Jelang Muktamar NU, Gus Salam Perkuat Silaturahmi Kiai Pesantren

Reporter : Eric Setyo Pambudi
Silaturahmi Gus Salam dan Kiai Imjaz di Cirebon berlangsung hangat dan penuh keakraban. INPhoto/FJN.

CIREBON, iNFONews.ID - Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, terus membangun komunikasi dengan para kiai pesantren di berbagai daerah.

Safari terbaru dilakukan dengan mengunjungi Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH Imam Jazuli atau Kiai Imjaz, di Jawa Barat. Pertemuan berlangsung hangat dalam suasana kekeluargaan dan penuh keakraban.

Baca juga: Muktamar NU: Menjaga Sang Pendiri NKRI dari Intervensi

Silaturahmi tersebut menjadi bagian dari upaya Gus Salam meminta doa restu sekaligus menyerap pandangan para masyaikh menjelang kontestasi Ketua Umum PBNU pada Muktamar NU mendatang.

Bagi Gus Salam, sowan kepada para ulama bukan sekadar agenda organisasi, melainkan ruang musyawarah untuk menjaga tradisi adab pesantren tetap hidup di tengah dinamika NU.

Dalam kunjungan itu, Gus Salam turut didampingi sejumlah pengasuh pesantren, di antaranya KH Hasan Syukri Zamzami Mahrus, KH Muhammad Ma'mun Mahfudz, KH Lukman Hakim Hamid, serta KH Abdul Mu'id.

Gus Salam mengaku memiliki kedekatan cukup lama dengan Kiai Imam Jazuli. Ia menyebut Kiai Imjaz sebagai figur muda NU yang memiliki pandangan luas tentang pendidikan dan pemberdayaan umat.

“Beliau merupakan tokoh muda NU yang memiliki pandangan jauh ke depan. Idealisme beliau dalam membangun pendidikan dan pemberdayaan umat menjadi inspirasi bagi banyak kalangan,” kata Gus Salam.

Menurutnya, karakter sederhana yang melekat pada Kiai Imjaz justru melahirkan banyak gagasan besar untuk kemajuan pesantren.

Baca juga: Mengenal Gus Awis, Figur Muda yang Dinilai Layak Pimpin PBNU

“Kesederhanaan beliau mencerminkan watak asli pesantren. Di balik kesahajaan itu, lahir pemikiran yang cemerlang dan bermanfaat bagi umat,” ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut, Gus Salam juga mengapresiasi gagasan Workshop Transformasi Pesantren yang diinisiasi Kiai Imam Jazuli untuk 5.000 pengasuh pondok pesantren di seluruh Indonesia sepanjang 2026.

Program tersebut dinilai penting agar pesantren mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan identitas keilmuan dan tradisi yang selama ini dijaga.

“Pesantren harus mampu bertransformasi, tetapi tetap menjaga ruh keilmuan, akhlak, dan tradisi yang menjadi kekuatannya,” tutur Gus Salam.

Baca juga: Gudfan Arif Ghofur: Jejak Dua Wali, Spirit Tarekat, dan Peluang Menuju Pucuk Pimpinan NU

Pertemuan para kiai muda NU itu berlangsung sederhana namun sarat pembahasan mengenai masa depan organisasi dan penguatan peran pesantren di tengah perubahan sosial yang terus bergerak cepat.

Tradisi silaturahmi dan musyawarah antarkiai dinilai tetap menjadi fondasi penting dalam menjaga persatuan Nahdlatul Ulama menjelang Muktamar NU ke-35.

 

Editor : Alim Kusuma

Photo
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru