SURABAYA, iNFONews.ID - Sampai saat ini, obrolan warung kopi terus berkisar tentang ketiga pasangan capres dan cawapres melalui "quick count" begitu menggebu.
Perbincangan terus mengalir dari harga sembako yang terus naik, semakin mencekik rakyat. Tak luput dibahas "server" KPU yang tidak berada di dalam negeri, tetapi terhubung di negara RRT, Perancis, dan Singapura.
Baca juga: Respon Kenaikan Harga Beras Gubernur Jatim Minta Bupati Sidoarjo Koordinasi dengan Bulog
Termasuk juga tentang demo, hak angket dan "impeachment". Khas obrolan warung kopi, mereka bebas saja menilai ketiga pasangan capres dan cawapres.
Dengan segala pujian dan cacian tajamnya, masing-masing dikuliti. Umumnya mereka mengkritisi dan menguliti habis nama-nama yang dikenal, tapi justru kurang berprestasi.
Baca juga: Harga Beras Indonesia Dua Kali Lipat Vietnam, Mafia Pupuk Jadi Tersangka?
Obrolan waung kopi ini selalu menjadi menarik, dan tidak bisa diremehkan. Mengapa? Karena di situlah jantung dan nafas masyarakat yang paling menentukan.
Tulisan ini, bersikap objektif dan mencoba dengan baik mendengar suara masyarakat bawah lewat obrolan warung kopi dengan harapan pelaksanaan demokrasi kita menjadi lebih baik.
Baca juga: Budaya Eskapis
Banyak pakar politik menyatakan, bahwa warung kopi adalah salah satu media partisipasi publik paling bisa dipercaya.
Di sana opini personal akan menjadi opini publik melalui partisipasi dalam debat publik yang bebas dan adil, serta terbuka bagi semua. Warung kopi bisa menjadi wadah pengontrol pemerintahan, serta wadah beredarnya informasi publik. (*)
Editor : Redaksi