SURABAYA, iNFONews.ID – Lantunan dzikir dan sholawat kembali menggema di kawasan Bratang Gede, Sabtu (13/12/2025) malam.
Ratusan kader Gerakan Pemuda (GP) Ansor berkumpul di Masjid Al Maghfiroh, bukan sekadar untuk ritual mingguan, melainkan membangun kembali "benteng spiritual" pemuda di tengah hiruk-pikuk tantangan perkotaan.
Baca juga: Lawan Ruang Gelap Informasi, GP Ansor Jatim Kawal Transparansi Desa
Agenda ini menandai kembalinya rutinan Majelis Dzikir dan Sholawat (MDS) Rijalul Ansor Wonokromo.
Diinisiasi oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor setempat, kegiatan ini menjadi oase bagi para kader untuk menepi sejenak dari rutinitas duniawi dan kembali mengisi ulang energi batin mereka.
Ketua PAC GP Ansor Wonokromo, M. Ulum, menegaskan bahwa konsistensi adalah kunci. Ia tidak ingin organisasi kepemudaan ini hanya sibuk dengan urusan administratif atau politik, tetapi kosong dari nilai spiritual.
"Ini adalah benteng kami. Rutinitas ini bukan sekadar kewajiban organisasi, tapi sarana membersihkan hati dan menanamkan cinta mendalam kepada Rasulullah SAW," tegas Ulum di hadapan para kader.
Berbeda dengan perkumpulan biasa, majelis ini menolak berhenti pada aspek seremonial.
Usai dzikir yang dipimpin M. Krisnah (Ketua MDS Rijalul Ansor) untuk mendoakan para pendiri Nahdlatul Ulama (NU), forum berlanjut pada kajian kitab Mabadi' Fiqh.
Pengkajian kitab kuning ini menjadi sinyal kuat bahwa Ansor Wonokromo ingin mencetak kader yang tidak hanya saleh secara spiritual, tetapi juga matang secara intelektual.
Baca juga: Membawa Pulang 'Ruh' Syaichona Cholil, Ikhtiar 1.000 Santri Menjaga Keselamatan Bangsa
Pemahaman hukum agama (fiqh) dasar menjadi bekal penting bagi anggota Banser dan Ansor saat terjun mendampingi masyarakat.
Malam itu, suasana kekeluargaan tampak kental. Hadir di tengah para santri, Komandan Koramil 0830-17 Wonokromo, Mayor Inf. Abdul Muntholib.
Kehadiran unsur TNI ini menyiratkan pesan solidaritas yang kuat antara penjaga agama dan penjaga negara dalam merawat kondusivitas wilayah.
Apresiasi mendalam juga datang dari Ketua Tanfidziah MWC NU Wonokromo, H. Abdul Kholiq. Ia melihat hidupnya kembali majelis ini sebagai denyut nadi organisasi yang vital.
Menurutnya, karakter asli perjuangan Ansor terletak pada keseimbangan antara aksi lapangan dan kekuatan doa.
Baca juga: Wujud Hubbul Wathon, Puluhan Banser Sawahan Amankan Gereja di Surabaya
"Menghidupkan majelis sama artinya dengan memperkuat persaudaraan kita. Ini cara kita menyebarkan Islam yang damai, rahmatan lil alamin, sekaligus membangun kekuatan kader di level akar rumput (grassroots)," ujar Kholiq memberikan motivasi.
Dengan kembali aktifnya MDS Rijalul Ansor, Kecamatan Wonokromo kini memiliki wadah reguler bagi anak muda untuk berekspresi secara positif.
Harapannya sederhana: mencetak generasi yang tidak hanya cinta pada agama, tetapi juga berdedikasi penuh pada bangsa dan negeri.
Laporan: Eric Setyo Pambudi
Editor : Alim Kusuma