Senin, 10 Agu 2026 02:17 WIB

Wagub Emil: Pemadaman dan Pencegahan Penyebaran Api di Gunung Bromo Terus Dilakukan Secara Kolektif

Wakil Gubernur Jatim, Emil Dardak melihat penanganan kebakaran Karhutla di kawasan Bromo (IN/PHOTO: HUMAS)
Wakil Gubernur Jatim, Emil Dardak melihat penanganan kebakaran Karhutla di kawasan Bromo (IN/PHOTO: HUMAS)

PROBOLINGGO, INFONews.ID - Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak mengatakan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo dilakukan secara kolektif. Saat ini pemadaman api difokuskan pada dua titik, pertama pundak lembu lokasi paling timur dari titik kebakaran puncak B29, kedua watangan di sisi barat. Upaya pemadaman di dua titik terus dilakukan salah satunya melalui _water boombing_ menggunakan 3 unit helikopter.

"Upaya penanganan kebakaran gunung Bromo medannya sangat menantang. Ada titik yang tidak bisa dijangkau personil, kendaraan dan personil yang berjalan kaki menuju lokasi. Maka dilengkapi dengan 3 unit helikopter untuk melakukan _water boombing_," kata Emil saat meninjau penanganan kebakaran karhutla tersebut pada Minggu, (9/8/2026).

"Fokusnya di daerah puncak B29 tepatnya pundak lembu lokasi paling timur dari titik kebakaran seluas 500 hektar. 500 hektar tidak terbakar semua, tetapi tambahan 250 hektar terjadi kemarin hingga tadi pagi," imbuhnya.

Selain titik B29 maupun daerah watangan di sisi barat seluas 500 hektar, Emil mengatakan, terdapat satu titik lain yang lokasinya di penanjakan dan menjadi sasaran operasi helikopter _water boombing_.

"Mengambil air dari ranupane dan ranuregulo, satu titik di B29 sudah dilakukan _water boombing_ dan setelah itu dilanjutkan ke penanjakan," ungkapnya.

Menurut Emil, terdapat jalan selebar 18 meter bernama jalur kaldera Tengger. Namun jalur tersebut tidak bisa menahan karena angin yang kencang. Dikhawatirkan api bisa meloncati jalur sehingga rerumputan atau alang-alang bisa terbakar.

"Ada jalur lain ke arah penanjakan lebih pendek, tetapi batas atas dari titik kebakaran. Menjadi titik siaga supaya tidak menyebar," ungkapnya.

Mencegah api meluas, Emil mengatakan dilakukan kombinasi pemadaman dan pencegahan dengan membangun langkah kolektif dan fokus bertahan di 500 hektar dengan bantuan sebanyak 7 unit damkar, 200 personil dari unsur TNI, polisi, BPBD, dan TNBTS serta 3 helikopter water boombing.

"Titik yang sudah padam tetap disiagakan damkar dan personil untuk mengantisipasi potensi api sehingga tidak menyebar ke titik lainnya. Semua bergerak menangani wilayah yang 500 hektar dan tetap menjadi kewaspadaan," jelasnya.

Mitigasi dari Pemprov Jatim fokus utama upaya pemadaman dan pencegahan agar tidak terjadi di titik lain, maka Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) ditutup sementara dari wisata.

Terkait rencana evakuasi warga sekitar sudah dipetakan radiusnya titik rawan kepada warga di B29 yang disiagakan lebih banyak namun belum dilakukan evakuasi karna masih cukup berjarak.

"Hasil pantauan di lapangan belum pada titik evakuasi namun sudah disiapkan jalur evakuasi serta ada pantauan 24 jam untuk memastikan bahwa warga siaga dan siap dievakuasi jika memang diperlukan," katanya.

Wagub Emil menambahkan, BPBD Provinsi Jawa Timur juga mengerahkan drone sprayer yang memiliki kapasitas angkut 70 liter air. Yang mana drone sprayer tersebut digunakan untuk melakukan pendinginan titik kebakaran yang sudah padam, namun tetap mengeluarkan kepulan asap agar tidak menimbulkan api lagi.

Sementara itu Menteri Kehutanan Republik Indonesia Raja Juli Antoni menambahkan, secara langsung di instruksikan kepada kepala balai TNBTS agar TNBTS ditutup total agar fokus memadamkan api, mengantisipasi kebakaran di tempat lain serta safety first bagi masyarakat.

"Pemadaman menggunakan 3 helikopter yang beroperasi. Hari ini cuaca cerah dan ada 30 water boombing sehingga titik api bisa segera dipadamkan," ungkapnya.

Selain itu, berdasarkan perhitungan BMKG, operasi modifikasi cuaca tidak bisa dilakukan 10 hari ke depan. Hanya mengandalkan water boombing dan pasukan darat. Selain itu insiden commanders agar pekerjaan lebih terstruktur dan semua kebutuhan dan tantangan bisa di koordinasikan sehingga pemadaman bisa dilakukan. (*)

Editor : Tudji Martudji