Lima Proyek Besar Kebangkitan, dari Wacana Menuju Gerakan: Langkah-Langkah yang Tidak Bisa Ditunda

Krisis intelektual publik tak cukup dijawab dengan seminar. INPhoto: Ilustrasi/Gemini
Krisis intelektual publik tak cukup dijawab dengan seminar. INPhoto: Ilustrasi/Gemini

MENGELUHKAN krisis selalu lebih mudah daripada merumuskan jalan keluarnya. Setelah membaca dua tulisan sebelumnya tentang bagaimana intelektual publik, termasuk di kalangan umat Islam, kian tergerus oleh kepentingan kekuasaan dan kapital, pertanyaan yang paling layak diajukan bukan lagi "mengapa ini terjadi", melainkan "apa yang harus kita lakukan sekarang".

Untuk membalikkan keadaan yang memprihatinkan ini, dibutuhkan lebih dari sekadar khotbah dan seminar. Dibutuhkan peta jalan yang konkret, terukur, dan bisa dimulai sejak hari ini, terutama dalam konteks Indonesia yang sedang berpacu menuju visi Indonesia Emas 2045. 

Ada lima proyek besar yang, jika dijalankan secara konsisten, bisa menjadi titik balik kebangkitan umat untuk memenuhi takdirnya sebagai khairu ummah, umat terbaik yang memberi manfaat nyata bagi semesta.

Pertama: Berani Mengakui Masalah Secara Jujur

Langkah paling sulit selalu yang paling mendasar: mengetahui secara persis persoalan ekonomi, sosial, dan lingkungan yang dihadapi Indonesia dalam jangka panjang. Ini menuntut kerelaan besar untuk unlearn dan relearn, meninjau ulang apa yang selama ini dipercaya sebagai kebenaran. 

Banyak keyakinan yang kita pegang erat ternyata adalah hasil dari narasi yang dibangun oleh kepentingan tertentu, bukan dari analisis jujur terhadap kenyataan di lapangan.

Ambil satu contoh konkret. Rasio Gini Indonesia, yang menggambarkan tingkat ketimpangan pendapatan, masih bertengger di angka 0,381 per September 2024 menurut data Badan Pusat Statistik. 

Angka itu tidak akan pernah membaik selama kita menolak mengakui bahwa sistem ekonomi yang berjalan saat ini memang disadari atau tidak, dirancang untuk menghasilkan ketimpangan semacam itu. Solusi tidak akan pernah datang dari pihak yang justru diuntungkan oleh dipertahankannya sistem tersebut.

Kedua: Memetakan Ilmu yang Benar-Benar Dibutuhkan

Setelah persoalan dikenali dengan jujur, langkah berikutnya adalah mencari state of the art ilmu pengetahuan terkait persoalan tersebut, lalu menganalisis kesenjangannya dengan apa yang sudah diketahui dan dipraktikkan di Indonesia. 

Ini bukan sekadar mengimpor teori dari Barat, melainkan secara aktif merumuskan peta jalan ilmu pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan bangsa di masa depan, lengkap dengan pembagian tugas dan sumber daya yang diperlukan. Ilmu yang tidak relevan, atau bahkan menghambat masa depan Indonesia yang gemilang, harus berani ditinggalkan.

Ketiga: Merajut Sinergi Lintas Disiplin

Proyek ketiga inilah yang paling transformatif secara struktural: menemukan ruang bagi sinergi antara ulama dan para intelektual dari berbagai latar belakang lewat pendekatan transdisipliner. 

Transdisipliner bukan sekadar memadukan banyak cabang ilmu, melainkan membuka pintu bagi siapa saja, petani, nelayan, pedagang pasar, ibu rumah tangga, aktivis komunitas untuk menyumbangkan pengetahuannya yang sama validnya dengan pengetahuan akademis. 

Kesediaan untuk saling berbagi ilmu antar disiplin dan antar pihak, yang dilandasi kemaslahatan jangka panjang, harus menjadi budaya baru. Di titik inilah ulama sebagai intelektual publik sejati benar-benar disemai.

Keempat: Membangun Jembatan, Bukan Tembok

Ilmu pengetahuan yang tidak dikomunikasikan adalah ilmu pengetahuan yang sudah mati sejak lahir. Proyek keempat adalah membangun mekanisme komunikasi yang memastikan gagasan para ulama dan intelektual publik bisa dipahami masyarakat luas, lewat media massa tradisional maupun media sosial. 

Pada tahap awal, ini membutuhkan fungsi "penerjemah" antara dua kelompok besar: masyarakat awam dan kalangan terpelajar. 

Namun pada akhirnya, para ulama dan intelektual itu sendiri harus berlatih menyesuaikan bahasanya, agar bisa langsung dipahami tanpa perlu perantara. Sekat apa pun yang memisahkan mereka dari masyarakat harus diruntuhkan.

Kelima: Membuktikan, Bukan Sekadar Berwacana

Proyek terakhir, yang paling praktis namun paling sering diabaikan, adalah membangun model atau percontohan yang membuktikan bahwa kerja sama transdisipliner antara ulama, intelektual, dan masyarakat luas memang benar-benar mendatangkan kemaslahatan. 

Mencari "buah yang menggantung rendah", hal-hal yang relatif mudah dipanen lebih dulu, sangat penting untuk memupuk harapan bahwa persoalan-persoalan lain yang lebih besar juga bisa diselesaikan. 

Salah satu contohnya adalah rintisan program pemberdayaan desa berbasis pendampingan akademik yang kini mulai dijalankan di beberapa titik percontohan sebuah model kecil yang, jika berhasil, bisa direplikasi ke ratusan desa lainnya.

Ini bukan agenda jangka pendek. Ini investasi peradaban yang hasilnya mungkin baru terasa satu generasi mendatang.

Tapi tanpa memulainya hari ini, kita tidak akan pernah tiba di sana. Dan sejarah, seperti yang selalu diingatkan para pendahulu kita, tidak menunggu mereka yang hanya pandai berwacana.

Kelima proyek ini saling bertaut satu sama lain, dan tidak satu pun bisa dijalankan secara terpisah dari yang lain. Mengakui masalah secara jujur tanpa memetakan ilmu yang relevan hanya akan menghasilkan keluhan tanpa arah. 

Memetakan ilmu tanpa sinergi transdisipliner hanya akan menghasilkan tumpukan kertas akademis yang tak pernah turun ke lapangan.

Dan sinergi tanpa jembatan komunikasi serta model yang terbukti hanya akan berhenti sebagai diskusi di ruang seminar berpendingin udara, jauh dari denyut kehidupan masyarakat yang sesungguhnya membutuhkan jawaban.

Penulis: Pitono Nugroho
Sekretaris ICMI Orwil Jatim
Direktur Social Investment Indonesia
Alumni Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) Lemhannas RI Angkatan 25 Tahun 2025

Editor : Alim Kusuma