SURABAYA, INFONews.ID – Pertumbuhan arus peti kemas sepanjang Januari–September 2026 menjadi sinyal positif bagi aktivitas perdagangan dan logistik di Jawa Timur. Hal itu disampaikan Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) Jawa Timur, Sebastian Wibisono, Senin (2/11/2026).
Menurut Wibisono, kenaikan volume peti kemas menunjukkan kebutuhan pengiriman barang, khususnya untuk kegiatan ekspor dan impor, terus meningkat. Salah satu faktor pendorongnya adalah semakin kuatnya konektivitas pelayaran internasional, yang terlihat dari meningkatnya kunjungan kapal internasional nonreguler di Terminal Teluk Lamong.
Baca juga: Akses Peta Persebaran Real Time Secara Luas Sudah Terbuka, Ini Caranya
“Penambahan layanan dan kunjungan kapal ini memberikan lebih banyak pilihan pengiriman bagi pelaku usaha sekaligus membuka peluang untuk menjangkau pasar internasional,” ujarnya.
Wibisono juga mengapresiasi langkah PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) yang meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan. Di Terminal Petikemas Surabaya (TPS), misalnya, Pelindo menambah empat unit Quay Container Crane (QCC) dan 14 unit Rubber Tyred Gantry (RTG).
Namun, ia menekankan bahwa peningkatan kapasitas harus diimbangi dengan kecepatan bongkar muat, kepastian jadwal kapal, kelancaran keluar-masuk peti kemas, serta biaya logistik yang kompetitif. “Dengan begitu, aktivitas logistik di Jawa Timur dapat berjalan semakin lancar dan mampu mendukung daya saing industri serta perdagangan, baik di pasar domestik maupun internasional,” katanya.
Sementara itu, pengamat logistik Puspandam menilai pertumbuhan arus peti kemas internasional sebesar 10,34 persen belum cukup menjadi bukti meningkatnya daya saing perdagangan nasional. Pertumbuhan tersebut perlu dibandingkan dengan data ekspor-impor Badan Pusat Statistik (BPS), komposisi peti kemas ekspor dan impor, volume peti kemas isi dan kosong, serta perkembangan nilai perdagangan.
Puspandam juga menyoroti dinamika rute pelayaran internasional, termasuk penggunaan kembali Terusan Suez secara bertahap oleh sejumlah perusahaan pelayaran di tengah risiko keamanan di Laut Merah. Perubahan rute tersebut, menurutnya, dapat memengaruhi jaringan pelayaran dan distribusi barang.
“Tantangan terbesar ke depan adalah menghindari growth without network efficiency. Artinya, volume peti kemas bertambah, tetapi biaya, waktu, dan ketidakpastian distribusi di luar terminal tidak ikut menurun,” tegasnya.
Dengan demikian, pertumbuhan volume peti kemas perlu diikuti peningkatan efisiensi jaringan logistik secara keseluruhan agar benar-benar memperkuat daya saing produk dan perdagangan Indonesia. (*)
Editor : Tudji Martudji