Jumat, 03 Jul 2026 20:41 WIB

Ini Alasan Belanda Hobi Nanam Pohon Asam Jawa di Pinggir Jalan

Pohon Asam Jaya ditanam di sepanjang jalan (IN/PHOTO: IST)
Pohon Asam Jaya ditanam di sepanjang jalan (IN/PHOTO: IST)

SURABAYA, INFONews.ID – Melintasi jalan-jalan tua peninggalan masa kolonial di Indonesia, Anda mungkin masih kerap menjumpai deretan pohon Asam Jawa (Tamarindus indica) yang tumbuh besar dan rindang di pinggir jalan. Pohon yang kini menjadi pemandangan biasa ini ternyata bukan sekadar tanaman hias atau peneduh semata. Pada era pemerintahan kolonial Belanda, pohon Asam Jawa sengaja ditanam secara masif di sepanjang jalur transportasi utama karena memiliki banyak keunggulan strategis.

Salah satu bukti paling nyata adalah sepanjang Jalan Raya Pos (Grote Postweg) yang menghubungkan Anyer di Banten hingga Panarukan di Jawa Timur. Jalan sepanjang hampir 1.000 kilometer ini dibangun atas perintah Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada awal abad ke-19. Pohon Asam Jawa menjadi salah satu “fasilitas” penting yang ditanam di sepanjang rute tersebut.

Mengapa Belanda Memilih Pohon Asam Jawa?

Pemerintah kolonial Belanda melihat pohon Asam Jawa memiliki karakter yang sangat sesuai dengan kebutuhan infrastruktur jalan saat itu. Beberapa keunggulannya antara lain:

Batang kuat dan akar yang menghunjam dalam

Pohon ini sulit tumbang meski diterpa angin kencang atau hujan deras, sehingga aman untuk ditanam di tepi jalan.

Umur panjang dan adaptif

Asam Jawa mampu tumbuh subur di berbagai jenis tanah dan tahan terhadap perubahan cuaca ekstrem, mulai dari musim kemarau panjang hingga musim hujan deras.

Tajuk lebar sebagai peneduh alami

Pada masa itu, perjalanan darat masih mengandalkan kuda, kereta, dan jalan kaki yang memakan waktu berhari-hari. Daun Asam Jawa yang rindang memberikan tempat berteduh bagi pekerja, pedagang, pasukan militer, dan pelintas lainnya dari terik matahari tropis.

Selain fungsi praktis, pohon ini juga memiliki manfaat ekologis yang signifikan. Sistem perakarannya yang kuat membantu mencegah erosi tanah di pinggir jalan, sementara kemampuannya menyerap air menjaga keseimbangan hidrologi. Pohon Asam Jawa juga menghasilkan oksigen dalam jumlah besar dan menjadi habitat serta sumber makanan bagi berbagai satwa liar.

Warisan yang Masih Bertahan

Hingga kini, meski banyak kawasan telah berubah menjadi jalan modern yang ramai, sebagian pohon Asam Jawa peninggalan masa kolonial masih berdiri kokoh di berbagai daerah di Jawa. Keberadaannya tidak hanya menjadi penanda sejarah, tetapi juga simbol ketahanan dan kearifan lingkungan masa lalu.

Di masyarakat Jawa, pohon Asam Jawa juga memiliki nilai budaya. Pohon ini sering dikaitkan dengan simbol ketenangan dan ketertarikan. Kehadirannya di pinggir jalan lama seolah mengingatkan kita pada perjalanan panjang sejarah Indonesia.

Pohon Asam Jawa di pinggir jalan memiliki beberapa fungsi utama:

Tempat Teduh – Daun lebar melindungi pejalan kaki dan pengguna jalan dari panas matahari.

Penahan Erosi – Akar kuat menjaga struktur tanah.

Tahan Lama – Bisa hidup puluhan hingga ratusan tahun di berbagai kondisi tanah.

Warisan tanaman kolonial ini menjadi pengingat bahwa pembangunan infrastruktur di masa lalu tidak hanya memikirkan mobilitas, tetapi juga kenyamanan dan kelestarian lingkungan. 

Menyajikan fakta sejarah dan cerita di balik warisan Indonesia

Terkait asam Jawa, media ini juga mengulik jenis pohon lainnya yang juga menjadi ikon atau ciri khusus, bagi si penanam, misalnya jenis pohon sawo. Pohon sawo diantaranya dipakai simbol oleh sebagian kecil masyarakat Jawa untuk "tetenger" si empunya rumah adalah tokoh penting, atau minimal punya posisi jabatan. 

"Saya mendapat cerita dari Mbah saya, disampaikan jika di depan rumahnya ada pohon sawo, itu merupakan tetenger atau tanda pemilik rumah bukan orang biasa. Itu identitas, tapi identitas itu disembunyikan agar penjajah tidak mengenali," ungkap Mbah Tjokro warga Sidoarjo. (*)

Editor : Tudji Martudji