Stadium General Saintek 2025, Dialog Ajak Mahasiswa Baru Peduli Lingkungan 

Mahasiswa baru diajak dialog, peduli lingkungan dan alam (IN/PHOTO: DOK)
Mahasiswa baru diajak dialog, peduli lingkungan dan alam (IN/PHOTO: DOK)

SURAKARTA, INFONews.ID — Dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-33, Jurusan Sains dan Teknologi UIN Raden Mas Said Surakarta menggelar acara Stadium General Saintek 2025 yang bertempat di Aula SBSN.

Dr. Purwono,. M. Si. Ketua jurusan Sains dan Teknologi dalam sambutannya menegaskan, kegiatan ini tak hanya menjadi bagian dari perayaan hari lahir kampus, tetapi juga menjadi momen penting dalam menyambut mahasiswa baru tahun akademik 2025/2026.


Dengan mengangkat tema “Muslim Saintis in the Making: Competitive, Ethical, Global”, acara ini dirancang untuk memberikan pengantar yang kuat dan inspiratif bagi mahasiswa baru dalam memasuki dunia akademik dan pengembangan diri sebagai saintis muslim yang berkarakter.

Acara ini di hadiri juga oleh Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah Prof. Dr. Fauzi Muharrom, M. Ag yang juga memberi sedikit sambutan kepada seluruh MaBa (Mahasiswa Baru) untuk selalu semangat bersama, datang bareng, lulus tepat waktu.

Persiapkan mental dan akademik karena saat ini sudah Mahasiswa bukan Siswa, jadi harus beradaptasi, bersikap menjadi Mahasiswa. Semua yang masuk di UIN Raden Mas Said Surakarta adalah Anugerah dari Alloh SWT.

Acara ini diprakarsai oleh Jurusan Sains dan Teknologi dan menghadirkan sosok inspiratif Sri Wahyuningsih, S.Ag., pendiri Sekolah Air Hujan Banyu Bening dalam naungan Yayasan Mutiara Banyu Langit, sebagai narasumber utama.

Dikenal sebagai tokoh perempuan di bidang lingkungan hidup dan pemberdayaan masyarakat, Bu Ning (panggilan sehari-hari) memberikan paparan yang membumi namun penuh makna.

"Para mahasiswa, khususnya para mahasiswa baru, untuk tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga membentuk kepekaan sosial dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar," kata Bu Ning.

Ia menegaskan bahwa menjadi saintis muslim tidak cukup hanya dengan menguasai ilmu, tetapi juga harus mampu memahami realitas sosial dan budaya, serta menghadirkan solusi yang berakar pada kearifan lokal.

"Saintis masa depan adalah mereka yang tidak hanya berpikir logis dan ilmiah, tetapi juga punya empati, etika, dan komitmen untuk menjaga harmoni alam dan masyarakat," tegasnya. 


Sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, pelaksanaan Stadium General ini juga mengajak peserta untuk mulai menerapkan gaya hidup ramah lingkungan. Seluruh peserta diminta membawa tumbler sendiri sebagai langkah sederhana untuk mengurangi sampah plastik.

Meskipun kecil, kebiasaan ini diharapkan bisa menjadi awal yang baik dalam membentuk kesadaran lingkungan di kalangan mahasiswa.

Sebagai forum penyambutan mahasiswa baru, acara ini tidak hanya mengenalkan mereka pada dunia kampus, tetapi juga membuka cakrawala berpikir mereka tentang peran dan tanggung jawab sebagai insan akademik.

Diskusi interaktif antara mahasiswa dan narasumber berlangsung dinamis, terlihat antusiasme dan semangat kritis mahasiswa baru dalam menyerap nilai-nilai yang ditanamkan.

Mereka tidak hanya mendengarkan, tetapi juga terlibat aktif, bertanya, dan berbagi pandangan mengenai tantangan global, isu lingkungan, serta bagaimana menjadi ilmuwan yang tetap berpijak pada nilai-nilai Islam. (*)

Editor : Tudji Martudji