ISLAH Jadi Solusi Pengurangan Risiko Bencana di Kabupaten Mojokerto

infonews.id
Membahas pentingnya ISLAH Menjadi Solusi dalam Pengurangan Risiko Bencana (IN/PHOTO: DOK SEKOLAH AIR HUJAN)

MOJOKERTO, INFONews.ID - Upaya pengurangan risiko bencana di wilayah Kabupaten Mojokerto terus digalakkan melalui inovasi dan kolaborasi berbagai pihak. Salah satu langkah yang diwujudkan melalui kegiatan diskusi bertema “ISLAH Menjadi Solusi dalam Pengurangan Risiko Bencana” yang dilaksanakan 4 Oktober 2025, di Pasar Keramat, Desa Wonokerto, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. 

 

Baca juga: Hotel Neo Waru Sidoarjo Gelar Serangkaian Acara Sosial di HUT ke-7

Sebagai tindak lanjut Program CSR nya Perbankan Bank Nasional Indonesia (BNI) yang bertepatan di bulan Pengurangan Resiko Bencana 2025. 

 

Kegiatan ini dihadiri oleh Sri Wahyuningsih bersama Tim nya dari Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman-DIY, perwakilan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Mojokerto, Aminudin (Mas Amin) perwakilan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), relawan penggiat lingkungan, serta perwakilan penerima manfaat program ISLAH. Forum ini menjadi wadah penting dalam membahas inovasi pengelolaan air sebagai bagian dari strategi mitigasi bencana.

 

Dalam diskusi tersebut, Komunitas Banyu Bening menjelaskan mengenai ISLAH (Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan), yaitu program berkelanjutan yang dikembangkan sebagai solusi atas permasalahan ketersediaan air bersih di masyarakat. 

 

"ISLAH mengusung konsep lumbung air yang berfungsi menampung dan mengelola air hujan untuk dimanfaatkan masyarakat secara mandiri, terutama di wilayah yang rentan mengalami kekeringan maupun banjir," urai Sri Wahyuningsih.

 

Baca juga: Gus Yahya Bongkar Keganjilan Keputusan Syuriyah: Jangan Runtuhkan Tatanan KH. Hasyim

Program ISLAH rencananya akan diterapkan di tiga titik desa di Kabupaten Mojokerto, yaitu di Balai Desa Ngrame, SMK Pesantren Kunjorowesi, serta FPRB Desa Wonokerto, Kecamatan Pacet yang di Komandani Saiful Anam (Cak Anam). 

 

Ketiga desa tersebut memiliki permasalahan air yang beragam, mulai dari keterbatasan sumber air bersih saat musim kemarau, kurangnya manajemen pengelolaan air oleh masyarakat, hingga persoalan banjir yang kerap terjadi pada musim penghujan.

 

"Melalui penerapan ISLAH, diharapkan masyarakat dapat memiliki sistem pengelolaan air yang berkelanjutan dan tangguh terhadap perubahan iklim serta potensi bencana," lanjut Bu Ning sapaan Sri Wahyuningsih.

Baca juga: UNNES Gelar Kajian Fenomena Sosial di Sekolah Air Hujan Yogyakarta

 

Perwakilan Komunitas Banyu Bening menegaskan, program ini tidak hanya berfokus pada penyediaan air, tetapi juga pada peningkatan kapasitas dan kesadaran masyarakat dalam menjaga sumber daya air.

 

Komunitas Banyu Bening berharap implementasi ISLAH di ketiga desa tersebut dapat menjadi contoh bagi desa-desa lainnya di wilayah Mojokerto dan sekitarnya, sehingga ke depan tercipta jaringan desa tangguh air yang mampu mengelola sumber daya air secara mandiri dan berkelanjutan. (*)

Editor : Tudji Martudji

Photo
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru