JAKARTA, iNFONews.ID - Wajah ekonomi Indonesia bersandar pada bahu pelaku usaha kecil. Saat ini, sektor UMKM menyumbang lebih dari 60 persen Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Namun, realita di lapangan menunjukkan anomali yang tajam; sekitar 99 persen pelaku usaha masih terjebak di level mikro.
Hambatan ini terasa lebih berat bagi wirausaha perempuan yang kerap terbentur tembok literasi digital, keterbatasan modal, hingga minimnya keterlibatan dalam pengambilan keputusan strategis.
Merespons ketimpangan tersebut, DANA bersama Ant International Foundation kembali menggulirkan program SisBerdaya dan DisBerdaya 2026.
Inisiatif bertajuk "Perempuan Berteknologi Membangun Bisnis & Kesetaraan" ini menargetkan keterlibatan 6.000 UMKM di seluruh Indonesia, melonjak 20 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Data INDEF 2024 menunjukkan digitalisasi bukan sekadar tren, melainkan mesin uang yang mampu mengerek omzet tahunan hingga 50 persen.
Aisyah Nur Asri, pemenang SisBerdaya 2025 melalui jenama Mad Quinn Beauty, membuktikan bahwa adopsi teknologi bisa dimulai dari langkah praktis.
"Kami menggunakan alat sederhana untuk merapikan media sosial dan mengatur landing page agar pelanggan mudah menjangkau kami. Kecerdasan buatan (AI) pun kami pakai untuk memperkaya ide pemasaran," ujar Aisyah.
Selain adopsi teknologi, riset lapangan menunjukkan bahwa pengembangan diri menjadi pembeda antara bisnis yang sekadar bertahan dan yang bertumbuh.
Inne Viryani, pemilik Riasafood, mencatat lonjakan penjualan bulanan hingga 130 persen setelah membenahi strategi bisnisnya melalui pendampingan intensif.
Keunikan program tahun ini terletak pada perluasan jangkauan ke wilayah luar Jawa dan penguatan inklusivitas bagi penyandang disabilitas.
Rani Mei Lestari, pendiri DISPROMAN Laundry sekaligus penyandang paraplegia, menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk memberdayakan sesama. Lewat usahanya, ia melatih perempuan disabilitas lainnya agar memiliki kemandirian ekonomi.
Di sisi lain, aspek keberlanjutan turut menjadi napas baru. Hj. Nurlaela melalui Cantika Sabbena kini mempekerjakan 90 persen karyawan perempuan dengan memanfaatkan limbah kain untuk memproduksi wastra khas Soppeng. Strategi ini menggabungkan pelestarian budaya Bugis dengan prinsip operasional yang ramah lingkungan.
Olavina Harahap, Director of Communications DANA, menjelaskan bahwa edisi 2026 membawa pembaruan materi.
"Kami menyuntikkan kurikulum gaya hidup finansial sehat. Tujuannya agar pelaku usaha memiliki napas panjang dan bisnis yang berkelanjutan," tuturnya.
DANA juga menyiapkan panggung bagi 30 finalis untuk menjajakan produk mereka dalam bazar bergengsi di Jakarta.
Wakil Menteri PPPA, Veronica Tan, memberikan apresiasi atas langkah ini. Menurutnya, memastikan perempuan terlibat aktif dalam ekonomi digital merupakan kunci agar tidak ada kelompok yang tertinggal dalam pembangunan nasional.
Senada dengan hal itu, Wilson Siahaan dari Ant International menegaskan bahwa dukungan teknologi bagi wirausaha perempuan berdampak domino pada kesejahteraan keluarga dan penciptaan lapangan kerja baru.
Bagi pelaku usaha yang ingin bergabung, pendaftaran dibuka mulai 1 hingga 28 April 2026. Program ini menyasar dua kategori:
1. Ultra Mikro: Pendapatan Rp1 juta – Rp10 juta per bulan.
2. Mikro: Pendapatan Rp11 juta – Rp30 juta per bulan.
Calon peserta harus sudah menjalankan usaha minimal selama enam bulan. Seluruh proses seleksi dan pelatihan yang berlangsung hingga 30 Juni 2026 ini tidak dipungut biaya alias gratis. Informasi resmi dapat diakses melalui laman s.dana.id/SISBERDAYA2026 dan s.dana.id/DISBERDAYA2026.
Editor : Alim Kusuma