3 Mahasiswa ISTTS Jadi Pionir Google Student Ambassador Indonesia

Reporter : Alim Kusuma
Tiga mahasiswa ISTTS Surabaya terpilih jadi Google Student Ambassador pertama di Indonesia. Mereka bawa misi edukasi penggunaan Gemini AI secara bijak. INPhoto/M Iffan Maulana

SURABAYA, iNFONews.ID – Gelombang kecerdasan buatan (AI) sering kali dianggap sebagai ancaman yang bakal menggusur peran manusia di berbagai industri. Namun, tiga mahasiswa Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya (Institut STTS) justru mengambil posisi berbeda. 

Mereka terpilih menjadi Google Student Ambassador (GSA) pertama di Indonesia dengan misi besar: menjinakkan teknologi agar jadi kawan kreativitas, bukan lawan.

Baca juga: Surabaya Jadi Kiblat Baru AI, Pakar Google Bedah Masa Depan Coding di iSTTS

Travis Setyagrandy Kurniawan, Alexia Valerie Wibowo, dan Innani Fiddinillah resmi menyandang status sebagai duta teknologi Google pada awal 2026. 

Travis, mahasiswa Informatika semester enam, berhasil menyisihkan ribuan pendaftar dan masuk dalam jajaran 800 mahasiswa terpilih di tanah air untuk program perdana ini.

"Kami ingin mengubah pola pikir masyarakat yang antipati. AI itu bukan musuh yang merebut pekerjaan, tapi co-pilot yang membantu kita menggali ide lebih dalam," ujar Travis saat ditemui dalam gelaran FlutterFusion Conference 2026 di kampus ISTTS, Sabtu (21/2/2026).

Sebagai wajah resmi Google di lingkungan kampus, Travis dan tim memikul tanggung jawab mengedukasi publik mengenai pemanfaatan Gemini AI. Mereka menyasar fitur-fitur produktivitas yang selama ini sering terabaikan oleh pengguna awam.

Baca juga: AI Campus iSTTS Meracik Formula Jurnalisme Cerdas Tanpa Kehilangan Integritas

Sentuhan praktis AI juga dirasakan Alexia Valerie Wibowo. Mahasiswi Desain Komunikasi Visual (DKV) ini membuktikan bahwa teknologi mampu memangkas pekerjaan teknis yang membosankan. Melalui fitur Nano Banana, proses penyuntingan gambar kini jauh lebih ringkas.

"Waktu kuliah AI for Design, saya pakai fitur itu untuk menghapus objek yang mengganggu di latar belakang foto. Jauh lebih cepat daripada harus melakukan masking manual di Photoshop, dan hasilnya tetap tajam," kata Alexia yang sempat mencicipi pelatihan intensif di kantor pusat Google Indonesia, Jakarta.

Meski kemudahan ada di depan mata, integritas tetap menjadi batas tegas. Innani Fiddinillah, mahasiswi Manajemen Bisnis Digital, mengingatkan bahwa ketergantungan total pada mesin adalah jebakan berbahaya. Bagi Innani, kendali penuh harus tetap berada di tangan manusia.

Baca juga: BEST PLN Nusantara Power Raih Lestari Award 2025: Bukti Sukses Konservasi PLTA Berbasis Kecerdasan Buatan

"Sekitar 90 persen aktivitas akademik sekarang memang bersinggungan dengan AI. Tapi kita wajib bijak. Kreativitas itu milik kita, AI hanya alat supaya ide tadi tertuang lebih presisi," tutur Innani.

Selama setahun ke depan, ketiga mahasiswa ini mendapatkan akses eksklusif ke fitur Gemini Pro secara gratis. Fasilitas ini menjadi modal mereka untuk melakukan riset dan menyebarkan konten edukatif bagi komunitas mahasiswa di Surabaya.

Bagi talenta digital lainnya, peluang serupa segera menyusul. Pendaftaran gelombang kedua Google Student Ambassador rencananya dibuka kembali pada akhir Februari 2026 untuk memperluas jaringan edukasi teknologi di Indonesia.

Editor : Alim Kusuma

Photo
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru