Sabtu, 31 Jan 2026 00:10 WIB

Bisnis Beras Premium dan Budidaya Lobster, Strategi Gus Lilur Perkuat Ekonomi Agraris Indonesia

Gus Lilir berada di Vietnam. INPhoto/Dok Pribadi
Gus Lilir berada di Vietnam. INPhoto/Dok Pribadi

VIETNAM, iNFONews.ID - Di tengah dinamika perdagangan internasional, kisah perjalanan HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy, Founder Owner BAPANTARA Grup, menjadi jalan nyata dalam membangun usaha pertanian dan perdagangan beras yang menyejahterakan petani serta memperkuat ketahanan pangan nasional.

Pengusaha yang akrab disapa Gus Lilur itu bercerita bagaimana awal mula perjalanannya ke Vietnam pada tahun 2013.

"Saya pertama kali ke Vietnam pada 2013, lalu mulai menggarap usaha sejak tahun 2015," ungkapnya.

Namun, meskipun banyak tawaran bisnis beras datang, ia menolak karena latar belakangnya yang berasal dari dusun dan merasakan kelelahan berbisnis beras.

“Saya ini orang dusun, rumah saya dikelilingi sawah milik keluarga, dan saya jenuh dengan usaha yang berbau sawah,” kata Gus Lilur saat mengingat kembali alasan penolakannya di tahun 2015.

Sepuluh tahun kemudian, keadaan berubah drastis. Khalilur kini tengah menuntaskan perizinan budidaya lobster di Vietnam, dan untuk pertama kalinya ia kembali menerima ajakan serius bisnis beras dari para pengusaha besar Vietnam yang juga bergerak di bidang batubara dan lobster.

Ia menjelaskan bahwa hubungan dagang terbesar antara Indonesia dan Vietnam berkisar pada tiga bidang utama: pertanian (beras), pertambangan (batubara), dan perikanan (lobster).

Sebagai petani dan keturunan petani, Gus Lilur menyampaikan kritik keras terhadap kebijakan impor beras yang menurutnya merugikan petani lokal.

"Saya marah dan merasakan kemarahan keluarga petani jika saat panen harga gabah murah," ungkapnya tegas.

Gus Lilur menegaskan bahwa dirinya anti impor beras jenis Cadangan Beras Pemerintah (CBP), yang selama ini telah menghancurkan petani. Namun, ia membedakan bahwa beras khusus dengan kualitas premium tetap memiliki ruang untuk perdagangan yang tidak merusak petani nasional.

"Beras khusus harganya tinggi, di kisaran Rp 25.000 hingga Rp 65.000 per kilogram, dan tidak banyak petani Indonesia yang menanam padi jenis ini. Saya akan berdagang beras seperti ini, yang tidak menghancurkan petani NKRI," jelasnya.

Terkait volume impor beras khusus, Gus Lilur memaparkan data bahwa pemerintah Indonesia mematok volume impor beras khusus untuk tahun 2025 sekitar 420.000 ton.

Di sela perjalanan survei tiga provinsi lumbung padi terbesar di Vietnam Selatan, Dong Thap, An Giang, dan Can Tho, Gus Lilur terinspirasi dengan perkembangan pabrik-pabrik padi yang masif di sana.

"Saya berhasrat membangun pabrik-pabrik padi di banyak kabupaten di Indonesia dan turut aktif membuka sawah-sawah baru, seperti yang dilakukan para konglomerat di Papua," ucapnya.

Semangat ini diwujudkan dalam pendirian BAPANTARA Grup, yang kini telah membawahi 18 anak perusahaan.

"BAPANTARA Grup adalah induk perusahaan yang saya dirikan untuk mendukung penguatan ketahanan pangan dan ekonomi agraris nasional," ujarnya.

Gus Lilur kembali menegaskan visi besarnya untuk Indonesia. Di negara agraris seperti Indonesia, tidak boleh ada warga yang kelaparan karena tidak mampu membeli beras.

"Bismillah, saya berkomitmen untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," tutupnya dengan penuh semangat.

Editor : Alim Kusuma