Sabtu, 06 Jun 2026 13:03 WIB

Beri Khalayak Apa yang Mereka Mau, Haruskah?

iNPhoto: Ilustrasi/Gemini
iNPhoto: Ilustrasi/Gemini

Oleh: Soeparli D. Atmadji
Mantan Wartawan
Pengamat dan Penyuka Film

“You forgot the first rule of mass media, Elliot give the people what they want.” Penggemar James Bond mestinya tidak asing dengan kalimat ini. Benar, kalimat itu diucapkan James Bond sesaat sebelum membunuh raja media Elliot Carver dalam film Tomorrow Never Dies (1997).

Sindiran agen rahasia Inggris dengan kode 007 itu rasanya aneh. Sebab, bukankah Carver justru berusaha memenuhi kemauan khalayak? Berita perang umumnya diminati audiens. Jadi, dia “menciptakan” perang.

Menciptakan? Bisa dibilang begitu. Dalam film ini, Carver mencuri rudal Inggris, lalu menembakkannya ke China. Diharapkan, China membalas lalu perang pecah. Dan, begitu perang pecah, media-media di bawah Carver akan mendapatkan berita eksklusif. Sebab, berita tentang perang tersebut sudah disiapkan sejak perang belum terjadi.

Jadi, bukankah Carver sesungguhnya justru telah melaksanakan apa yang oleh Bond disebut sebagai “aturan pertama” media massa tersebut?

Anda mungkin bilang, “Tapi, berita perang itu kan hasil rekayasa?”

Memang. Dan, justru karena itu, saya mempertimbangkan kemungkinan kedua. Jangan-jangan sindiran Bond tersebut dimaksudkan sebagai peringatan? Peringatan betapa doktrin give the people what they want berpotensi membuat media “merekayasa” berita demi memenuhi mau khalayak?

Kalau betul sindiran Bond tadi dimaksudkan sebagai peringatan, itu tentu menarik. Sebab, film ini dirilis pada 1997, ketika saat itu media sosial (medsos) belum seramai sekarang.

Toh, Tomorrow Never Dies telah mengingatkan agar media massa perlu ekstra hati-hati jika memaksakan doktrin give the people what they want. Terutama bila doktrin itu diterapkan di ranah berita.

Sebab, setahu saya, give the people what they want memang bukan ranah berita, melainkan ranah hiburan, khususnya film. Dengan diksi sedikit berbeda, di kalangan perfilman ada ungkapan what you want is what you get, apa yang Anda mau itulah yang Anda dapatkan.

Hal itu memang tidak sulit dipahami. Biaya produksi film umumnya besar, bahkan bisa sangat besar. Jadi, kalau film yang diproduksi kemudian tidak ditonton, kerugiannya tentu sangat besar juga.

Padahal, apa yang dimaui penonton sering tidak jelas. Di kalangan film dikenal istilah demand uncertainty, ketidakpastian mau penonton. Itu sebabnya, ketika ada satu film terbukti laris, yang berarti dimaui penonton, segera dibuat sekuelnya.

Bahkan, film sejenis biasanya juga segera dibuat. Saat Superman sukses, misalnya, muncul Superman II, III, dan seterusnya. Tak hanya itu, segera muncul pula Batman, Spiderman, Iron Man, dan lain-lain.

Saya tidak tahu sejak kapan, tetapi doktrin give the people what they want itu sepertinya kian lazim di ranah berita saat ini. Apa boleh buat, memang. Media sosial telah mengubah pola konsumsi media. View dan like yang dianggap mewakili “mau khalayak” kini dijadikan acuan dalam menyajikan konten, termasuk berita.

Tentu tidak banyak (kalaupun ada) media yang sampai “merekayasa perang” seperti tergambar dalam Tomorrow Never Dies. Namun, rekayasa kecil-kecilan sering kita temukan, terutama di medsos. Memotong pernyataan tokoh, hanya menampilkan bagian yang diperkirakan bakal FYP dan mendulang banyak klik, misalnya.

Lihat pula betapa berita-berita yang diketahui mendulang viewer cukup besar seolah sengaja dibuat “tidak kunjung tamat”, terus dicarikan angle baru agar bisa dibuat terus bersambung, berjilid-jilid.

Saking sibuknya mengejar angle yang potensial mendulang view dan like, “alur” berita aslinya kadang malah terlupakan. Akibatnya, ada berita yang sampai bertahun-tahun tidak tamat-tamat.

Salahkah media massa mengejar view dan like demi keuntungan? Bisa jadi tidak. Untuk bertahan, perusahaan media memang butuh untung. Meski begitu, khusus menyangkut berita, sebagian pakar mengingatkan perlunya media menerapkan doktrin give the people what they need, bukan hanya what they want.

Saya sih mikirnya yang dasar-dasar saja, yang sederhana saja. Sebagaimana dokter yang mengemban amanat memenuhi hak atas kesehatan masyarakat, pers mengemban amanat memenuhi hak untuk tahu (the right to know), hak atas informasi.

Karena itu, sekalipun mengejar view dan like bisa dimaklumi, pers mengemban kewajiban profesional untuk menyajikan berita yang “memenuhi hak rakyat atas informasi”, bukan sekadar berita yang potensial FYP.

Berita semacam itu bisa jadi tidak cukup diminati. Namun, sekalipun hanya akan menjadi semacam “ensiklopedia”, ia perlu tetap ada. Jadi, ketika membutuhkan, khalayak bisa mencari di sana. Ia juga bisa menjadi acuan untuk menguji informasi mana yang membuat kita benar-benar informed, bukan malah tersesat di tengah belantara informasi.

Bukankah memang itu tugas pers? Bukankah itu yang membedakan pers dengan kontent kreator? Bukankah itu yang membuat wartawan, meski dengan sedikit perbedaan, dianggap profesi (bukan sekadar pekerjaan) sebagaimana dokter, pengacara, apoteker, dan guru?

Editor : Alim Kusuma