Jumat, 06 Feb 2026 10:54 WIB

Di Jambore III, Komunitas Banyu Bening Dorong Pemanfaatan Air Hujan, Solusi Krisis Air

Sri Wahyuningsih bersama pemateri lainnya hadir di Jambore FPRB ke-3 di Banyuwangi (IN/PHOTO: dok Sekolah Air Hujan, Banyu Bening)
Sri Wahyuningsih bersama pemateri lainnya hadir di Jambore FPRB ke-3 di Banyuwangi (IN/PHOTO: dok Sekolah Air Hujan, Banyu Bening)

BANYUWANGI, INFONews.ID - Komunitas Banyu Bening, yang dipimpin Sri Wahyuningsih (Bu Ning), terus mendorong pemanfaatan air hujan sebagai solusi krisis air bersih. Gerakan ini tidak hanya menghidupkan kembali kearifan leluhur, tetapi juga menjadi langkah nyata menjaga keberlanjutan lingkungan. Melalui konsep 5M, Menampung, Mengolah, Meminum, Menabung, dan Mandiri air, Banyu Bening mengajak masyarakat untuk menjadikan air hujan sebagai sumber kehidupan.

 

Sejak berdiri pada 22 Maret 2012 bertepatan Hari Air Sedunia di Dusun Tempursari, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta, gerakan ini terus berkembang hingga menjangkau berbagai daerah, termasuk Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, bahkan sampai Merauke. 

 

Untuk memperkuat edukasi, Komunitas Banyu Bening mendirikan Sekolah Air Hujan pada 9 September 2019. Sekolah ini dibina oleh Drs. Pangarso Suryotomo, M. MB,. Direktur Kesiapsiagaan BNPB, dan setiap tahun memperingati berdirinya dengan menggelar ritual budaya Kenduri Banyu Udan yang jatuh pada tanggal 9 September hingga waktu di jam 9 lebih 9 menit, 9 detik. 

 

Kehadiran Sekolah Air Hujan dalam Jambore FPRB ke-3 (12-14 September 2025) di Banyuwangi itu semakin memperluas kiprahnya. PRB (Pengurangan Risiko Bencana), merupakan upaya sistematis untuk mengurangi dampak buruk bencana, baik melalui pendidikan, pencegahan, maupun mitigasi. 

 

"Pemanfaatan air hujan dianggap sebagai salah satu solusi, strategi penting menghadapi ancaman krisis air dan perubahan iklim," ujar Bu Ning.

 

Tidak hanya tampil di forum tersebut, Sekolah Air Hujan juga akan hadir dalam rangkaian Bulan PRB di Bumi Majapahit Mojokerto, yang akan digelar 1–3 Oktober 2025, mendukung pengurangan risiko bencana. 

 

Dalam kegiatan ini, Sekolah Air Hujan berkolaborasi dengan Dompet Dhuafa, yang dipimpin oleh Ahmad Luckman, serta Founder RAIN (Relawan Indonesia), untuk menyediakan dan mendukung pemanfaatan air hujan bagi peserta, dan warga yang hadir.

 

Melalui momentum Bulan PRB, diharapkan masyarakat semakin sadar bahwa bumi tengah menghadapi krisis air serius. 

 

"Karena itu, sudah saatnya menghentikan eksploitasi air tanah dan beralih pada pemanfaatan air hujan. Selain untuk kebutuhan hidup, air hujan yang ditampung juga bisa dikembalikan ke tanah secara sadar melalui berbagai metode seperti biopori, sumur resapan, dan lumbung air," urainya.

 

Perlu disadari, bahwa tanpa air, pertanian, perkebunan, dan peternakan tidak akan mungkin terwujud. Air adalah sumber kehidupan dari sumber-sumber air tanah atau mata air yang juga dimasifkan dengan tanaman konservasi. (Ainaya Nurfadila)

Editor : Tudji Martudji