Tinjau RS Kemenkes Surabaya

Menkes Budi Gunadi: Pemerintah Prabowo Serius Tingkatkan SDM, Wujudkan Indonesia Emas 2045

infonews.id
Menteri Kesehatan Budi Gunadi menjabarkan program kesehatan, juga pendidikan untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045, saat berkunjung ke RS Kemenkes Surabaya (IN/PHOTO: TUDJI)

SURABAYA, iNFONews.ID - Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menegaskan, pemerintahan Presiden Prabowo berkomitmen untuk membangun sumber daya manusia berkualitas mulai dalam kandungan. Dia mencontohkan lebih dari 26 negara menerapkan makan bergizi gratis lebih dari 40 tahun. Setelah itu fasilitas pendidikan yang kualifaid, tanpa pandang bulu, keluarga yang tidak mampu agar semua bisa bersekolah. 

 

"Itulah semangat Bapak Presiden Prabowo, ada MBG, kesehatan gratis dan pendidikan gratis. Dan, sudah diresmikan 146 Sekolah Rakyat yang diasramakan, menu makanan bergizi setiap hari. Dan, juga sudah diresmikan Sekolah Unggulan Garuda, itu semua untuk mencetak generasi sehat dan cerdas menyongsong Indonesia Emas tahun 2045," ujar Menteri Budi, disela berkunjung ke RS Kemenkes Surabaya di Jalan Indrapura, Surabaya, Kamis (22/1/2026).

 

Lanjut Menteri Budi, pemerintah juga menerapkan cek kesehatan gratis, mempermudah pelayanan kesehatan melalui BPJS, serta kebijakan-kebijakan lain melalui bea siswa termasuk mencetak tenaga kesehatan perawat trampil dan para dokter berkualitas, dengan belajar ke luar negeri. 

 

"Negara ini kaya raya, tetapi sumberdaya manusianya masih rendah. Itulah yang kita benahi, kita perbaiki dengan terus meningkatkan sumber daya manusia, jadi tolong rekan wartawan itu semua disampaikan," pinta Menteri Budi. 

 

Guna mewujudkan akselerasi dan peningkatan kompetensi dokter spesialis diantaranya ditempuh melalui program fellowship satu tahun guna memangkas waktu tunggu pendidikan medis yang dinilai terlalu lama.

 

“Kebijakan ini kami tempuh untuk mengejar ketertinggalan layanan kesehatan nasional dibanding negara tetangga sekaligus mempercepat ketersediaan tenaga ahli pada layanan berteknologi tinggi,” urainya.

 

Program tersebut dilakukan karena untuk menjadi ahli membutuhkan waktu puluhan tahun bagi seorang dokter mencapai kompetensi penuh, sehingga perlu terobosan tanpa mengabaikan mutu layanan.

 

Jika melihat dari pendidikan sebelumnya, kata dia, banyak dokter baru dapat menjadi ahli pemasangan ring jantung setelah menempuh waktu hingga sekitar 20 tahun.

Sehingga, lanjutnya, pemerintah menerapkan program fellowship satu tahun yang mampu mencetak sekitar 50 hingga 80 tenaga ahli.

 

Menkes Budi menambahkan program fellowship tersebut dijalankan bekerja sama dengan kolegium untuk memastikan standar kompetensi tetap terjaga dan selaras dengan kebutuhan layanan kesehatan nasional.

 

Selain percepatan pendidikan, ia juga menekankan prioritas pembekalan dokter muda dengan penguasaan teknologi kedokteran terkini agar kemampuan tenaga medis dalam negeri setara dengan standar internasional.

 

“Prioritas kita adalah bagaimana dokter-dokter muda ini tingkat karyanya sama. Mereka lebih cepat dan kalau bisa lebih tinggi kemampuannya karena terekspos teknologi baru,” ucapnya.

 

Dalam kesempatan itu, Budi juga menyoroti penguatan sarana penunjang di rumah sakit, termasuk penyediaan alat diagnosis kanker seperti PET-SCAN yang saat ini telah tersedia di 16 kota di Indonesia.

 

"Dari sisi biaya, layanan kesehatan di dalam negeri jauh lebih kompetitif dibandingkan luar negeri, namun keterbatasan alat dan tenaga ahli masih menjadi kendala utama," ujarnya.

 

Sementara itu, Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investasi Khusus (BAPPISUS) RI Aris Marsudiyanto menyatakan dukungan lintas sektoral terhadap kebijakan tersebut karena pembangunan rumah sakit bertaraf internasional harus diiringi kualitas sumber daya manusia.

 

“Ada alat, tidak ada orang, itu percuma. Maka pemerintah fokus mencetak SDM-nya, termasuk meningkatkan beasiswa LPDP untuk dokter-dokter berkualitas agar belajar ke luar negeri,” ujarnya.

Oleh karena itu, ia berharap dengan adanya upaya yang dilakukan oleh Kemenkes bisa mewujudkan Indonesia Emas 2045.

 

"Sekarang saatnya kita harus menciptakan generasi emas, karena pada tahun 2030-2035 akan ada bonus demografi, manusia produktif akan lebih banyak dibanding yang tidak, jadi ayo hidup sehat dan menjadi pintar," ajaknya. (*)

Editor : Tudji Martudji

Photo
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru