SURABAYA, iNFONews.ID - Kabut tipis menyelimuti lereng Gunung Arjuno saat saya dan tiga rekan pewarta foto menikmati kopi di Jendela Langit, Pasuruan.
Senin itu, 4 Agustus 2025, keheningan tempat wisata ini kontras dengan kesibukan di kejauhan.
Pemandangan itu membangkitkan rasa ingin tahu, membawa kami mendekat untuk mengungkap sebuah kisah.
Di sana, di tengah perkebunan kopi arabika yang menghijau seluas 368 hektar, kami bertemu dengan anggota Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Arjuno Lestari.
Di bawah arahan Hidayat, mereka memanen "Emas Hitam" dari ketinggian 1.000 hingga 1.400 Meter di atas Permukaan Laut.
Senyum di wajah para petani adalah cerminan dari harapan. Bagi mereka, kopi bukan sekadar komoditas, melainkan denyut nadi kehidupan dan impian masa depan.
Jari-jemari mereka yang kasar, namun cekatan, memetik setiap biji dengan penuh cinta dan dedikasi.
Setiap tanaman kopi adalah simbol perjuangan dan ketahanan. Di balik setiap biji, tersembunyi cerita tentang bagaimana mereka bertahan di tengah tantangan alam.
Dari varietas Yellow Caturra hingga Sigararutang, setiap jenis kopi memiliki kisah dan cita rasa unik.
Namun, alam tak selalu bersahabat. Hujan yang tak kenal musim sering kali menguji kesabaran para petani.
Tahun 2024, mereka menikmati panen raya 80 ton. Namun, tahun ini, panen merosot hingga 50 ton akibat curah hujan yang tinggi.
"Tahun ini, panen kami turun drastis karena hujan," keluh Hidayat, Ketua LPHD Arjuna Lestari.
Meski demikian, semangat mereka tak pernah padam. Di bawah LPHD Arjuna Lestari, masyarakat Tegal Kidul tidak hanya menanam kopi, tetapi juga berbagai buah-buahan.
Mereka menjalankan prinsip perhutanan sosial berkelanjutan, menjaga hutan dan lingkungan.
Bagi saya, ini bukan sekadar bertani, melainkan sebuah perlawanan terhadap lupa. Mereka melawan lupa akan pentingnya hutan dan lingkungan.Kopi dan buah-buahan bukan hanya sumber ekonomi, tetapi juga penjaga ekosistem.
Angin segar kini berhembus di lereng Arjuno, membawa harapan baru. Kopi dari lereng ini telah menjadi primadona di berbagai kafe di Surabaya, Yogyakarta, Jakarta, dan kota lainnya.
Bahkan, kopi mereka telah menembus pasar internasional, dari Jepang hingga Amerika Serikat.
Namun, ada tantangan lain. Anak-anak muda lebih tertarik menjadi barista atau roaster daripada berkebun. Mereka menganggap bertani tidak keren.
"Anak muda sekarang gengsi mencangkul," ujar Hidayat. "Mereka lebih memilih pascapanen," lanjutnya.
Namun, saya yakin, suatu saat nanti mereka akan kembali. Mereka akan meneruskan perjuangan orang tua mereka, merawat "Emas Hitam" Arjuno untuk generasi mendatang.
Saat saya meninggalkan lereng Arjuno, udara dingin menusuk kulit. Namun, hati saya terasa hangat.
Di sana, di tengah pegunungan yang indah, harapan terus tumbuh bersama kopi dan para petani yang tak kenal lelah.
Editor : Alim Kusuma