INFOnews.id | Sidoarjo - Ketua Perempuan Tani HKTI Jawa Timur Lia Istifhama memberikan apresiasi terselenggaranya Festival Seribu Angkringan Santri (SAS) Kampoeng Darjo. Gelaran acara itu menjadi bagian penting memberikan hiburan kepada masyarakat yang lama terbelenggu pandemi Covid-19. Juga turut menggeliatkan perekonomian di masyarakat.
“Dengan gelaran ini, maka menjadi alternatif solusi bangkitnya ekonomi rakyat. Dan juga edukasi agar anak-anak terbiasa terhibur dengan pasar rakyat, bukan hanya mall. Alasan lain untuk mengapresiasi acara tersebut adalah penyatuan unsur religi dengan ekonomi. Ini terbukti bahwa Gus Bupati (Muhdlor) menjaga eksistensi nuansa religi dan ekonomi masyarakat," urai Ning Lia -sapaan akrab- Lia Istifhama, Kamis (2/6/2022), malam.
Acara itu berlangsung sejak 24 Mei hingga 5 Juni 2022, di Alun-alun, Pendopo Kabupaten Sidoarjo. Antusias masyarakat pun terlihat maraknya gelaran pasar murah tersebut ramai dihadiri pengunjung, apalagi di kesempatan hari libur yang terpotret pada Rabu (1/6) kemarin.
Volume pengunjung terlihat tinggi saat bertepatan dengan tanggal merah Hari Lahir Pancasila tersebut.
“Pada hari ini, selain karena tanggal merah sehingga masyarakat memadati area, juga ada acara yang menarik, yaitu performance dari Ning Lia Istifhama bersama teman-teman Mafash-nya dan Pagar Nusa Kabupaten Sidoarjo,” terang Damarhuda, EO (Event Organizer) Festival SAS.
Ketua Perempuan Tani yang juga aktivis itu kembali menegaskan bahwa dirinya bersama teman-temannya yang hadir sangat salut dan mengapresiasi gelaran SAS tersebut.
Sementara saat mengisi live performance lagu religi, Doktoral Ekonomi Syariah UINSA tersebut didampingi Ramadhani (Mojokerto) dan beberapa lagu religi bersama MAFASH (Majelis Alumni Fakultas Syariah dan Hukum), yaitu Ulul Azmi, Winarto, Nuril, Rosi, Nurul, dan Suwita. Beberapa lagu tersebut antara lain, Allahul Kafi, Sepohon Kayu, Ada Untukmu (Tyok Satrio), dan lagu yang dipopulerkan Band Ungu, yaitu Bila Tiba dan Surgamu.
Tak lupa, Mafash pun membuat tagline: ‘Mafash Angkatan 2002; Siap Bosque’. Untuk menambah semarak suasana, mereka pun membuat challenge untuk anak-anak di sekitar panggung, diantaranya menyanyi bersama, dan memberikan tebakan terkait Pancasila.
Suasana akrab dan gayeng terlihat, karena anak-anak yang maju ke atas panggung rata-rata masih TK dan PAUD. Menariknya, beberapa anak-anak justru berasal dari luar Sidoarjo, yaitu Pasuruan dan Malang.
Acara diakhiri dengan tampilan Pagar Nusa Kabupaten Sidoarjo yang diketuai Hari Purwono. Gus Hari menjelaskan bahwa Pagar Nusa sebagai salah satu Badan Otonom NU, membuka kesempatan anak-anak untuk dididik sebagai 'Pendekar Cilik' yang berakhlakul karimah dan tawadlu’. Ini pun tak luput juga diapresiasi oleh Ning Lia saat mendampinginya dalam opening atraksi Pagar Nusa.
“Gus Hari menjelaskan bahwa anak-anak bisa mendaftar sebagai pendekar cilik yang akan dididik sebagai anak bangsa berakhlakul karimah dan tawadlu’ atau rendah hati. Ini merupakan karakter mulia yang penting untuk dimiliki anak bangsa. Terlebih, Pagar Nusa sangat egaliter dan merangkul anak-anak semua kalangan agama sebagai pendekar cilik, bukan hanya muslim. Hal ini tentu sebagai bentuk bahwa Pagar Nusa ingin kita semua bergandengan tangan menjaga Indonesia,” ujarnya yang diakhiri dengan tagline ‘Pagar Nusa Penjaga Indonesia’. (inf/rls/tji)
Editor : Tudji Martudji