Jumat, 30 Jan 2026 20:00 WIB

BIG Tawarkan Solusi Pasokan Kapur untuk 44 Smelter Nikel di Indonesia dari Tambang Pesisir Sumenep

HRM Khalilur R Abdullah Syahlawiy, Founder dan Owner Bandar Indonesia Grup (BIG). INPhoto/BIG
HRM Khalilur R Abdullah Syahlawiy, Founder dan Owner Bandar Indonesia Grup (BIG). INPhoto/BIG

SURABAYA, iNFONews.ID - Kebutuhan kapur sebagai bahan vital dalam proses produksi nikel di 44 smelter di Indonesia semakin meningkat. 

Bandar Indonesia Grup (BIG) menawarkan solusi dengan menyiapkan tambang kapur pesisir di Sumenep untuk memenuhi kebutuhan smelter nasional.

Hingga tahun 2025, tercatat 44 smelter nikel beroperasi di berbagai wilayah Indonesia, dengan konsentrasi terbesar di kawasan timur. 

Maluku Utara memimpin dengan 18 smelter, diikuti Sulawesi Tengah dengan 17 smelter, Sulawesi Tenggara dengan tiga smelter, dan Sulawesi Selatan dengan satu smelter. Semua smelter ini bergantung pada pasokan kapur untuk pengolahan nikel.

"Kapur bukan sekadar bahan pendukung. Tanpa kapur sebagai campuran utama, proses produksi di smelter tidak akan menghasilkan nikel," ujar HRM Khalilur R Abdullah Syahlawiy, Founder dan Owner Bandar Indonesia Grup (BIG), pada Jumat (16/1/2026).

Kapur digunakan dalam berbagai tahapan pemurnian, termasuk pengendalian pH, pengikatan unsur pengotor, dan peningkatan efisiensi proses metalurgi. Pasokan kapur yang berkelanjutan sangat penting untuk menjaga stabilitas industri hilirisasi nikel nasional.

Menurut Gus Lilur, panggilan HRM Khalilur R Abdullah Syahlawiy, meskipun Indonesia memiliki cadangan batu kapur yang melimpah, sebagian besar tambang kapur berada jauh dari pelabuhan laut. 

Hal ini meningkatkan biaya logistik dan memengaruhi daya saing harga, terutama bagi smelter yang berlokasi di wilayah kepulauan.

Bandar Indonesia Grup (BIG) mengatasi tantangan ini dengan mengoptimalkan tambang-tambang kapur di kawasan pesisir. 

BIG saat ini mengelola 275 tambang kapur di Jawa Timur dan Jawa Tengah, dengan puluhan lokasi tambang berada di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, yang berbatasan langsung dengan laut.

"Tambang kami di Sumenep berada tepat di tepi laut. Ini memberikan keunggulan logistik karena kapur bisa langsung dikirim melalui jalur laut ke smelter-smelter nikel di seluruh Indonesia," kata Gus Lilur.

Efisiensi distribusi menjadi kunci untuk menopang kebutuhan industri smelter yang terus berkembang. Pengiriman via laut lebih ekonomis dan berkelanjutan untuk memenuhi permintaan dalam skala besar dan jangka panjang.

Langkah BIG ini sejalan dengan agenda hilirisasi mineral yang didorong pemerintah. Dengan rantai pasok bahan baku yang lebih efisien, industri smelter diharapkan dapat meningkatkan daya saing dan menciptakan nilai tambah ekonomi bagi daerah penghasil.

"Kami ingin memastikan bahwa sumber daya alam Indonesia memberi manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat. Keadilan sosial hanya bisa terwujud jika industri berjalan efisien dan memberi dampak nyata," terangnya.

Ke depan, keberadaan pemasok kapur yang terintegrasi dengan jalur logistik laut akan menjadi faktor penentu dalam keberlanjutan industri smelter nikel nasional, terutama dengan meningkatnya permintaan global terhadap nikel sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik.

 

Editor : Alim Kusuma