SURABAYA, iNFONews.ID – Lanskap teknologi Jawa Timur baru saja mencapai titik didih baru. Melalui gelaran FlutterFusion Conference 2026, ratusan pengembang perangkat lunak berkumpul di Auditorium Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya (Institut STTS) untuk membedah arah baru dunia pemrograman yang kini disetir penuh oleh kecerdasan buatan (AI) dan ekosistem Cloud.
Sabtu (21/2), atmosfer inovasi terasa kental saat kolaborasi antara GDGoC ISTTS, GDG Surabaya, dan komunitas Flutter Surabaya ini resmi dibuka.
Bukan sekadar ajang kumpul rutin, konferensi bertajuk "The Vibe: Connection & Community" ini menjadi panggung pembuktian bahwa talenta digital Surabaya siap adu mekanik di level internasional.
"Kami merancang ruang ini agar ide murni bertemu kolaborasi nyata. Targetnya jelas, ekosistem developer Surabaya harus semakin solid dan mampu menembus batas kerja sama global," tegas Profesor Esther Irawati Setiawan, Kepala Prodi Sistem Informasi Bisnis ISTTS sekaligus Google Developer Expert (GDE) bidang AI/ML.
Satu sorotan yang mencuri perhatian adalah paparan Joshua De Guzman. GDE asal Filipina ini membawa konsep Agentic Coding ke hadapan audiens.
Dengan mengandalkan Antigravity dan Gemini 3 Pro, ia mendemonstrasikan bagaimana proses menulis baris kode kini bergeser menjadi lebih intuitif dan otomatis.
Teknologi ini diprediksi bakal mengubah cara kerja developer dalam membangun aplikasi mobile berbasis Flutter, membuatnya jauh lebih efisien dibandingkan metode konvensional.
Namun, kecanggihan tersebut menuntut benteng pertahanan yang kuat. Haidar Zamzam dari CISDI mengingatkan bahwa ancaman siber di era AI kian agresif.
Ia membedah strategi pengamanan aplikasi yang wajib diterapkan developer agar data pengguna tetap steril dari serangan.
Di sisi lain, Ibnu Sina Wardy memperkenalkan Vibe Coding, sebuah pendekatan segar yang membuat aplikasi jauh lebih adaptif terhadap perilaku pengguna.
Konferensi ini juga menjadi babak penentuan bagi para inovator muda dalam ajang FlutterFusion Competition.
Para mahasiswa terpilih naik ke panggung untuk melakukan pitching karya mereka di depan dewan juri. Hal ini membuktikan bahwa riset kampus kini sudah mampu menghasilkan solusi praktis yang layak masuk pasar industri.
Esther menilai sinergi ini merupakan kunci utama pertumbuhan teknologi. Kehadiran pakar seperti Joan Santoso yang mengupas implementasi model AI langsung pada perangkat (on-device ML), hingga Sidiq Permana yang mendalami Server Driven UI, memberikan peta jalan yang jelas bagi peserta mengenai standar industri yang berlaku saat ini.
Dengan suksesnya ajang ini, Surabaya kembali memvalidasi posisinya sebagai motor penggerak inovasi digital di Indonesia.
Masa depan coding bukan lagi soal menunggu instruksi, melainkan tentang seberapa cepat developer lokal beradaptasi dengan kemudi AI yang terus melaju.
Editor : Alim Kusuma