Sabtu, 31 Jan 2026 02:40 WIB

Autis dan Kita, Cahyadi: Autisme bukanlah penyakit

Mohammad Cahyadi, SE M. PD Founder CEO Malang Autism Center (MAC) dan Chusnur Ismiati Hendro, SH, MH, M. IKOM. Usai menerima penghargaan dari RLD/FOTO: Alim
Mohammad Cahyadi, SE M. PD Founder CEO Malang Autism Center (MAC) dan Chusnur Ismiati Hendro, SH, MH, M. IKOM. Usai menerima penghargaan dari RLD/FOTO: Alim

SURABAYA - Kesekian kalinya Rumah Literasi Digital (RLD) jalan Kaca Piring 6, Surabaya kembali jagongan bareng dengan tema "Autis dan Kita". Dari judul tema tentunya akan menjadi perbincangan tersendiri bagi masyarakat, atau keluarga yang memiliki anak-anak berkebutuhan khusus, Senin, (29/9).

Dalam tema kali ini hadir sebagai pembicara Mohammad Cahyadi, SE M. PD Founder dan CEO Malang Autism Center (MAC), serta pemerhati isu autisme, Chusnur Ismiati Hendro, SH, MH, M. IKOM.

Diskusi ini menyoroti isu seputar autisme, termasuk peningkatan prevalensi, pemanfaatan teknologi digital, hingga keterkaitan dengan isu lingkungan dan keberlanjutan (SDGs).

Dalam jagongan, Cahyadi menyampaikan, autisme bukanlah penyakit, namun kondisi neurodevelop mental dalam hal ini dibutuhkan pemahaman dan pendekatan khusus.

“Dulu, anak autisme sering disembunyikan. Kini, berkat meningkatnya kesadaran, orang tua mulai terbuka. Mereka tidak lagi menyembunyikan anak-anak dengan autisme dari masyarakat,” katanya. 

Cahyadi juga menyoroti pentingnya deteksi dini yang kini bisa dilakukan sejak usia enam bulan. Bahkan semakin cepat intervensi diberikan, semakin besar peluang anak untuk mencapai kemandirian sosial dan ekonomi.

 

Teknologi Digital Jadi Alat Penting

Sementara itu, Chusnur Ismiati Hendro memberi pandangan berbeda, kali ini dikaitkan pada era digital. Menurutnya, gadget dinilai mampu menjadi alat bantu yang efektif, baik untuk deteksi awal maupun terapi edukatif.

“Sudah ada aplikasi yang bisa membantu orang tua mengenali gejala autisme sejak dini, bahkan sebelum konsultasi ke dokter,” jelas Chusnur.

Ia menambahkan, anak-anak dengan autisme cenderung belajar melalui pengulangan (remedial) dan imitasi.

"Konten edukatif dari gadget, jika digunakan secara bijak dan dibatasi waktu, bisa menjadi media pembelajaran yang bermanfaat," ujarnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa penggunaan gadget tetap harus dikontrol.

“Idealnya, tidak lebih dari tiga jam sehari, dan hanya untuk aktivitas belajar. Kita harus tetap menjaga kesehatan mata dan sensor saraf,” jelasnya.

Diskusi juga menyinggung potensi keterkaitan antara meningkatnya kasus autisme dengan faktor lingkungan.

Chusnur menyebut penggunaan pestisida, bahan pengawet, logam berat dalam air dan makanan, hingga paparan polusi udara bisa memengaruhi tumbuh kembang anak.

“Kami menemukan banyak anak autisme yang tinggal di kawasan industri dengan kadar timbal tinggi. Ini sangat mungkin berpengaruh terhadap kondisi neurologis mereka,” paparnya.

 

Hubungan Autisme dan SDGs

Chusnur juga menekankan jika isu autisme tidak bisa lepas dari agenda Sustainable Development Goals (SDGs), terutama terkait pendidikan inklusif, kesehatan, dan lingkungan berkelanjutan.

Ia menambahkan, anak-anak dengan autisme cenderung belajar melalui pengulangan (remedial) dan imitasi.

"Konten edukatif dari gadget, jika digunakan secara bijak dan dibatasi waktu, bisa menjadi media pembelajaran yang bermanfaat," ujarnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa penggunaan gadget tetap harus dikontrol.

Diskusi juga menyinggung potensi keterkaitan antara meningkatnya kasus autisme dengan faktor lingkungan.

Chusnur menyebut penggunaan pestisida, bahan pengawet, logam berat dalam air dan makanan, hingga paparan polusi udara bisa memengaruhi tumbuh kembang anak.

“Kita butuh kebijakan nasional yang lebih serius, termasuk pembentukan kementerian khusus untuk mengatasi perubahan iklim dan dampaknya terhadap kesehatan anak,” imbuhnya.

Sebagai upaya pemberdayaan, pihaknya juga menginisiasi program Work for Autism serta Gerakan Nasional Budidaya Lele dan Nila (Gerlas Bule) sebagai bagian dari ketahanan pangan keluarga.

“Kami ingin anak-anak ini tumbuh sehat, dengan pola makan seimbang, dan didukung oleh lingkungan yang ramah dan bersih,” pungkasnya. (*)

Editor : Widodo