Senin, 06 Jul 2026 16:27 WIB

Berawal dari Salah Klik, Dua Murid SD Cikal Tembus Kompetisi AI Global

Dua siswa kelas 4 SD Cikal Lebak Bulus, Raffa dan Tara. INPhoto/ SD Cikal
Dua siswa kelas 4 SD Cikal Lebak Bulus, Raffa dan Tara. INPhoto/ SD Cikal

JAKARTA, INFONEWS.ID - Dua siswa kelas 4 SD Cikal Lebak Bulus, Raffa dan Tara, membuktikan bahwa usia muda bukan halangan untuk menguasai teknologi mutakhir. Lewat kreativitas pemrograman, mereka sukses menyabet medali perunggu (Bronze Medal) dalam kompetisi AI internasional Codeavour 7.0. 

Keduanya menciptakan game edukasi interaktif berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang dirancang khusus guna membantu mengatasi masalah obesitas pada anak-anak.

Langkah Raffa dan Tara menuju panggung dunia bermula dari rasa ingin tahu yang besar. Ketertarikan tersebut terasah berkat program Multilevel Learning Program (MLP) di sekolah mereka, yang memberi ruang bagi murid untuk mengeksplorasi dunia digital sejak dini.

Raffa menceritakan, perkenalannya dengan dunia coding terjadi secara tidak sengaja sewaktu berselancar di internet. Ia menemukan Scratch, sebuah platform pemrograman blok gratis.

"Waktu mencari kata kunci lain di Google, muncul rekomendasi platform tersebut. Saya penasaran, lalu membukanya. Di sana banyak game dan ada tombol untuk berkreasi. Saya langsung mencoba menyusun blok-blok kode untuk membuat sesuatu," kenang Raffa.

Sementara bagi Tara, dunia pemrograman sudah menjadi kegemaran tersendiri sejak duduk di bangku kelas 1 SD. Rasa sukanya pada teknologi terus tumbuh hingga ia memutuskan kembali mendalami kelas coding saat menginjak kelas 4.

Kolaborasi keduanya kemudian melahirkan sebuah proyek inovatif di ajang Codeavour 7.0, sebuah platform kompetisi global tempat anak-anak dari 10 negara bertanding merakit program menggunakan PictoBlox dan Python.

Alih-alih sekadar membuat permainan pengisi waktu luang, Raffa dan Tara memilih mengangkat isu kesehatan yang dekat dengan keseharian masyarakat, yakni tingginya angka obesitas.

"Kami memodifikasi konsep permainan retro Pac-Man. Kami membaca data bahwa ada sekitar 42 persen orang di dunia menghadapi masalah berat badan berlebih. Game ini dibuat agar anak-anak tahu mana makanan yang sehat dan mana yang tidak. Kalau karakter dalam game mengonsumsi makanan tidak sehat, poin pemain langsung berkurang," papar mereka.

Proses merancang sistem ini tentu tidak berjalan instan. Tara mengaku sempat dihinggapi rasa takut apabila proyek yang mereka bangun berujung kegagalan atau mengalami eror. Namun, tantangan teknis itu ia sikapi sebagai ruang pendewasaan diri agar tampil lebih percaya diri.

Begitu pula dengan Raffa yang kerap memanfaatkan platform YouTube secara mandiri demi mencari solusi tutorial saat struktur kode yang ia susun terhapus atau mengalami kendala.

Di samping mengasah logika berpikir, kompetisi global tersebut melatih kematangan emosional kedua bocah ini. Bekerja dalam satu tim memaksa mereka menurunkan ego, menyatukan ide, serta menjaga ritme komunikasi demi target bersama.

"Kuncinya ada pada kerja sama yang baik dan konsistensi menjaga kekompakan tim. Pola belajar di sekolah membantu kami terbiasa menghadapi tantangan baru yang berguna bagi masa depan," pungkas Raffa dan Tara.

Editor : Alim Kusuma