Renungan Ramadhan

Flexing Vs Healing

infonews.id
Dr. Lia Istifhama, MEI. Wakil Sekretaris MUI Jatim (Foto: IN/ist)

Dr. Lia Istifhama, MEI. Wakil Sekretaris MUI Jatim

INFOnews.id | Surabaya - Flexing, istilah pamer kemewahan melalui sosial media yang kini nge trend dan banyak diperbincangkan publik. Flexing memang bisa meng-influence orang lain untuk menunjukkan bahwa seseorang tersebut layak disegani dan dipercaya karena kekayaan materinya.

Namun, flexing saat ini lambat laun menjadi kontroversi, seiring dengan banyaknya oknum yang harus menanggung resiko akibat kebiasaannya memamerkan kekayaan. Sebut saja keluarga Rafael Alun yang selalu disorot public akibat ulah keji Mario Dandy, putranya.

Selain itu, beberapa crazy rizh seperti Wahyu Kenzo dan Bayu Walker, pun akhirnya menuai hukuman setelah berbagai kasus penipuan yang dilakukan mereka, terbongkar. Mudahnya seseorang memiliki sifat flexing, tak lain disebabkan dangkalnya pengetahuan seseorang sehingga tindakan yang dilakukan tidak mencerminkan akal sehat dalam mempertimbangkan konsekuensi dan dampak atas perilakunya.

Apalagi, flexing ternyata bisa dimiliki oleh siapapun yang sejatinya hanya mampu memamerkan kekayaan yang kamuflase, yaitu samar atau tidak sesuai realita. Kamuflase kekayaan demi ‘memantaskan diri’, tentu bertujuan menarik simpati dan kepercayaan dari orang lain.

Dalam bisnis misalnya, flexing kekayaan dinilai tepat untuk membangun personal branding seseorang sebagai wadah tepat berinvestasi, seperti kasus robot trading ATG Wahyu Kenzo. Dalam sebuah hadis diterangkan:

“Ada tiga perkara yang membinasakan yaitu hawa nafsu yang dituruti, kekikiran yang dipatuhi, dan seorang yang membanggakan dirinya sendiri.” (HR. Ath-Thabrani dan Anas).

Membanggakan diri sendiri atau flexing, tentunya menunjukkan butanya hati dari seseorang, karena flexing merupakan ‘uswatun sayyiah’, yaitu contoh atau kebiasaan buruk yang bertentangan dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah dan tidak memberikan kemanfaatan bagi orang lain, melainkan berpotensi membuat orang lain berkecil hati.

Memprihatinkan tentunya, karena flexing hanyalah mengaburkan makna sesungguhnya dari kekayaan, yang dalam sebuah hadis diterangkan: عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبَيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلٰكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ.

Dari Abu Hurairah ra. Nabi Saw. bersabda:

“Kaya itu bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kaya itu adalah kaya hati. (Shahih Bukhari). Sedangkan kekayaan harta benda merupakan kefanaan yang dalam waktu sekejap, bisa sirna atas izin Allah SWT. Dipertegas dalam sebuah hadis, bahwa sikap pamer memiliki konsekuensi pada hubungan manusia dengan Sang Pencipta (Hablum minannas):

“Dari Ibnu Umar R.A., bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Allah tidak akan melihat orang yang menjuntai pakaiannya terseret dengan sombong." (Muttafaq Alaihi).

Sebaliknya, dalam mengisi bulan suci Ramadhan kali ini, akan sangat penting bagi kita untuk sepenuhnya menghindari sikap flexing maupun karakter lain yang membinasakan hati, melainkan menjadikan ibadah sebagai healing.

Healing atau penyembuhan diri, menjadi hal penting bagi setiap manusia karena tidak ada satupun manusia yang tidak pernah memiliki konflik batin dalam dirinya sendiri.

Healing inilah yang dapat diartikan sebagai proses muhasabah di bulan suci. Muhasabah atau self reflection, menjadi support system bagaimana seseorang mengambil hikmah dari setiap hal yang dihadapi.

Rasa syukur, ikhlas, dan tawakkal dapat terwujud jika seseorang mampu membedakan hal baik dan buruk. Termasuk saat ditimpa musibah ataupun kesulitan, muhasabah akan membuka mata hati seseorang bahwa saat kesulitan berakhir, disitulah ia merasakan indahnya rasa syukur tatkala menemui kemudahan.

Muhasabah tersebut kemudian menjadi proses healing yang mana seseorang belajar memaafkan dirinya sendiri atas segala kesalahan ataupun keluh kesah yang dihadapinya. Muhasabah pula, yang kemudian mampu menyadarkan seseorang bahwa flexing maupun hal lain yang mencerminkan hawa nafsu maupun ujub (sombong), kelak hanyalah mendatangkan penyesalan karena kesemua itu tidak pernah kekal (abadi).

Menjadikan ibadah sebagai proses healing atau penyembuhan hati untuk menjadi lebih baik, merupakan supported system agar manusia pun memiliki kesehatan raga, seperti yang diterangkan dalam sebuah hadis: Sebagaimana Sabda Rasulullah saw, “Ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh ini ada segumpal daging. Bila ia baik maka akan baik seluruh tubuh dan apabila ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging tersebut adalah hati.” (Shahih Al-Bukhari).

Maka, di bulan suci Ramadhan 1444 H saat ini, marilah kita berdoa seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW dalam sebuah hadis: Dari Quthbah Ibnu Malik ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Ya Allah, jauhkanlah diriku dari kejelekan akhlak, perbuatan, hawa nafsu, dan penyakit." (HR. Tirmidzi).

Editor : Tudji Martudji

Photo
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru