SURABAYA, iNFONews.ID - Presidium Dewan Kesenian Jawa Timur, Luhur Kayungga menyebut musik yang ditampilkan Wukir Suryadi di pertunjukan musik bertajuk "Titir" merupakan ungkapan dan ketegasan bahwa duka dan keprihatian di Bencana Aceh dan Sumatera adalah diakibatkan ulah tangan manusia.
Tak ayal, bencana yang meluluhlantakkan Sumatera banyak disorot, berbagai pihak turut bersuara termasuk Luhur Kayungga.
"Musik yang ditampilkan Wukir Suryadi di pertunjukan musik bertajuk Titir ini sebagai ungkapan duka dan keprihatian terhadap bencana yang diakibatkan oleh ulah tangan-tangan manusia," kata Luhur Kayungga, saat berbincang dengan media ini, Sabtu (31/1/2026).
Luhur menegaskan, Teater Api Indonesia mengkonsepnya jauh hari, kemudian tampil di Pendopo Taman Budaya Jawa Timur, di Surabaya, Rabu 28 Januari 2026.
Tak sekedar pertunjukan musik, ekspresi budaya ini dimaksudkan sebagai upaya revitalisasi terhadap lingkungan di negeri tercinta Indonesia.
"Lingkungan itu berkaitan dengan kehidupan semua mahluk, oleh karena lingkungan merupakan persoalan kolektif yang harus disikapi secara bersama-sama," tegasnya.
Dia menambahkan, lingkungan dengan berbagai pendukungnya sangat berkaitan dengan kehidupan semua mahluk, keseimbangannya harus terus dijaga, jika diabaikan peristiwa bencana di Sumatera akan terus mengintai.
"Karena lingkungan merupakan persoalan kolektif yang harus disikapi secara bersama-sama, jika diabaikan bencana akan terus melanda, dan merugikan semua pihak," tegasnya.
Terkait alur yang disajikan lewat judul Titir, Luhur menjelaskan, kata "Titir" bermakna bunyi tanda bahaya atau sebagai bunyi peringatan. Melalui musik Wukir ini, Titir telah dibunyikan.
"Selain bermakna sebagai tanda bahaya, Titir juga bentuk ungkapan duka, keprihatian serta solidaritas kemanusiaan terhadap bencana akibat rusaknya lingk alam akibat ulah manusia," ungkap sutradara Arek Suroboyo yang banyak mengangkat unsur budaya lokal ke panggung nasional dan internasional ini.
Masih kata Luhur, musik yang ditampilkan Wukir lebih menawarkan komposisi bunyi yang membangun kesadaran tentang alam dan keseimbangan yang harus terus terjaga.
Sebelumnya, pertunjukkan musik amal berjudul Titir yang dimainkan oleh Wukir Suryadi, komposer kelahiran Malang yang sudah membawakan karya-karyanya ke berbagai negara. Terangkai dengan pertunjukan ini, juga digelar diskusi publik dengan narasumber berbagai kalangan.
Untuk pembahasan ini dihadirkan 4 pembicara dari 4 ruang pemikiran dan gerak, yaitu Pradipta Indra dari Walhi Jatim, Yuska Harimurti dari Gusdurian, Fatkhul Khoir dari Kontras Surabaya, Joko Porong, akademisi sekaligus praktisi musik dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Pertunjukan musik yang mengawali gelaran ini menarik, karena irama musik yang ditampilkan sangat berbeda dengan musik popular. Bukan jazz, pop, reggae, rock atau blues. Musik karya Wukir Suryadi adalah musik eksperimental. Bunyi yang dilahirkan pun berasal dari alat musik yang diciptakannya sendiri.
Desiran musik terdengar seperti bunyi logam yang bergesekan atau besi yang diiris begitu dekat di telinga penonton. Ada juga bunyi senar yang dipetik, bersamaan dengan senar yang digesek, dipadu dengan bunyi alat musik pukul. Namun ada saat pula seperti aneka suara dari berbagai burung dan satwa, seolah Wukir membawa hutan ke dalam ruang stage Pendopo Taman Budaya Jatim.
Kemudian, diskusi pubik seusai pertunjukan musik, mencoba menganalisa, apa sebenarnya yang terjadi di alam Sumatera secara khusus, dan Indonesia secara umum sehingga terjadi bencana sedashyat itu.
Sejumlah narasumber yang hadir di diskusi ini adalah Yuska Harimurti dari komunitas Gusdurian Peduli, Pradipta Indra Ketua ED Walhi Jatim, Fatkhul Khoir dari Kontras Surabaya, serta Joko Porong,dosen musik Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Diskusi dimoderatori oleh Erna Andriyani, Direktur Yayasan Citakita. (*)
Editor : Tudji Martudji