Oleh: Soeparli D. Atmadji
Mantan wartawan
Pengamat dan penyuka film
KALI ini kita tidak ngomongin film. Yang kita omongin kali ini serial. Judulnya The Rise of Phoenixes. Serial besutan sutradara Shen Yan dan Liu Haibo yang dibintangi Chen Kun dan Ni Ni itu pernah ditayangkan di Netfix sejak September 2018.
Baca juga: Pelecehan Seksual, Selalukah Cowok Pelaku dan Cewek Korban?
Hal pertama yang menarik perhatian saya saat nonton serial era kekaisaran ini adalah setting-nya, terutama istana. Bangunan dan ruangan-ruangan istana dalam serial ini tampak megah, riil tiga dimensi, tidak sekadar tampak depan dua dimensi.
Tapi, itu saja. Saya tidak ingin memperpanjang bagian ini agar tidak menjadi review. Apalagi, memang bukan bagian ini yang akan kita omongin.
Poin kedua yang menarik perhatian saya adalah gambaran kehidupan “sepi”, bahkan “menyedihkan”, sang kaisar. Anda mungkin protes, “Masak kehidupan kaisar menyedihkan?” Tapi, begitulah kesan saya.
Bayangkan saja ini. Sang penguasa tertinggi negara itu harus melihat anak-anaknya, para pangeran, saling sikut, saling jebak, saling fitnah, bahkan saling bunuh, demi mendapatkan posisi putra mahkota, penerus tahta?
Sang kaisar bahkan bisa berkata, “Kalau ada yang jadi duri beracun, saya sendiri yang akan mencabutnya.” Tidak menyedihkankah kehidupan seperti itu?
Toh, banyak yang ingin menjadi “kaisar”. Bahkan, ada yang sampai “bunuh-bunuhan” untuk memperebutkan posisi penguasa tertinggi negara tersebut. Godaan kekuasaan, sepertinya, mengalahkan “ancaman” kehidupan sepi dan menyedihkan yang menghantui posisi tersebut.
Tentu, mungkin saja ada yang berusaha merebut tahta karena ingin membawa negara dan rakyat menuju kemakmuran. Dan, menjadi kaisar memberinya “kekuasaan” yang bisa ia “kendalikan” untuk mencapai tujuan.
Masalahnya, siapa mengendalikan apa sering menjadi tidak jelas. Jangan-jangan, justru (godaan) kekuasaan yang mengendalikan sang kaisar.
Poin ketiga yang saya anggap unik adalah posisi “kepala sekolah”. Serial ini menggambarkan kepala sekolah cukup menyatukan kedua tangan di depan dada saat (sendirian) bertemu kaisar.
Kadang dengan membungkuk tapi sering juga tidak. Padahal, para pejabat, para pangeran, termasuk putra mahkota, sering harus berlutut, kadang bahkan bersujud, saat bertemu kaisar.
Bisakah itu diartikan bahwa, setidaknya dalam serial ini, kaisar menempatkan kepala sekolah (mungkin juga guru pada umumnya) pada posisi yang mulia?
Baca juga: Untung Juga Kagak, Ngapain Bikin Orang Marah
Anda mungkin pernah mendengar cerita tentang reaksi kaisar Jepang setelah Hiroshima dan Nagasaki hancur lebur akibat bom atom. Saat itu, yang ditanyakan kaisar bukan berapa besar tentara yang tersisa, atau berapa banyak pabrik yang masih beroperasi.
Yang ditanyakan kaisar justru berapa banyak guru yang tersisa. Bukankah itu berarti Jepang pun menempatkan guru pada posisi amat penting?
Di Jawa, kita kenal ungkapan guru sebagai yang “digugu lan ditiru”, bisa dipercaya dan layak dianut atau diteladani.
Bukankah itu juga menunjukkan betapa, dahulu, manyarakat di sini juga menempatkan guru pada posisi terhormat?
Itu, sebetulnya, tidak sulit dipahami. Dulu, guru bisa dibilang “satu-satunya” sumber ilmu sekaligus penempa karakter. Saya jadi ingat candaan seorang profesor tentang guru.
Dia bilang, “Di dunia ini hanya ada dua profesi. Yakni, guru dan lain-lain.” Aneh? Sebetulnya tidak juga.
Bukankah, kalau tidak ada guru, profesi lain juga tidak akan ada?
Pertanyaannya, masihkah guru ditempatkan pada posisi mulia seperti itu sekarang?
Baca juga: Jangan-Jangan Rakyat pun Ada yang Kandung dan Tiri
Kalau melihat berita betapa ada orang tua murid mengamuk ke sekolah hanya karena anaknya dijewer guru kelas, sepertinya kok tidak semua menganggap guru sebagai sosok yang mulia, sosok yang digugu dan ditiru.
Kalau kemudian ada yang tanya kenapa, bagaimana Anda menjawabnya? Bisa jadi, kian banyak orang yang menganggap guru bukan lagi satu-satunya sumber ilmu.
Orang bisa belajar lewat internet, situs-situs dan platform-platform pembelajaran, jurnal-jurnal penelitian, bahkan AI.
Belakangan kita kian akrab pula dengan istilah “pay knowledge”, pengetahuan berbayar. Tidak seperti informasi gratis, pengetahuan berbayar bisa meliputi beragam bentuk dan materi yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Bahkan, ada yang menawarkan sertifikasi.
Dalam kondisi begitu, akankah hubungan guru-murid kini hanya bersifat transaksional? Masihkah guru tampil sebagai sosok yang bisa digugu dan ditiru?
Kalaupun tidak lagi menjadi satu-satunya sumber ilmu, kita tentu berharap peran guru sebagai penempa karakter terus berlanjut.
Editor : Alim Kusuma