Oleh: Prof. Dr. H. Mohammad Kurjum, M.Ag (Mantan Wakil Ketua LPTNU Jawa Timur)

Pseudo Asketik dalam Konteks Pra-Muktamar NU 2026

Reporter : Tudji Martudji
Prof. Dr. H. Mohammad Kurjum, M.Ag, Mantan Wakil Ketua LPTNU Jawa Timur, Kandidat Rektor UINSA (IN/PHOTO: TUDJI)

SURABAYA, iNFONews.ID - Sore itu, halaman fakultas mulai lengang. Beberapa mahasiswa masih bertahan di kantin kampus, memperdebatkan isu yang sedang ramai menjelang Muktamar NU 2026. Bukan soal bahtsul masail, bukan pula tentang arah pengembangan pesantren atau masa depan pendidikan Nahdlatul Ulama. Yang menjadi bahan obrolan justru siapa yang paling mungkin menjadi ketua umum berikutnya, siapa yang sedang membangun poros dukungan, dan siapa yang mulai rajin berkunjung ke berbagai daerah. Di tengah percakapan itu, seorang mahasiswa berujar lirih, Lucu ya, Pak. Semakin sering orang bicara tentang keikhlasan, semakin terasa ada yang sedang diperebutkan. Kalimat itu sederhana, tetapi cukup membuat saya terdiam lebih lama daripada biasanya.

Barangkali, yang sedang kita saksikan bukan sekadar dinamika menjelang sebuah muktamar. Ada perubahan budaya yang pelan-pelan merembes ke ruang organisasi keagamaan. Kesalehan kini kerap tampil sebagai citra, bukan lagi laku batin. Kerendahan hati dipertontonkan, kesederhanaan dipublikasikan, bahkan penolakan terhadap ambisi terkadang diucapkan justru ketika ambisi sedang bekerja dengan sangat rapi. Fenomena semacam ini oleh sejumlah pemikir sosial disebut sebagai pseudo asceticism (asketisme semu) yakni ketika simbol-simbol kezuhudan dipertahankan, tetapi orientasi hidup telah bergeser menuju pengakuan, pengaruh, dan kekuasaan. Konsep ini beririsan dengan kritik Max Weber mengenai rasionalisasi kehidupan modern, juga pembacaan Pierre Bourdieu tentang modal simbolik yang dapat dikonversi menjadi kekuasaan sosial.

Tradisi pesantren sebenarnya mengenal asketisme dalam makna yang sangat berbeda. Zuhud bukan berarti menjauhi dunia, melainkan menempatkan dunia pada posisi yang semestinya. Seorang kiai tetap mengurus masyarakat, berdialog dengan penguasa, bahkan memimpin organisasi jika diperlukan. Namun semua itu dijalani sebagai amanah, bukan tujuan. Karena itulah para ulama terdahulu tidak pernah sibuk membangun citra sebagai orang yang zuhud. Mereka justru sibuk menjaga ilmu dan menguatkan umat. Kesalehan mereka dikenali melalui jejak pengabdian, bukan melalui panggung yang sengaja dibangun agar tampak sederhana.

Dalam konteks itu, menjelang Muktamar NU 2026, kita patut bertanya dengan jujur: apakah energi organisasi masih diarahkan untuk memperkuat agenda keilmuan, atau perlahan bergeser pada kompetisi membangun legitimasi personal? Pertanyaan ini tentu tidak ditujukan kepada individu tertentu. Ia adalah pertanyaan etik yang seharusnya diajukan kepada seluruh warga Nahdlatul Ulama. Sebab sejarah menunjukkan bahwa organisasi besar tidak runtuh karena kekurangan tokoh, melainkan ketika orientasi moralnya perlahan berubah tanpa disadari.

Gejala tersebut sebenarnya tidak lahir dari ruang kosong. Demokrasi membuka ruang kompetisi yang sehat, tetapi juga menghadirkan godaan untuk mengelola persepsi publik secara terus-menerus. Media sosial mempercepat proses itu. Hari ini seseorang dapat membangun reputasi keulamaan melalui potongan video, foto kunjungan, atau narasi tentang kesederhanaan yang diproduksi berulang-ulang. Yang tampak di permukaan sering kali lebih menentukan daripada kerja sunyi yang berlangsung bertahun-tahun. Dalam bahasa Guy Debord, masyarakat modern semakin didominasi oleh society of the spectacle, ketika penampilan lebih berpengaruh daripada substansi.

Padahal, NU dibangun di atas tradisi yang justru menghargai kerja-kerja yang tidak selalu terlihat. Lahirnya keputusan kembali ke Khittah 1926 pada Muktamar Situbondo bukanlah hasil kompetisi pencitraan, melainkan buah dari pergulatan intelektual dan spiritual yang panjang. Para ulama ketika itu memikirkan bagaimana NU tetap menjadi kekuatan moral bangsa, bukan sekadar aktor dalam pertarungan politik. Warisan itu terasa semakin penting ketika organisasi memasuki abad kedua. Yang dipertaruhkan bukan hanya siapa yang memimpin, melainkan karakter kepemimpinan seperti apa yang hendak diwariskan kepada generasi berikutnya.

Di lingkungan kampus, saya sering menemukan mahasiswa yang mulai bersikap sinis terhadap organisasi. Mereka tidak lagi mempertanyakan ajaran NU, melainkan konsistensi para elitnya. Mereka ingin melihat apakah nilai-nilai tawaduk, ukhuwah, dan pengabdian benar-benar hidup dalam praktik organisasi, atau hanya menjadi slogan yang diulang dalam forum-forum resmi. Sikap kritis generasi muda ini seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman. Justru di sanalah terdapat peluang bagi NU untuk melakukan pembenahan dari dalam. Organisasi yang besar adalah organisasi yang bersedia dikoreksi oleh generasinya sendiri.

Karena itu, Munas-Konbes dan Muktamar 2026 semestinya menjadi ruang muhasabah kolektif. Bukan hanya mengevaluasi program kerja, tetapi juga menguji kembali etika kepemimpinan. Jangan sampai yang berkembang adalah budaya mengelola kesan, sementara tradisi membaca, menulis, bahtsul masail, kaderisasi ulama, dan penguatan pesantren berjalan di tempat. NU tidak kekurangan struktur organisasi. Yang lebih mendesak ialah memperkuat ekosistem ilmu dan integritas moral. Di situlah letak pembeda antara organisasi keagamaan dan organisasi yang sekadar mengejar efektivitas kekuasaan.

Mungkin asketisme pada zaman ini memang tidak lagi diwujudkan dengan pakaian sederhana atau menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Asketisme yang dibutuhkan NU justru keberanian untuk membatasi diri dari hasrat menjadikan organisasi sebagai tangga prestise. Kesediaan mendahulukan kepentingan jam'iyah daripada popularitas pribadi. Kerelaan menerima bahwa tidak semua pengabdian harus diketahui publik. Bukankah para ulama besar NU membangun pengaruhnya bukan dengan memburu sorotan, melainkan karena masyarakat menemukan ketulusan dalam hidup mereka? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang seharusnya memenuhi ruang-ruang pra-Muktamar, lebih daripada sekadar kalkulasi dukungan.

Ketika senja benar-benar turun, kantin kampus mulai sepi. Mahasiswa-mahasiswa itu satu per satu meninggalkan meja, tetapi kalimat yang saya dengar sore itu masih tertinggal: semakin sering keikhlasan dipertontonkan, semakin besar godaan untuk mempertanyakannya. Saya berharap Muktamar NU 2026 tidak hanya melahirkan pemimpin baru, tetapi juga menghadirkan keberanian baru untuk memulihkan tradisi kerendahan hati yang tidak memerlukan panggung. Sebab organisasi sebesar Nahdlatul Ulama tidak akan kehilangan masa depan karena kekurangan tokoh. Ia justru akan kehilangan arah ketika simbol-simbol kesalehan lebih ramai dipelihara daripada kesalehan itu sendiri. (*)

Editor : Tudji Martudji

Photo
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru