Pakar UNAIR Ingatkan Teknik Kurban Minim Stres pada Hewan

Reporter : Ali Masduki
Proses penanganan hewan sebelum penyembelihan sangat menentukan kondisi daging yang akan dikonsumsi masyarakat. INPhoto/Ali

SURABAYA, iNFONews.ID - Menjelang Hari Raya Idul Adha, pakar kesehatan hewan dari Universitas Airlangga mengingatkan pentingnya teknik penyembelihan hewan kurban yang memperhatikan kesejahteraan hewan dan kualitas daging.

Pakar Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR, Nusdianto Triakoso, mengatakan proses penanganan hewan sebelum penyembelihan sangat menentukan kondisi daging yang akan dikonsumsi masyarakat.

Baca juga: BSI Region VIII Surabaya Salurkan 479 Hewan Kurban untuk Warga Jatim

Menurut dia, hewan kurban sebaiknya sudah berada di lokasi penyembelihan sehari sebelum pelaksanaan agar memiliki waktu istirahat cukup setelah perjalanan.

“Tempat penampungan sementara juga perlu diperhatikan. Hewan sebaiknya tidak melihat atau mendengar proses penyembelihan hewan lain agar tidak stres,” kata Nusdianto, Selasa (26/5/2026).

Ia menjelaskan stres pada hewan dapat memengaruhi kualitas daging. Karena itu, panitia kurban diminta memperhatikan proses penanganan mulai dari pemilihan hewan, teknik penyembelihan, hingga pengelolaan daging setelah pemotongan.

Nusdianto menyebut masyarakat sebenarnya bisa mengenali ciri hewan kurban sehat melalui tanda-tanda sederhana, seperti gerakan yang aktif, pernapasan normal, serta tidak adanya cairan atau kotoran berlebihan pada mata, mulut, telinga, maupun bagian belakang tubuh hewan.

“Kalau bagian belakang basah dan banyak kotoran menempel, bisa jadi hewan mengalami diare. Pernapasan yang tidak normal juga perlu diwaspadai,” ujarnya.

Baca juga: Pernah Pimpin Instalasi Farmasi RS UNAIR, Alumni Farmasi UNAIR Kini Lanjut S3 di Australia

Ia juga mengingatkan agar proses mengasah pisau tidak dilakukan di depan hewan kurban karena dapat memicu ketakutan.

Dalam proses penyembelihan, Nusdianto menyarankan penggunaan teknik yang membuat hewan rebah secara perlahan dan tidak terbanting. Menurut dia, metode seperti Burley dan Rope Squeeze dapat membantu mengurangi rasa sakit dan stres pada sapi saat akan disembelih.

Selain itu, pisau yang digunakan harus benar-benar tajam agar pemotongan berlangsung cepat dan tepat.

Baca juga: Alumni FF UNAIR Berkiprah di Industri Farmasi Global, Muhamad Cursor Rafidian Pimpin Pabrik Kalbe di Nigeria

“Dengan sekali sayatan, saluran darah, saluran napas, dan saluran cerna yang memang harus dipotong bisa langsung terputus,” katanya.

Setelah penyembelihan, pengelolaan daging dan limbah juga perlu diperhatikan. Organ dalam, terutama bagian saluran pencernaan, harus dipisahkan dari daging untuk mengurangi risiko kontaminasi.

Ia menambahkan penanganan yang baik akan menghasilkan daging kurban yang memenuhi prinsip ASUH, yakni Aman, Sehat, Utuh, dan Halal.

Editor : Alim Kusuma

Photo
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru