, Puluhan Siswa Santo Carolus Surabaya Raih Kampus Impian
Selain itu tersedia sabuk pengaman (harness) untuk operator dan mesin yang dipasang menggunakan sistem tali pengikat kuat. Dengan fitur tersebut, alat tetap aman berada di atas pohon meski rem tangan tidak dioperasikan.
Mocits juga dapat disesuaikan dengan ukuran batang kelapa berdiameter 25 hingga 40 sentimeter. Ke depan, tim ITS berencana menambahkan sistem rack and pinion agar cengkeraman alat semakin presisi mengikuti ukuran batang pohon.
Syaifudin mengatakan seluruh komponen sengaja dibuat sederhana agar mudah dipelajari dan dirawat oleh petani.
"Rantai dipilih karena mekanismenya sudah akrab bagi masyarakat desa sehingga perawatannya juga lebih mudah," katanya.
Perwakilan Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Jawa Timur, Dr Ismatul Hidayah SP MP, menilai desain sederhana menjadi nilai lebih dari Mocits.
Baca juga: Tambaksari hingga Semampir Surabaya Masuk Zona Risiko Tinggi DBD Menurut AERIS
"Kalau dibandingkan cara manual, alat seperti ini harus lebih efisien, aman, dan mudah digunakan petani. Itu yang menjadi tujuan pengembangannya," ujarnya.
Salah seorang petani yang ikut menguji alat tersebut, Muhammad Basiran, mengaku penggunaan Mocits lebih praktis dibanding cara konvensional.
"Menurut saya alat ini lebih efektif dan cara menggunakannya juga mudah dipelajari oleh petani," katanya.
Saat memasuki tahap produksi, ITS menggandeng PT Smarttech Reborn 2007 sebagai mitra manufaktur. Nantinya Mocits akan dipasarkan melalui ITS Science Techno Park dan diusulkan masuk ke e-katalog Kementerian Pertanian sehingga dapat dimanfaatkan lebih luas oleh petani di berbagai daerah.
Editor : Alim Kusuma