LAMONGAN, iNFONews.ID – Ribuan warga Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, harus menghadapi kenyataan pahit di awal tahun 2026.
Luapan Sungai Bengawan Solo menyebabkan banjir meluas dan merendam sedikitnya 1.706 unit rumah warga yang tersebar di sejumlah kecamatan.
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, banjir terpantau sejak Senin (12/1/2026) dengan ketinggian air bervariasi, mulai dari 50 sentimeter hingga mencapai 80 sentimeter di titik terdalam permukiman.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, mengungkapkan bahwa banjir berdampak signifikan di enam kecamatan.
Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Kalitengah, Turi, Karangbinangun, Deket, dan Glagah.
Sementara itu, genangan di Kecamatan Lamongan dilaporkan mulai berangsur surut.
“Sebagian wilayah memang sudah menunjukkan penurunan debit, tetapi secara umum kondisi masih harus diwaspadai karena air Bengawan Solo terus naik,” ujar Gatot saat dikonfirmasi.
Menurut analisis Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, kawasan terdampak merupakan daerah cekungan yang secara alami rawan tergenang ketika debit sungai meningkat.
Kondisi ini diperparah oleh tingginya curah hujan dalam beberapa hari terakhir.
Petugas gabungan kini memusatkan perhatian pada pengendalian air melalui Pintu Air Kuro. Namun, langkah tersebut dilakukan dengan penuh kehati-hatian agar tidak menimbulkan dampak lanjutan.
“Penyedotan dan pembuangan air ke Bengawan Solo terus dilakukan tanpa membuka pintu air. Jika Pintu Kuro dibuka, air justru akan berbalik masuk ke Kali Bengawan Njero dan memperparah genangan di rumah warga,” jelas Gatot.
Merespons situasi tersebut, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa resmi menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi selama 14 hari ke depan.
Kebijakan ini diambil menyusul peringatan dari BMKG Juanda terkait potensi peningkatan curah hujan di wilayah Jawa Timur pada awal tahun.
Khofifah memastikan, hingga saat ini tidak ada laporan korban jiwa akibat banjir di Lamongan.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga telah mengerahkan berbagai bentuk bantuan serta menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sejak Desember 2025 sebagai upaya mitigasi.
“Upaya ini kami lakukan sebagai bentuk ikhtiar lahir, yang tentu kami iringi dengan doa dan kerja bersama di lapangan agar dampak banjir bisa ditekan,” tutur Khofifah.
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, mengikuti arahan petugas, serta segera melapor jika terjadi peningkatan debit air atau kondisi darurat di lingkungan masing-masing.
Editor : Alim Kusuma