Oleh: Ulul Albab
Akademisi FIA Unitomo Surabaya
Ketua ICMI Jatim (2021-2026)
HARI itu akhirnya datang. Nama Anda dipanggil melalui pengeras suara. Dengan langkah perlahan, Anda berjalan menuju panggung. Toga hitam yang beberapa saat lalu terasa biasa, di hari itu mendadak menjadi begitu bermakna.
Di hadapan Anda berdiri pimpinan perguruan tinggi yang menyerahkan ijazah dengan senyum dan ucapan selamat. Tepuk tangan bergema memenuhi ruangan.
Dari kejauhan, seseorang melambaikan tangan sambil menahan haru. Mungkin ayah. Mungkin ibu. Mungkin keduanya.
Beberapa detik kemudian, kamera mengabadikan momen penting yang telah anda perjuangkan selama bertahun-tahun. Setelah itu Anda lalau turun dari panggung. Wisuda berakhir. Tapi sesungguhnya, pada detik itulah kehidupan anda baru dimulai.
Tidak ada lagi dosen yang mengingatkan tenggat tugas. Tidak ada lagi jadwal kuliah yang mengatur hari-hari Anda. Tidak ada lagi indeks prestasi yang menjadi ukuran keberhasilan.
Mulai hari itu, dunia akan menguji Anda dengan ukuran penilaian baru, yaitu: “integritas, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, keberanian mengambil keputusan, dan keteguhan memegang nilai ketika tidak ada seorang pun yang sedang menilai.”
Di sinilah banyak orang sering keliru memahami makna wisuda. Sebagian menganggap wisuda adalah garis akhir. Sebuah tanda bahwa perjuangan telah selesai. Padahal, wisuda sebenarnya adalah perpindahan ruang belajar.
Dari ruang kuliah di kampus pindah ke ruang kehidupan nyata. Kampus telah selesai membimbing Anda melalui kurikulum. Kini kehidupanlah yang akan menjadi dosen anda berikutnya.
Dunia nyata tidak pernah memberikan soal pilihan ganda.
Dunia nyata menghadirkan persoalan yang sering kali tidak memiliki satu jawaban benar. Dalam perjalanan itu, tidak ada lagi pengawas ujian yang memastikan Anda berlaku jujur.
Tidak ada lagi lembar nilai yang menunjukkan apakah keputusan Anda benar atau salah. Yang ada hanyalah konsekuensi dari setiap pilihan yang Anda ambil.
Karena itu, ijazah sesungguhnya bukanlah hadiah atas keberhasilan yang kita capai di beberapa tahun masa lalu. Ijazah adalah amanah untuk masa depan.
Saya sering membayangkan, andai setiap para wisudawan berhenti sejenak sebelum meninggalkan aula tempat wisuda, lalu bertanya kepada dirinya sendiri, "Untuk apa ilmu yang telah saya pelajari?" Mungkin pertanyaan itu akan jauh lebih menentukan daripada pertanyaan, "Di mana saya akan bekerja?"
Pekerjaan adalah tempat kita berkarya. Tetapi tujuan hidup adalah alasan mengapa kita berkarya. Keduanya tidak selalu sama.
Baca juga: Ketika Sesal Kemudian Bukannya Tidak Berguna
Hari ini, Anda mungkin sedang sibuk menyiapkan lamaran kerja. Besok, mungkin Anda akan mulai memasuki kantor pertama, membuka usaha sendiri, melanjutkan studi, atau memilih jalan pengabdian yang lain.
Semua itu adalah pilihan yang baik. Namun apa pun jalan yang Anda pilih, jangan pernah lupa bahwa bangsa ini membutuhkan lebih dari sekedar orang-orang yang pintar. Indonesia membutuhkan manusia yang dapat dipercaya.
Negeri ini memerlukan lebih banyak profesional yang tidak mudah menyerah, pemimpin yang tidak menyalahgunakan kekuasaan, ilmuwan yang menjaga kejujuran akademik, pengusaha yang bertumbuh bersama masyarakat, birokrat yang melayani, guru yang menginspirasi, dan warga negara yang meyakini bahwa keberhasilan pribadi tidak pernah boleh dipisahkan dari kemajuan bangsanya.
Itulah sebabnya saya menulis buku dengan judul “19 Tahun Menuju Indonesia Emas 2045: Panduan Lulusan Perguruan Tinggi Untuk Menjadi Pemimpin Masa Depan”.
Bukan untuk mengajari Anda bagaimana menjadi orang sukses dalam waktu singkat. Saya tidak memiliki rumus seperti itu. Saya hanya ingin menemani perjalanan Anda.
Perjalanan yang mungkin akan dipenuhi kegagalan, keberhasilan, keraguan, keberanian, kehilangan, harapan, dan berbagai keputusan yang pada akhirnya membentuk siapa diri Anda. Perjalanan itu akan berlangsung selama sembilan belas tahun (menuju Indonesia emas 2045).
Hari ini mungkin Anda memang benar-benar sedang mengenakan toga. Sembilan belas tahun dari sekarang, Indonesia akan merayakan seratus tahun kemerdekaannya.
Baca juga: 2021–2026: Indonesia Tidak Kekurangan, Berita Korupsi
Pada saat itu, Anda tidak lagi disebut sebagai lulusan baru. Anda mungkin telah menjadi pemimpin sebuah perusahaan, dosen yang membimbing generasi berikutnya, dokter yang melayani ribuan pasien, hakim yang memutus perkara dengan adil, pengusaha yang membuka lapangan kerja, kepala daerah yang memimpin masyarakat, atau mungkin seseorang yang bekerja dengan tenang tanpa pernah muncul di layar televisi tetapi setiap hari memberi manfaat bagi banyak orang.
Apa pun profesi Anda kelak, ada satu pertanyaan akan tetap sama. Yaitu: Apakah selama sembilan belas tahun itu Anda hanya membangun kehidupan untuk diri sendiri, atau ikut membangun masa depan Indonesia?
Buku saya tadi tidak akan memberikan semua jawaban. Namun saya berharap, di setiap bab, kita dapat berjalan bersama, bertanya bersama, belajar bersama, dan bertumbuh bersama.
Karena sesungguhnya, sejak Anda melangkah turun dari panggung wisuda hari itu, sejarah pribadi Anda dan sejarah Indonesia mulai berjalan beriringan.
Selamat datang di perjalanan sembilan belas tahun menuju Indonesia Emas. Mari kita melangkah.
Editor : Alim Kusuma