Oleh: Ali Masduki
Devisi SDM PFI Kota Surabaya
DUNIA dalam genggaman mengubah setiap orang menjadi produsen informasi. Namun, kemudahan menangkap momen lewat ponsel menyimpan risiko yang sering luput dari perhatian, tumbangnya kebenaran demi mengejar estetika.
Banyak pemula terjebak ambisi menciptakan gambar indah dengan memanipulasi digital atau penataan objek yang tidak masuk akal untuk menciptakan narasi visual yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Padahal dalam ruang publik, fakta adalah panglima tertinggi.
Foto jurnalistik bukan sekadar urusan komposisi simetris atau permainan cahaya yang dramatis. Keindahan visual hanyalah kulit luar. Inti sarinya tetap pada kejujuran pesan.
Tanpa integritas, gambar yang terlihat keren justru bisa berbalik merugikan pengunggahnya.
Membagikan visual tanpa memahami sudut pandang (angle) dan konteks sama saja dengan menyebar bom waktu di ruang digital.
Garis Api Kejujuran vs Manipulasi
Terdapat batas tegas yang memisahkan hobi fotografi dengan karya jurnalistik. Fotografi umum sah-sah saja melakukan pengaturan (set-up) demi kepuasan seni. Sebaliknya, jurnalisme mengharamkan rekayasa.
Karya foto berita wajib lahir dari aktualitas. Keindahan teknis hanya berfungsi sebagai pengeras suara agar pesan sampai ke nurani pembaca, bukan alat untuk memoles kebohongan agar tampak nyata.
Setiap sudut pengambilan gambar membangun perspektif publik tertentu. Angle yang keliru atau diambil asal-asalan berpotensi memicu disinformasi massal. Ketajaman visual wajib berjalan beriringan dengan substansi fakta yang kuat.
Rapuhnya Tafsir Tanpa Kata
Saya pernah menguji sebuah foto di salah satu SMK di Surabaya yang memperlihatkan kontak fisik kasar antar pelajar.
Secara spontan, audiens menghakiminya sebagai aksi perundungan (bullying). Realitasnya? Mereka adalah sahabat karib yang sedang bercanda gurau.
Potret tersebut menjadi bukti betapa rapuhnya mata manusia. Tanpa keterangan foto (caption) yang terverifikasi, audiens akan menafsirkan gambar berdasarkan prasangka masing-masing.
Bayangkan jika foto "bercanda" itu viral tanpa penjelasan. Reputasi siswa hancur dan nama baik sekolah terkoyak dalam hitungan detik.
Verifikasi bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban. Sebelum jemari menekan tombol share, tanyakan pada subjek atau keadaan. “Apa yang sebenarnya terjadi?”. Prinsip saring sebelum sharing adalah benteng terakhir kita melawan kekacauan informasi.
Tanggung Jawab Penjaga Kebenaran
Menjadi jurnalis warga di platform TikTok atau Instagram memberikan kita kekuatan kontrol sosial. Kita memiliki ruang untuk menyuarakan aspirasi masyarakat atau membangun citra positif komunitas. Namun, kekuatan besar ini menuntut tanggung jawab yang setimpal.
Selain penguasaan teknis agar karya mudah ditemukan di mesin pencari, etika tetap menjadi fondasi utama. Pastikan setiap unggahan memenuhi ceklis dasar:
-
Keaslian: Apakah momen ini benar-benar terjadi tanpa rekayasa?
-
Konfirmasi: Sudahkah bertanya langsung kepada subjek di dalam foto?
-
Konteks: Apakah sudah menjawab unsur siapa, melakukan apa, kapan, dan di mana?
-
Integritas: Apakah unggahan ini bertujuan memberi informasi atau justru memicu fitnah?
Kamera di tangan Anda bisa menjadi alat perubahan yang hebat atau senjata yang melukai orang lain. Pilihan bergantung pada seberapa besar Anda menghargai sebuah kebenaran.
Editor : Alim Kusuma