SURABAYA, iNFONews.ID – Ancaman cuaca ekstrem yang mengguyur wilayah Jawa Timur tengah memicu kekhawatiran di kalangan legislatif dan pemerintah daerah.
Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, M. Hadi Setiawan atau akrab disapa Cak Hadi, mengingatkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim agar tidak meremehkan anomali iklim yang berpotensi mengganggu produksi padi nasional.
Sebagai lumbung pangan utama Indonesia, Jawa Timur memikul tanggung jawab besar dalam menjamin ketahanan pangan.
Baca juga: Jatim Rawan Bencana, Sri Untari Desak Mitigasi Masuk Kurikulum Sekolah
Saat ini, tanaman padi di banyak wilayah telah memasuki masa krusial, sehingga ketidakpastian cuaca menjadi tantangan serius.
“Jawa Timur ini lumbung padi paling dasar bagi pangan nasional. Dengan produksi yang sangat tinggi, cuaca ekstrem sekarang tentu bisa mengancam padi yang siap panen. Ini harus menjadi perhatian serius,” tegas Cak Hadi dalam keterangannya.
Politisi dari Partai Golkar ini juga menegaskan bahwa situasi saat ini harus menjadi momentum bagi Pemprov Jatim untuk mengubah strategi tanam menjadi lebih adaptif.
Baca juga: Siaga Cuaca Ekstrem, Golkar Jatim Gerakkan Kader Lakukan Mitigasi Bencana
Menurutnya, perlu diperkuat sarana dan prasarana pertanian serta memanfaatkan teknologi prediksi cuaca yang ada.
“Musim dan pola cuaca itu bisa diprediksi. Langkah antisipasi harus konkret agar petani tidak merugi,” imbuhnya.
Kekhawatiran Cak Hadi tidak tanpa dasar. Data menunjukkan bahwa pada Oktober 2025 lalu, cuaca ekstrem menyebabkan sekitar 3.000 hektar lahan sawah di Pasuruan dan Bojonegoro mengalami puso (gagal panen).
Meskipun angka tersebut cukup mencolok, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim, Heru Suseno, menyatakan bahwa dampaknya terhadap total produksi tahunan masih dapat dikendalikan.
Ia menjelaskan bahwa sebagian besar lahan yang terdampak sudah melewati masa panen utama, dan bantuan telah disalurkan ke wilayah yang terkena dampak.
“Genangan air akibat hujan belakangan ini dilaporkan cepat surut, sehingga kerusakan signifikan masih bisa dihindari. Namun, kami tetap waspada penuh karena masa panen raya sudah dekat,” jelas Heru.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa cuaca ekstrem akan berlangsung hingga awal Februari 2026, hanya sekitar satu bulan sebelum Panen Raya yang jatuh pada Maret mendatang.
Baca juga: DPRD Jatim Dukung Tito: Pejabat Jangan Pelesiran, Fokus Urus Rakyat!
Saat ini, publik terus mengawasi langkah nyata yang akan diambil Pemprov Jatim untuk melindungi hasil kerja keras petani dan menjaga stabilitas pangan rakyat.
Editor : Alim Kusuma