Ekonomi Jatim Tumbuh 5,72 Persen, UOB Perkuat Strategi Investasi Personal

Reporter : Edy
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak saat berbicara dalam Market Outlook UOB Indonesia di Surabaya.

INFONEWS.ID - Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang mencapai 5,72 persen pada kuartal II 2026 menjadi angin segar bagi sektor pengelolaan kekayaan atau wealth management. Namun, tekanan inflasi dan ketidakpastian pasar membuat strategi investasi tak bisa lagi diseragamkan untuk setiap nasabah.

Kondisi tersebut mendorong PT Bank UOB Indonesia memperkuat pendekatan personal dalam layanan investasi bagi nasabah prioritas. Kebutuhan, tujuan finansial, hingga profil risiko nasabah menjadi pertimbangan utama dalam menentukan strategi investasi.

Baca juga: Bank Jatim Perkuat Sinergi dengan Dinas Pendidikan se-Jatim

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak mengatakan, pertumbuhan ekonomi Jatim semakin menegaskan peran provinsi tersebut sebagai salah satu penopang perekonomian nasional. Kontribusi ekonomi Jawa Timur tercatat lebih dari 14 persen terhadap perekonomian Indonesia.

Bahkan, nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur mencapai sekitar Rp930 triliun dalam satu kuartal. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang sektor manufaktur dan perdagangan.

Meski demikian, Emil mengingatkan adanya tantangan dari sisi inflasi. Inflasi Jawa Timur tercatat 3,32 persen secara tahunan pada Agustus 2026.

Menurut Emil, kondisi tersebut perlu dicermati karena sektor manufaktur cukup sensitif terhadap perubahan biaya produksi, termasuk kenaikan harga bahan bakar dan energi.

“Jika solusi inflasi hanya menaikkan suku bunga, perekonomian bisa terpukul dua kali. Kita harus jeli melihat potensi hambatan pasokan, bukan sekadar mengandalkan instrumen suku bunga,” kata Emil dalam agenda Mid Year 2026 Market Outlook UOB Indonesia di Surabaya, Senin (14/9/2026) malam.

Di tengah dinamika ekonomi tersebut, UOB Indonesia menilai pengelolaan investasi membutuhkan pendekatan yang lebih personal. Nasabah dengan kondisi keuangan, tujuan, dan tingkat risiko yang berbeda membutuhkan strategi yang berbeda pula.

Head of Consumer Banking UOB Indonesia Herman Soesetyo mengatakan, pihaknya mulai meninggalkan pola penawaran produk investasi yang bersifat umum dan beralih ke pendekatan client centric.

Rekomendasi investasi, kata dia, disusun berdasarkan kebutuhan, tujuan finansial, serta profil risiko masing-masing nasabah prioritas.

Baca juga: KSPSI Perkuat Solidaritas dengan NUBE di Malaysia

“Satu orang benar-benar menjadi titik kontak bagi nasabah. Mulai dari konsultasi investasi, urusan kartu kredit, hingga administrasi, semuanya ditangani secara terpusat dan personal,” ujar Herman.

Pendekatan tersebut diperkuat dengan kehadiran client advisor yang menjadi penghubung utama nasabah dalam berbagai kebutuhan layanan perbankan.

Head of Deposit & Wealth Management UOB Indonesia Emillya Soesanto menambahkan, strategi investasi juga perlu menyesuaikan dengan tahapan kehidupan masing-masing nasabah.

Karena itu, rekomendasi investasi tidak diberikan sebelum kondisi dasar dan kebutuhan finansial nasabah dipahami.

“Kami tidak melulu berbicara tentang produk. Kami membedah tujuan finansial dan tingkat risiko, baru setelah itu memberikan masukan yang akurat,” tutur Emillya.

Baca juga: Mulai 18 Agustus, Layanan BRI Unit Lontar Surabaya Beroperasi di Jalan Raya Lontar 82

Selain layanan yang lebih personal, UOB Indonesia memanfaatkan infrastruktur digital untuk mendukung aktivitas investasi nasabah prioritas. Lebih dari separuh nasabah prioritas UOB saat ini secara rutin melakukan transaksi investasi dan memantau portofolio melalui platform digital.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, edukasi mengenai perkembangan pasar juga menjadi bagian penting dalam layanan wealth management. Pembaruan informasi secara berkala diharapkan membantu nasabah memahami dinamika pasar sebelum mengambil keputusan investasi.

Dengan menggabungkan layanan personal, teknologi digital, dan edukasi pasar, UOB Indonesia memperkuat strategi wealth management agar nasabah dapat mengelola portofolio berdasarkan tujuan finansial dan profil risiko masing-masing.(sur)

 

Editor : Alim Kusuma

Photo
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru