Jumat, 06 Feb 2026 12:32 WIB

Belajar Konservasi di Tengah Hutan, Baung Ecological Camp 2025 Hadirkan Ruang Edukasi Alam

Peserta, Gen Z antusias mengikuti diskusi dan praktik lapangan (IN/PHOTO: CCM)
Peserta, Gen Z antusias mengikuti diskusi dan praktik lapangan (IN/PHOTO: CCM)

PASURUAN, iNFONews.ID — Di tengah derasnya pembangunan yang kian masif, sebuah ruang belajar tumbuh di Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Baung, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Selama tiga hari, pada 8–10 September 2025, puluhan peserta muda mengikuti Baung Ecological Camp (BEC) 2025, sebuah kegiatan yang bukan sekadar perkemahan, melainkan “sekolah kehidupan” yang menanamkan kesadaran, bahwa pembangunan harus selaras dengan konservasi demi keberlangsungan peradaban manusia.

 

Acara ini diinisiasi oleh Baung Camp serta Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Jawa Timur, berkolaborasi Jelajah Outdoor. Mengusung konsep ruang belajar di alam. Di area ini peserta diajak untuk menyelami ekologi hutan, konservasi satwa, hingga praktik jurnalisme lingkungan.

 

Kolaborasi untuk Konservasi

“Konservasi tidak bisa berjalan sendiri, harus ada kolaborasi agar keberlanjutan terjaga. Inilah semangat utama dari Baung Ecological Camp,” ungkap salah satu panitia.

 

Hal senada ditegaskan Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., yang membuka sekaligus memberikan materi utama.

 

“Konservasi itu harus sejalan dengan pembangunan, selaras dengan kesinambungan kehidupan,” tegas Nur Patria.

 

Dalam pemaparannya, Nur Patria mengingatkan bahwa hutan adalah kitab kehidupan: penyedia udara, air, tanah subur, hingga habitat satwa dan tumbuhan. 

 

“Hutan bukanlah warisan leluhur semata, melainkan titipan untuk generasi mendatang. Jika kita gagal menjaganya hari ini, maka esok tak ada yang bisa diwariskan,” terangnya.

 

Ia juga menekankan tiga pilar konservasi: perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman hayati, dan pemanfaatan lestari. Konservasi, lanjutnya, hanya bisa berhasil bila dijalankan bersama antara pemerintah, akademisi, NGO, dunia usaha, dan masyarakat.

Pesan untuk Gen Z

Di bawah rindang pepohonan Gunung Baung, peserta Gen Z terlihat antusias mengikuti diskusi, praktik lapangan, hingga sesi berbagi inspirasi. Nur Patria memberi pesan kuat tentang berbagai hal.

 

“Gen Z bukan untuk gengsi, tetapi untuk berkreasi dan berinovasi. Inovasi itu harus diarahkan untuk mendukung keberlangsungan keanekaragaman hayati. Selalu ada ruang untuk melahirkan ide-ide baru yang membawa kebaikan bagi bumi," urainya.

Sementara, bagi peserta pengalaman ini meninggalkan kesan mendalam. Misalnya Lika, mahasiswa Institut Pertanian Malang asal NTT, menuturkan bahwa ilmu yang didapat di BEC berbeda dengan apa yang ia peroleh di bangku kuliah.

 

“Ilmu di sini lebih nyata, langsung dari alam. Ini akan menjadi bekal saya dalam setiap aktivitas di alam bebas di kemudian hari,” ucapnya.

 

Harapan untuk Tahun Depan

BEC 2025 menegaskan bahwa konservasi adalah tanggung jawab bersama. Lebih dari sekadar kegiatan, ini adalah mandat untuk melahirkan dialog, inovasi, dan pembaruan ilmu. Nur Patria bahkan berharap kegiatan serupa wajib hadir kembali pada 2026, dengan cakupan yang lebih luas, tidak hanya daratan tetapi juga ekologi laut, pesisir, dan area di luar kawasan hutan yang kaya biodiversitas.

 

Dari Gunung Baung, pesan itu mengalir, jaga hutan, pulihkan habitat, lestarikan satwa. Sebab menjaga hutan hari ini adalah memastikan keberlangsungan hidup generasi esok. (*)

Editor : Tudji Martudji