Sabtu, 31 Jan 2026 01:26 WIB

Kabantara Grup Siap Rebut Takhta Bauksit RI dari Tangan Asing

Kabantara Grup bersiap menggelontorkan investasi fantastis senilai Rp50 triliun untuk membangun infrastruktur hilirisasi di pesisir Sumatera. INPhoto/Kabantara Grup
Kabantara Grup bersiap menggelontorkan investasi fantastis senilai Rp50 triliun untuk membangun infrastruktur hilirisasi di pesisir Sumatera. INPhoto/Kabantara Grup

SUMATERA, iNFONews.ID – Peta persaingan tambang di tanah air selama ini seolah hanya berkutat pada kepulan debu batu bara dan kilau nikel. 

Namun, di balik bayang-bayang dua komoditas tersebut, sebuah langkah raksasa sedang dipersiapkan untuk membangkitkan "raksasa tidur" mineral Indonesia: Bauksit.

Adalah Kaisar Bauksit Nusantara (Kabantara) Grup yang mengambil langkah spekulatif namun terukur. Di bawah komando HRM. Khalilur R. Abdullah Sahlawiy, perusahaan ini bersiap menggelontorkan investasi fantastis senilai Rp50 triliun untuk membangun infrastruktur hilirisasi di pesisir Sumatera.

Keputusan berani ini lahir setelah adanya lampu hijau dari Kementerian ESDM yang menjanjikan jalur prioritas Izin Usaha Pertambangan (IUP) bagi investor smelter.

“Regulasi pemerintah saat ini sangat jelas. Mereka yang berkomitmen membangun hilirisasi akan mendapatkan kepastian. Kami tidak hanya memegang izin, tapi mengamankan rantai pasok dari hulu hingga ke pabrik pengolahan,” tegas pria yang akrab disapa Gus Lilur, Rabu (31/12/2025).

Memecah Dominasi, Membangun Kemandirian Proyek ini tidak main-main. Kabantara Grup telah mengamankan lahan strategis seluas 800 hektare yang bersinggungan langsung dengan garis pantai. 

Posisi geografis ini dipilih secara presisi untuk memangkas inefisiensi logistik yang selama ini menjadi momok bagi industri tambang.

Gus Lilur mengakui bahwa investasi Rp50 triliun adalah angka yang membuat banyak pihak bergidik. Namun, baginya, ini adalah harga yang pantas untuk membayar ketertinggalan pengusaha lokal di sektor ini.

“Kalau kita lihat, smelter nikel sudah sangat padat, begitu juga pemain batu bara yang berjubel. Tapi di sektor bauksit, pemainnya masih bisa dihitung jari. Ini adalah celah bagi pengusaha nasional untuk menunjukkan taji di rumah sendiri,” tambah pengusaha asal Situbondo tersebut.

Filosofi 17 Agustus: Mandiri atau Terpinggirkan Ada misi ideologis di balik angka-angka triliunan rupiah tersebut. 

Gus Lilur memancang target ambisius pada 17 Agustus 2026 sebagai puncak pencapaian Kabantara Grup dalam menguasai pasar bauksit nasional. Pemilihan tanggal kemerdekaan ini bukan tanpa alasan; ia ingin momen tersebut menjadi simbol kedaulatan ekonomi.

Menurutnya, kekayaan alam Indonesia harus berhenti mengalir ke luar negeri dalam bentuk tanah mentah yang murah. 

Hilirisasi adalah satu-satunya jalan agar Sila Kelima Pancasila, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, tidak sekadar menjadi hafalan di sekolah.

“Keadilan sosial itu harus nyata, harus membumi. Rakyat harus bisa merasakan bahwa kekayaan alamnya dikelola oleh anak bangsa dan hasilnya kembali untuk kemakmuran bersama. Kami di Kabantara Grup ingin membuktikan bahwa kita mampu menjadi tuan rumah, bukan sekadar penonton di pinggir lubang tambang,” pungkasnya.

Editor : Alim Kusuma