SURABAYA, iNFONews.ID - Lokasi ini menjadi tempat yang pertama di Indonesia, yakni 'Proses Penggilingan Tradisional Ishiusu Langsung di Tempat yang disajikan dengan Menyuguhkan dan Menjamin Keaslian Rasa, yakni Kamogawa Matcha. Secara resmi pembukaan gerai yang pertama di Kota Surabaya dilakukan dengan sederet rangkaian acara khas yang menarik, di Beverly Shopping Arcade, Pakuwon City, Surabaya Timur, Jumat (23/1/2026).
"Dan, hanya di tempat ini kita juga suguhkan satu-satunya alat penggilingan original Matcha bernama Ishi Ushu, yang didatangkan dari Jepang, karena istri saya yang orang Jepang, bisa menjelaskan kepada leluhur dan mereka untuk membawa alat penggilingan ini ke Indonesia," urai Nogo Purnomo yang juga owner Kamogawa Matcha.
Suami dari Chisato Toyama itu mengurai, jalan panjang ia telateni hingga berdirinya lokasi usaha di Surabaya.
"Kafe ini bukan sekadar destinasi kuliner baru, melainkan sebuah jembatan budaya yang membawa warisan autentik dari Kyoto, Jepang yang di racik oleh Kaoru Watanabe, Chef Matcha dari Jepang, langsung ke tengah masyarakat Indonesia, tentunya warga Kota Surabaya," ujar ayah remaja bernama, Rio Purnomo yang turut hadir di prosesi acara, pagi itu.
Perkenalan Kamogawa Matcha (Versi dengan Penjelasan Urasenke). Nama Kamogawa Matcha mengandung kenangan berharga dari tempat asal owner Kamogawa Matcha (Chisato), yaitu Kyoto.
"Chisato lahir pada tahun 1981 di rumah keluarga ibu di Kyoto, dan sejak kecil, saya sering diajak berjalan di sepanjang Sungai Kamogawa oleh kakek, nenek, buyut, dan ibu saya," kenangnya, menyampaikan.
Kamogawa adalah salah satu sungai paling terkenal di Kyoto—tempat yang indah dan sangat berarti bagi saya.
Keluarga saya telah terhubung dengan budaya tradisional Jepang selama beberapa generasi.
Almarhum kakek dan buyut saya adalah guru upacara teh dari aliran Urasenke,
yaitu salah satu sekolah upacara teh Jepang yang paling terkenal dan berpengaruh, dengan sejarah lebih dari 400 tahun. Urasenke dikenal karena mengajarkan seni menyajikan teh hijau atau Matcha dengan penuh ketenangan, keindahan, dan tata cara yang sangat halus.
Di pihak keluarga ayah, ada juga yang menjadi guru upacara teh dan Ikebana atau seni merangkai bunga Jepang.
"Nilai-nilai inilah yang membentuk pemahaman dan kecintaan saya tentang matcha dan budaya Jepang," tegasnya.
Sementara, untuk Logo Kamogawa Matcha menggunakan Kamon, yaitu lambang keluarga dari pihak ayah. Kamon adalah simbol tradisional Jepang yang mewakili sebuah keluarga atau garis keturunan—
mirip seperti “logo keluarga.” Dahulu digunakan pada pakaian samurai, Kimono, bendera perang, dan berbagai peralatan
sebagai penanda yang diwariskan turun-temurun.
"Melalui café ini, saya ingin menghormati budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur saya. Dan, saya berharap masyarakat Indonesia dapat menikmati aroma dan cita rasa matcha autentik
Jepang, yang dibuat dengan kualitas dan tradisi yang sama seperti di Kyoto," terangnya.
Teknologi Tradisional, Ini, menjadi yang pertama di Indonesia Untuk menjamin kualitas yang tanpa kompromi. Kamogawa Matcha menjadi satu-satunya di Indonesia yang mendatangkan langsung mesin
giling batu tradisional Jepang yang disebut Ishi-usu.
Kesegaran Mutlak, Dengan daun teh Matcha pilihan didatangkan langsung dari Jepang dan digiling secara fresh di lokasi.
Kualitas Autentik, proses penggilingan dengan batu langka ini memastikan aroma dan cita rasa yang dihasilkan identik dengan matcha kualitas tertinggi di Jepang. (*)
Editor : Tudji Martudji