Oleh: Soeparli D. Atmadji
Mantan wartawan
Pengamat dan penyuka film
MANA yang lebih penting, usaha atau hasil? Kalau ditanya begitu, apa jawab Anda? Usaha lebih penting, hasil lebih penting, dua-duanya penting, atau dua-duanya tidak penting?
Baca juga: Guru : Transfer Ilmu v Penempa Karakter
Anda mungkin pernah dengar istilah do-nothing protagonist? Itu film yang karakter utamanya relatif tidak melakukan apa-apa tetapi sukses.
Film yang masuk kategori ini antara lain Forrest Gump dan Slumdog Millionaire. Kebetulan dua-duanya sukses di ajang Academy Award (Oscar). Forrest menang enam piala (termasuk film terbaik), Slumdog menang 8 piala (termasuk film terbaik).
Ada aroma “kebetulan” dalam dua film tersebut, memang. Tapi, benarkah melulu kebetulan? Kalau pernah nonton dua film tersebut, Anda pasti tahu apa jawabnya. Sebaliknya, banyak pula film yang menggambarkan karakter utamanya telah berusaha mati-matian tapi akhirnya tidak menang.
Rocky (film terbaik Oscar 1977), salah satunya. Masih berkaitan dengan petinju Rocky Balboa, 39 tahun kemudian ada Creed (2015). Di luar itu ada Bring It On (kompetisi pemandu sorak), serta Bandslam dan We are the Best (kompetisi musik).
Dari dalam negeri, setidaknya ada Nobody Loves Kay dan 12 Menit Kemenangan untuk Selamanya. Ada juga A+. Namun, yang ini bukan film. Ini serial yang rilis di Prime Video pada 2023.
Sebetulnya Laskar Pelangi juga kadang dimasukkan dalam kategori ini. Masalahnya, karakter utama dalam film ini akhirnya menang. Dan repotnya, film ini rasanya tidak pas juga disebut do-nothing protagonist.
Kembali ke pertanyaan di awal tulisan, mana yang lebih penting, usaha atau hasil? Saya pernah berkomentar begini tentang Laskar Pelangi. “Lihat saja saat Ikal dan kawan-kawan ikut lomba karnaval.
Tidak ada satu adegan pun yang menggambarkan mereka berlatih. Toh, begitu tampil, mereka digambarkan memukau penonton dan menang. Dalam pandangan saya, tragis bila sekelompok siswa digambarkan sukses jadi juara tanpa sedikit pun berusaha.”
Dengan komentar begitu, Anda mungkin berpikir saya menganggap usaha lebih penting daripada hasil. Bila ceritanya tentang anak yang sedang belajar, jawabnya iya. Saya tidak menganggap hasil tidak penting. Namun, anak yang sedang belajar harus diyakinkan bahwa tidak ada sukses tanpa usaha, tidak ada hasil tanpa proses.
Saya tidak menafikan kemungkinan pandangan saya salah. Apalagi, penonton bioskop sepertinya lebih menyukai hasil daripada proses.
Nobody Loves Kay, yang karakter utamanya tidak menang kompetisi e-sport meski telah berusaha keras, mencatat 120-an ribu penonton. Lakar Pelangi, yang karakternya menang meski (dalam kasus lomba karnaval) relatif tanpa usaha, mencatat 4,6 jutaan penonton.
Baca juga: Pelecehan Seksual, Selalukah Cowok Pelaku dan Cewek Korban?
Serial A+, yang karakternya juga tidak menang, memang mencatat sukses besar juga. Namun, serial ini tidak diputar di bioskop. Ia diputar di Prime Video dan penontonnya bisa dibilang dari seluruh dunia.
Jumlah penonton bioskop, mungkin, tidak bisa dijadikan acuan. Tapi, tidakkah di kehidupan sehari-hari juga begitu? Orang tua mana, misalnya, yang tidak marah bila rapor anaknya buruk? Sekeras apa pun anak belajar sepanjang tahun, kalau sampai rapornya buruk, apalagi tidak naik kelas, dia harus siap dimarahi.
Jarang ada orang tua yang merespon dengan kalimat, "Tidak perlu terlalu bersedih. Kamu sudah berusaha keras. Itu yang penting. Kalau sekarang belum berhasil, besok berusaha lebih keras lagi."
Sebaliknya, kalaupun tidak pernah tampak belajar, seorang anak tetap akan mendapat hadiah (minimal dipuji) jika dia naik kelas dengan rapor bagus, apalagi ranking satu. Langka, kalau masih ada, orang tua yang merasa perlu bertanya, “Bagaimana kamu bisa mendapatkan nilai bagus padahal tidak pernah belajar?”
Dulu, saat anak saya masih sekolah, kadang ada yang cerita betapa sekolah “membantu” (alih-alih curang) murid-muridnya untuk mendapatkan nilai tinggi dalam ujian nasional (unas). Saya berharap cerita yang pernah saya dengar itu tidak benar. Kalaupun benar, saya berharap cerita begitu tidak ada lagi sekarang dan seterusnya.
Sebab, dengan pengalaman begitu, tidak mungkinkah akan ada siswa yang tidak merasa perlu berusaha keras, belajar mati-matian, untuk bisa lulus ujian?
Bila pengalaman begitu berulang, tidak mungkinkah anak akan cenderung memilih jalan pintas, hanya menghargai hasil dan mengabaikan proses? Yang penting lulus, tak peduli harus nyontek. Yang penting punya ijazah, tak peduli hasil beli. Dan, bila sikap begitu terbawa sampai dewasa, tidak mungkinkah mereka akan berpikir, yang penting kaya, tidak penting kalaupun harus korupsi?
Baca juga: Untung Juga Kagak, Ngapain Bikin Orang Marah
Di tulisan sebelumnya, kita sempat menyinggung peran guru sebagai penempa karakter. Menempa karakter, tentu, tidak cukup mengajarkannya sekadar sebagai pengetahuan.
Sebab, pengetahuan sering tak berbanding lurus dengan perilaku. Ibu-ibu sekarang umumnya tahu bahwa ASI (air susu ibu) adalah makanan terbaik untuk bayi. Toh, tidak sedikit yang mengandalkan susu formula. Kebanyakan orang tahu merokok tidak sehat. Toh, perokok tetap banyak.
Sikap menghargai usaha, bahwa tidak ada sukses tanpa usaha, tidak ada hasil tanpa proses, harus dilatih, dibiasakan, dijadikan bagian dari karakter anak.
Dengan begitu, mereka akan merasa ada yang tidak biasa bila ada hasil besar tanpa terlihat proses untuk mencapainya. Dengan begitu, saat masih sekolah pun anak mungkin saja bisa dengan kritis bertanya, “Bapak ini gajinya tidak besar, kok bisa beli rumah mewah dan mobil miliaran?
Editor : Alim Kusuma