Oleh: Tri Prakoso, S.H., M.HP.
Alumni Fakultas Hukum Universitas Jember
Ada Sebuah Paradoks di Dalam Batin Manusia
ADA sebuah paradoks yang menghuni relung-relung batin manusia. Ia tak kasatmata, namun menggema dalam setiap detak jantung yang lelah, setiap hembusan napas yang tertahan, dan setiap sudut sunyi yang hanya dikunjungi oleh tangis tanpa suara. Paradoks itu bernama sabar dan tenang.
Dua kata yang kerap kita ucapkan dalam satu tarikan napas, seolah keduanya kembar, seolah keduanya hanya sinonim dari ketabahan. Namun para pencinta Tuhan mereka yang telah menyelami samudra jiwa hingga ke dasarnya yang paling gelap mengetahui bahwa di antara sabar dan tenang terbentang jarak metafisik yang sangat dalam.
Seorang arif pernah berbisik, merangkai untaian kata yang tampak sederhana, tetapi bila direnungkan, mampu membedah anatomi ruhani manusia hingga ke lapisan yang paling rahasia. Syair itu berbunyi:
"Sabar dan tenang itu sesuatu yang sama tapi berbeda. Tenang adalah tidak ada pergerakan, sedang sabar adalah sebaliknya, berarti gerakan atau perbuatan. Kalau kita merujuk kalimah Innallaha ma'a al-shabirin, 'Allah menyertai orang-orang yang sabar'. Sedangkan Allah tempat-Nya ada dalam hati, maka sabar tempatnya dalam hati, bisifatillah. Hati yang sabar menjalani hidup. Tenang berarti diam, dan diam adalah keadaan bagi nasib. Tiada perbuatan kecuali kehendak Allah, maka tenang ada di dalam jiwa. Jiwa yang tenang adalah jiwa yang tidak tergores oleh cerita hidup kita."
Mari memasuki syair ini bukan dengan ketergesaan akal yang ingin segera menyimpulkan, melainkan dengan lentera kalbu yang bergetar. Biarkan ia menetes perlahan ke dalam kesadaran kita, seperti air yang meresap ke tanah kering dan menumbuhkan benih-benih makna yang selama ini tertidur.
Sebab syair ini bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah isyarah, petunjuk halus dari alam yang tak terucapkan, yang hanya dapat ditangkap oleh jiwa yang rindu.
Paradoks di Kedalaman
"Sabar dan tenang itu sesuatu yang sama tapi berbeda."
Pembukaan ini merupakan sebuah sentakan lembut yang membangunkan kesadaran. Bagaimana mungkin sesuatu yang sama bisa berbeda? Bagaimana mungkin dua hal yang berbeda dapat disebut sama?
Inilah bahasa kaum sufi, bahasa yang sengaja meretakkan tembok logika agar cahaya dapat masuk melalui celah-celahnya. Bagi para pengembara ruhani, paradoks adalah pintu menuju hakikat. Sebab kebenaran tertinggi tidak pernah dapat dikurung dalam rumus hitam-putih. Ia selalu hadir sebagai coincidentia oppositorum—kesatuan dari hal-hal yang tampak bertentangan.
Sabar dan tenang memang sama dalam satu hal: ketiadaan gejolak yang tampak di permukaan. Baik orang yang sabar maupun yang tenang tidak memperlihatkan kegelisahan secara lahiriah. Wajah mereka laksana permukaan danau yang tak terusik angin.
Namun, siapa pun yang menyelam ke kedalamannya akan menemukan perbedaan yang hakiki.
Di dasar danau orang yang sabar terdapat arus yang deras: perjuangan tanpa henti, pertempuran melawan gejolak batin, serta gerakan menahan dan mengendalikan diri yang menguras seluruh kekuatan ruhani.
Sementara di dasar danau orang yang tenang hanya ada diam. Diam yang bukan kekosongan, melainkan kepenuhan. Diam yang menjadi keadaan bagi nasib.
"Tenang adalah tidak ada pergerakan, sedang sabar adalah sebaliknya, berarti gerakan atau perbuatan."
Betapa bertolak belakangnya kalimat ini dengan persepsi umum. Bukankah selama ini kita mengira sabar adalah diam? Bukankah kita sering berkata, “Aku hanya bisa diam dan bersabar”?
Namun sang arif membalik pemahaman itu.
Sabar adalah gerakan. Sabar adalah perbuatan. Ia merupakan aktivitas hati yang sangat dahsyat, sebuah jihad akbar yang tidak kalah berat dibandingkan peperangan di medan laga.
Sebaliknya, tenang adalah diam. Namun diam yang dimaksud bukanlah pasif atau lemah. Ia adalah keadaan ketika gerakan tidak lagi diperlukan karena seseorang telah sampai pada titik penerimaan yang sempurna.
Untuk memahami hal ini, kita perlu memasuki dua wilayah batin yang berbeda: hati dan jiwa.
Dalam antropologi tasawuf, hati (qalb) adalah pusat kesadaran Ilahi dalam diri manusia. Ia merupakan singgasana Tuhan dalam mikrokosmos insan. Sementara jiwa (nafs) adalah entitas yang terus berayun antara tarikan cahaya hati dan tarikan dunia materi.
Hati adalah tempat ma'rifat. Jiwa adalah medan mujahadah.
Dan di antara keduanya terbentang perjalanan panjang yang harus ditempuh oleh setiap musafir ruhani.
Sabar: Ketika Hati Bergerak dalam Sifat-Nya
"Innallaha ma'a al-shabirin."
Allah menyertai orang-orang yang sabar.
Ayat ini merupakan salah satu janji Allah yang paling menenangkan sekaligus paling misterius. Apa arti kebersamaan Allah dengan orang-orang yang sabar?
Bagi para sufi, kebersamaan (ma'iyyah) tersebut bukan sekadar metafora. Ia adalah realitas ruhani yang dapat dirasakan, dihayati, bahkan disaksikan.
Al-Qusyairi dalam Al-Risalah al-Qusyairiyyah menjelaskan bahwa kebersamaan ini adalah ma'iyyah khashshah, kebersamaan khusus yang membawa pertolongan, peneguhan, dan kedekatan spiritual.
Apabila Allah menyertai orang yang sabar, dan Allah bersemayam dalam hati hamba yang beriman, maka sabar pun bertempat di hati.
Karena itu, hati adalah rumah bagi kesabaran.
Namun kesabaran yang dimaksud bukanlah kesabaran biasa. Ia adalah kesabaran bisifatillah, kesabaran yang meneladani sifat Allah.
Allah memiliki nama Al-Shabur, Yang Maha Sabar.
Ketika seorang hamba bersabar, sesungguhnya ia sedang bertakhalluq dengan sifat tersebut. Dalam pandangan para sufi, kesabaran sejati bukanlah milik manusia. Kesabaran sejati hanyalah milik Allah. Maka ketika seorang hamba mampu bersabar dengan sebenar-benarnya, yang tampak bukan lagi dirinya, melainkan tajalli dari sifat Al-Shabur.
Hamba hanyalah cermin.
Dan pada cermin itu, yang tampak adalah pantulan sifat-Nya.
Di sinilah letak gerakan itu.
Sabar adalah gerakan hati menuju Allah. Ia adalah harakah, aktivitas ruhani yang terus berlangsung.
Al-Ghazali dalam Ihya' Ulum al-Din mendefinisikan sabar sebagai keteguhan dorongan agama dalam menghadapi dorongan hawa nafsu.
Di dalam hati orang yang sabar selalu terjadi pergulatan.
Nafsu berteriak:
"Mengeluhlah. Marahlah. Putus asalah."
Sementara iman berbisik:
"Bertahanlah. Dia bersamamu. Semua ini berasal dari Kekasihmu."
Sabar adalah gerakan menahan diri. Gerakan bertahan. Gerakan untuk tetap tegak di tengah badai.
Karena itu, sabar bukanlah keadaan pasif. Ia adalah jihad batin yang terus berlangsung.
Tenang: Diamnya Jiwa dalam Kehendak-Nya
Jika sabar adalah gerakan hati, maka tenang adalah diamnya jiwa.
"Tenang berarti diam, dan diam adalah keadaan bagi nasib."
Diam di sini bukanlah kebungkaman karena ketidakberdayaan. Ia adalah sukun, keheningan yang mantap dan tak tergoyahkan.
Nasib yang dimaksud adalah qadha dan qadar Allah yang mengalir dalam setiap detik kehidupan manusia.
Di sinilah rahasia ketenangan bersemayam.
Jiwa yang tenang adalah jiwa yang telah berhenti melawan ombak kehidupan.
Ia tidak lagi bertanya mengapa ujian ini datang. Ia tidak lagi membandingkan takdirnya dengan takdir orang lain. Ia telah memahami bahwa semua ombak berasal dari samudra yang sama.
Dan samudra itu adalah Tuhannya.
Karena itu ia diam.
Ia menerima.
Bukan menerima dalam arti menyerah kalah, melainkan menerima karena telah menyaksikan bahwa segala sesuatu berjalan atas kehendak Allah.
Inilah inti dari tauhid af'al.
Dalam maqam ini, seorang salik menyaksikan bahwa tidak ada pelaku sejati selain Allah. Segala sesuatu yang terjadi, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan, berasal dari kehendak-Nya.
Ketika kesadaran ini meresap sempurna ke dalam jiwa, lahirlah ketenangan.
Sebab bagaimana mungkin seseorang gelisah terhadap sesuatu yang diyakininya berasal dari Kekasih?
Jiwa yang Tidak Tergores oleh Cerita Hidup
Puncak syair ini terletak pada kalimat berikut:
"Jiwa yang tenang adalah jiwa yang tidak tergores oleh cerita hidup kita."
Betapa dalam maknanya.
Cerita hidup adalah seluruh rangkaian pengalaman yang kita jalani: cinta, kehilangan, kegagalan, keberhasilan, sakit, perpisahan, dan kematian orang-orang yang kita cintai.
Bagi jiwa yang belum tenang, setiap pengalaman meninggalkan goresan. Goresan itu bisa berupa luka, dendam, trauma, penyesalan, maupun kesombongan.
Namun bagi jiwa yang tenang, semua cerita itu seperti tulisan di atas air.
Ia hadir, tetapi tidak membekas.
Ia terjadi, tetapi tidak mengikat.
Jiwa tetap bening. Tetap jernih. Tetap diam dalam kehendak-Nya.
Titik Temu: Ketika Gerak Menjadi Diam dan Diam Menjadi Gerak
Pada awalnya, sabar dan tenang tampak sebagai dua hal yang berbeda.
Sabar adalah gerakan. Tenang adalah diam.
Sabar adalah ikhtiar. Tenang adalah taslim.
Namun pada puncak perjalanan ruhani, keduanya bertemu.
Seorang arif yang telah mencapai ketenangan jiwa tetap bersabar. Akan tetapi, kesabarannya tidak lagi terasa sebagai perjuangan yang melelahkan.
Ia bersabar bukan karena dirinya kuat, melainkan karena sifat Al-Shabur memancar melalui dirinya.
Gerakannya adalah gerakan-Nya.
Diamnya adalah diam-Nya.
Pada titik ini, sabar dan tenang menyatu dalam maqam al-jam', keadaan ketika dualitas melebur dan yang tampak hanyalah Yang Satu.
Ia bergerak dalam diam.
Dan diam dalam gerak.
Ketika berusaha, usahanya adalah kepasrahan.
Ketika pasrah, kepasrahannya adalah usaha yang paling agung.
Penutup: Kepada Jiwa yang Haus Ketenangan
Pembaca yang budiman, syair yang kita renungkan ini sesungguhnya adalah cermin. Ia memantulkan kondisi batin kita masing-masing.
Sudahkah kita bersabar dengan hati yang benar-benar bergerak menuju-Nya?
Ataukah kesabaran kita hanya menjadi topeng yang menutupi gejolak yang belum selesai?
Sudahkah kita mencapai ketenangan dengan jiwa yang tidak lagi tergores oleh cerita hidup?
Ataukah kita hanya diam karena tidak berdaya, bukan karena telah fana dalam kehendak-Nya?
Jalan menuju ketenangan adalah perjalanan panjang. Ia dimulai dari sabar gerakan hati yang terus-menerus menundukkan hawa nafsu dan mengarahkan seluruh potensi diri kepada Allah.
Jangan berhenti bersabar.
Jangan lelah bergerak.
Sebab dalam setiap langkah kesabaran itu terdapat kebersamaan Allah.
Innallaha ma'a al-shabirin.
Dan ketika kebersamaan itu meresap sempurna ke dalam jiwa, ketika kesaksian bahwa tidak ada perbuatan selain kehendak Allah menjadi pandangan yang menetap, maka ketenangan akan datang dengan sendirinya.
Seperti sungai yang akhirnya mencapai laut.
Seperti musafir yang akhirnya tiba di rumah.
Pada saat itu, seluruh cerita hidup yang pahit maupun yang manis akan melebur dalam satu kesadaran:
Bahwa semuanya berasal dari Dia, berjalan dengan Dia, dan kembali kepada Dia.
Semoga kita semua, para musafir di jalan ini, diizinkan mengecap setitik dari ketenangan tersebut. Setitik yang cukup untuk membuat kita terus bersabar, terus bergerak, hingga akhirnya tiba di samudra tanpa nama.
Di sana tiada lagi gerak dan diam.
Tiada lagi sabar dan tenang.
Yang ada hanyalah Dia.
Dia.
Dan itu sudah cukup.
Lebih dari cukup.
Abadi.
Wallahu a'lam bi al-shawab.
Editor : Alim Kusuma