Ali Masduki saat melakukan peliputan. INPhoto/Dok Pribadi

SURABAYA, INFONews.id - Ibarat dua sisi mata uang. Itulah pewarta foto yang bekerja di era digitalisasi. Di sisi lain ada kemudahan dalam menjalankan tugasnya sebagai fotografer. Namun di sisi lainnya, ketajaman dan kejelian, serta kecepatan menghadirkan karya foto jurnalistik menjadi tantangan tersendiri.

Ali Masduki menjelaskan kemudahan yang dimaksud yakni bahwa saat ini fotografer tidak menggunakan kamera analog. Mereka sudah menggunakan kamera digital. Dengan begitu, maka seorang fotografer bisa menghasilkan karya foto yang lebih banyak tanpa memikirkan roll film.

"Namun secara visual harus diperkuat, agar informasi bisa tersampaikan ke publik," tegasnya.

Menurut anggota PFI Surabaya ini, ada tantangan lain yang dihadapi jurnalis foto. Yaitu harus memiliki keahlian lebih, serta kreativitas untuk menghadirkan foto yang beragam. Hal itu untuk memenuhi permintaan foto dimana jurnalis bekerja.

"Jika dia bekerja di media online, biasanya dalam satu peristiwa akan ditampilkan beberapa anggle. Ini berbeda jika dia bekerja untuk media cetak," ujarnya.

Untuk itu, jurnalis foto harus terus mengasah kemampuan dan beradaptasi. "Jika di koran, liputan pagi hari bisa dikirim ke redaksi siang atau sore. Tapi jika media online tentu butuh kecepata dan harus akurat," tuturnya.

Kata dia, persaingan informasi di internet bukan lagi antara kantor media satu dengan media lainnya. Namun sosial media menjadi rival utama.

"Jadi foto harus bagus, akurat dan cepat dikirim agar tidak kalah dengan sosmed dan netizen," ucap dia.

Satu hal lagi yang penting, di era digital yang serba mudah ini jurnalis foto harus memegang etika terutama kejujuran.

"Jangan mentang-mentang ada kemudahan, malah seenaknya mengedit foto. Silahkan edit tapi sewajarnya. Apalagi nyuri foto dari internet dan diklaim miliknya," tandasnya. 

Reporter: Patrick Cahyo Lumintu

Editor : Alim

Berita Terbaru