PBNU Memanas, Kiai Sepakat Tolak Isu Pemakzulan Gus Yahya

Reporter : Eric Setyo Pambudi
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf saat konferensi pers usai melaksanakan Silaturahim Alim Ulama di kantor PBNU Jakarta, Minggu (23/11/2025) malam. (Foto: NU Online/Suci).

JAKARTA, iNFONews.ID – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergerak cepat merespons gejolak internal terkait isu pemakzulan Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).

Reaksi ini muncul setelah beredarnya risalah Rapat Harian Syuriah yang mengusulkan Gus Yahya mundur dari jabatannya.

Dalam Silaturahim Alim Ulama yang digelar di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Minggu (23/11/2025) malam, sekitar 60 kiai dari berbagai daerah menghasilkan tiga kesepakatan penting.

Baca juga: Gus Kikin Bawa Kabar Segar, PWNU Jatim Adem di Tengah PBNU Gaduh

Kesepakatan ini menjadi landasan untuk menepis isu pemakzulan dan pengunduran diri di tubuh organisasi.

Katib Aam PBNU, KH Said Asrori, yang bertindak sebagai moderator pertemuan, menjelaskan bahwa forum ini menghasilkan masukan kolektif untuk menjaga marwah jam'iyah dan memastikan kepengurusan berjalan kondusif.

"Semua sepakat bahwa ada masalah, tetapi semuanya ingin diselesaikan dengan cara-cara yang baik. Ini poin pertama," ujar Kiai Said Asrori.

Berikut adalah tiga poin utama hasil silaturahim tersebut:

1. Serukan Islah Lewat Silaturahim Akbar

PBNU akan segera menggelar silaturahim akbar yang melibatkan lebih banyak ulama sepuh dan kiai.

Pertemuan ini bertujuan menjadi wadah islah dan rekonsiliasi atas polemik yang telah menjadi perhatian publik.

2. Tolak Pemakzulan

Para ulama dengan tegas menolak segala bentuk pemakzulan atau pengunduran diri terhadap Rais Aam, Ketua Umum, maupun pengurus lainnya.

Mereka sepakat kepengurusan PBNU di bawah kepemimpinan Gus Yahya dan Rais Aam KH Miftachul Akhyar harus berjalan hingga akhir masa jabatan.

Baca juga: Tok! Prof Nuh Jabat Katib Aam, PBNU Siapkan Reposisi Menuju Muktamar

“Semua sepakat, tidak ada pemakzulan, tidak ada pengunduran diri. Kepengurusan harus sempurna sampai Muktamar yang akan datang,” tegas Kiai Said.

3. Ajakan Tafakur dan Munajat Bersama

Para kiai mengajak seluruh warga NU untuk melakukan tafakur dan munajat (doa bersama) demi kebaikan organisasi, warga NU, dan bangsa Indonesia.

Mereka memohon petunjuk Allah SWT agar diberikan jalan keluar terbaik.

Gus Yahya sendiri menanggapi isu yang beredar dengan tenang. Ia menegaskan bahwa tidak ada keputusan pemecatan di dalam organisasi.

Baca juga: Gus Yahya Bongkar Keganjilan Keputusan Syuriyah: Jangan Runtuhkan Tatanan KH. Hasyim

Ia juga menegaskan bahwa setiap pernyataan atau dokumen, termasuk risalah Rapat Harian Syuriah, harus diukur berdasarkan konstitusi dan AD/ART PBNU.

"Tidak ada pemecatan. Rais Aam tidak pernah memecat orang. Segala sesuatu harus diukur dengan konstitusi organisasi," kata Gus Yahya.

Sebagai informasi, Rapat Harian Syuriah PBNU yang menjadi sumber polemik dilaksanakan pada Kamis (20/11/2025) di Jakarta.

Risalah rapat tersebut memuat usulan agar Gus Yahya mengundurkan diri dan ditandatangani oleh Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar. Dokumen ini kemudian tersebar luas pada Jumat (21/11/2025).

Untuk menindaklanjuti kesepakatan para kiai, PBNU berencana menggelar pertemuan lanjutan dengan skala yang lebih besar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Laporan: Eric Setyo Pambudi

Editor : Alim Kusuma

Photo
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru