Revolusi Layanan Disabilitas di Malang

Inisiatif MAC Ubah Posyandu Jadi Pusat Assessment dan Intervensi Nyata 

Reporter : Tudji Martudji
MAC dan Kelurahan Penanggungan, Klojen, Kota Malang wujudkan Posyandu Disabilitas (IN/PHOTO: TUDJI)

MALANG, iNFONews.ID - Transformasi layanan disabilitas di Kota Malang mulai menunjukkan arah baru. Malang Autism Center (MAC), lembaga yang fokus pada assessment dan intervensi bagi individu dengan spektrum autisme serta kebutuhan perkembangan lainnya, berkolaborasi dengan Kelurahan Penanggungan menghadirkan Posyandu Disabilitas yang tidak lagi sekadar pendataan, tetapi menjadi ruang intervensi nyata bagi masyarakat.

Ini lahir dari evaluasi kritis terhadap program yang sudah ada dan dinilai belum berdampak maksimal dan berkelanjutan. Padahal, untuk program seperti ini yang menyangkut kebutuhan masyarakat penyandang Disabilitas, anggarannya telah tersedia. 

“Selama ini kegiatannya, misalnya sosialisasi atau rekreasi satu hari dan selesai. Dampaknya tidak maksimal dan tidak berkelanjutan," kata Lurah Penanggungan, Klojen, Kota Malang Amanullah Abror, S.STP., MAP, Sabtu (25/4/2026).

Selanjutnya, guna mewujudkan program pemberdayaan warga, gayung bersambut dengan program MAC, memperkuat Posyandu Disabilitas. Diakui dan dijelaskan anggaran untuk empat kelompok rentan, anak, perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas tersedia melalui skema APBD. 

Disampaikan, di akhir 2025, Posyandu Disabilitas resmi dibentuk dengan melibatkan kader posyandu serta orang tua atau pendamping sebagai bagian dari ekosistem layanan. Mereka terlibat langsung, karena mereka yang paling tahu kebutuhan di lapangan dan bisa cepat menghubungi keluarga penyandang.

*Pendekatan Berbasis Assessment, Bukan Sekadar Kegiatan

Berbeda dengan program sebelumnya, model ini dimulai dari proses assessment komprehensif. MAC melakukan pemetaan kondisi peserta berdasarkan data yang dimiliki kelurahan, tidak hanya untuk mengidentifikasi jenis disabilitas, tetapi juga mengklasifikasikan kebutuhan intervensi secara spesifik. Peserta juga menjalani skrining kebutuhan fisioterapi untuk mengidentifikasi kondisi fisik yang memerlukan penanganan lanjutan.

Saat ini, sekitar 40 penyandang disabilitas telah terdata dan menjadi bagian dari program. Fokus utama diarahkan pada kelompok masyarakat menengah ke bawah yang selama ini menghadapi keterbatasan akses layanan kesehatan.

“Kalau yang mampu mungkin sudah punya akses. Tapi yang minim literasi dan ekonomi, ini yang perlu kita dekati," lanjut Founder dan Managing Director Malang Autism Center, Mohammad Cahyadi SE MPd.

Ditambahkan, bahwa keterlibatan MAC dalam program ini merupakan bentuk komitmen untuk memberikan dampak terukur bagi masyarakat. Menurutnya, sinergi antara keahlian teknis MAC dan dukungan kewilayahan dari pemerintah kelurahan sangat krusial dalam menciptakan ekosistem yang ramah disabilitas.

Sebagai tindak lanjut, MAC juga membuka akses intervensi melalui beberapa layanan, termasuk program Omah Terapi Autis (OTA) bagi keluarga kurang mampu, serta rujukan ke layanan fisioterapi dengan skema biaya yang dijaga tetap terjangkau di bawah standar pasar. Dan, program ini dirancang tidak berhenti di tahap pemeriksaan.

“MAC tidak berhenti di sini saja. Ada rangkaian sebelum dan sesudah kegiatan, jadi para penyandang disabilitas dan pendamping tidak kebingungan harus ke mana untuk langkah lanjutan," pungkasnya. (*)

Editor : Tudji Martudji

Photo
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru