Sabtu, 07 Feb 2026 00:27 WIB

"Para Petarung" Teater Djarum Diharap Jadi Menu Utama Kerangka Besar Jagat Teater Indonesia

Asa Jatmiko dan pemain "Para Petarung" usai menggelar pertunjukan di Graha Sawunggaling, UNESA Kampus 2 Lidah Wetan, Lakarsantri, Surabaya, Sabtu 19 Juli 2025, malam (IN/FOTO: TUDJI)
Asa Jatmiko dan pemain "Para Petarung" usai menggelar pertunjukan di Graha Sawunggaling, UNESA Kampus 2 Lidah Wetan, Lakarsantri, Surabaya, Sabtu 19 Juli 2025, malam (IN/FOTO: TUDJI)

SURABAYA, iNFONews.ID - Di Sutradarai Asa Jatmiko, Teater Djarum usung pertunjukan teater dengan judul "Sang Petarung" bekerjasama dengan Laboratorium Seni sukses digelar di Graha Sawunggaling Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Kampus 2 Lidah Wetan, Lakarsantri, Surabaya, Sabtu (19/7/2025), malam.

Rangakaian pentas keliling tampilan perdana dimulai di Kota Pahlawan ini mendapat sambutan antusias pecinta seni khususnya seni teater di Surabaya, terbukti kursi undangan penuh, sejak awal hingga pertunjukan usai. Terjadwal, dari Surabaya seluruh personil teater termasuk tim pendukung melanjutkan pentas ke Bandung, Surakarta dan Kudus.

Asa Jatmiko mengisahkan, lakon yang disuguhkan menampilkan keseharian, dinamika dan problematik sehari-sehari. Mereka, orang-orang kecil, orang-orang yang tidak memiliki nama, orang-orang yang hanya memiliki mimpi sederhana.

"Mereka tetap mencintai kehidupan, meski habis semua yang mereka punya. Mereka akan selalu hidup, sebab ada yang mereka perjuangkan, merekalah para petarung," kata Asa Jatmiko.

Pergulatan orang-orang tak dikenal dalam memperjuangkan kayakinan kebenarannya itulah yang disuguhkan di lakon "Para Petarung" oleh Teater Djarum di pentas keliling tahun 2025.

"Surabaya, bertempat di Unesa (maaf, tidak ada maksud apapun soal pemilihan tempat), ini menandai pentas produksi Teater Djarum ke-38," ucapnya.

Dipilihnya Surabaya, sebagai kota pertama pertunjukkan "Para Petarung" karena telah bekerjasama dengan Laboratorium Seni Unesa. Berbeda dengan karya sebelumnya, malam itu Teater Djarum menampilkan sebuah pertunjukan yang dibumbuhi musikal. Itu disebut menjadi pengalaman baru sekaligus tantangan baru.

"Aktor mempunyai tanggungjawab mewujudkan pemikiran dan tindakan karakter yang diperankannya tidak hanya melalui dialog, namun juga secara musikal, meski ini memang tidak mudah," urai Asa Jatmiko, saat mengisahkan kepada media.

Nama pemain di "Para Petarung" antara lain, Heru Nugroho, Aeliza Mariyana, Wijayanto, Franciosa, Rahmat Syaifudin, Anang Ma'ruf, Riska Meriani, Uptalia, Lulu'atul Mufida, Silvester Vico Hutomo, Dewi Evelyn Murti.

Deretan lagu digubah oleh Ninin Widhiyanto, komposer musik dan ilustrasi Giwang Topo, Stage Manager Andreas Teguh, asisten sutradara Masrien Lintang dan Bambang Susanto. Pemimpin produksi Teresa Rudiyanto. Logistik, Abdul Soleh, Koreografer Anggi Putri Hartanti, Koor Apriliana Dewi, Amelia Viara Rahman, Putri Lestari, Nabila Khurun Aini, Bondan Dwi Cahyono, Deni Anggaresta, Abdul Ghofar, Rizki Ananda Putra, Galuh Eka Perdana. Tim Artistik Arvian Yofi Pratama, Kemal Maesal Azam, Choitul Azis, Ahmad Huzaeni, Syarief Hidayat, Aditya Debe Seputra. Rias dan Kostum, Sriyantun Lala, Umi Setiyani, Alvatika Oktafiyana.

Asa Jatmiko menuturkan, di Teater Djarum seluruh anggotanya merupakan karyawan PT Djarum, yang memiliki program rutin tiap tahunnya antara lain, pentas karya dan penyelenggaraan festival teater pelajar. Beberapa lakon pentas keliling sebelumnya menampilkan "Petuah Tampah" kemudian "Nara", kedua pertunjukan itu mengangkat kaerifan lokal dalam pertarungan budaya yang sengit. Di tahun 2024 Teater Djarum mementaskan "Liang Langit".

Pertunjukan yang digelar gratis ini, terbilang sukses, pengunjung mengaku puas setelah menyaksikan hingga tuntas. Harapannya semakin mempererat tali silaturahmi Teater Djarum dengan masyarakat teater di Surabaya. Pertunjukan Teater Djarum, pertemuan dan dialog hangat diharapkan juga menjadi menu utama dalam kerangka besar jagat teater Indonesia yang semakin inspiratif dan bertumbuh.

Usai pertunjukan, pertemuan dan dialog digelar hangat, apresiasif diwarnai tanya jawab juga guyonan bersaut dengan sosok Malik mengiringi konferensi pers. Sejumlah penanya, penanggap dan media turut memberikan apresiasi dan sejumlah catatan. Dari kampus Unesa, juga pemerhati diantaranya ada Kusprihyanto Namma, ia mengapresiasi dan menilai "Para Petarung" tak pernah selesai bertarung.

"Naskah drama Asa Jadmiko (5) ini, babak yang penuh dengan intrik. Sepuluh pemain, Rukmi, Suli, Partiyem, Wartiyah, Martosuto, Sukeni, Karsito, Malik, Bhirawa dan Den Karso. Pemilihan nama Jawa mengisyaratkan bahwa karakter Jawa bagi para pemainnya. Lemah lembut, pemalu, sopan pada sisi luarnya. Namun, pada sisi yang lain bisa seperti macan yang siap menerkam dan mencabik-cabik mangsa," urai Kusprihyanto Namma, yang juga penyair, dramawan dan guru, tinggal di Ngawi.

"Secara substansi, pertunjukan Teater Djarum banyak mengandung pesan moral yang kuat. Ada banyak latar hidup pelakon yang ditampilkan seolah meneguhkan perjuangan hidup untuk lebih baik kedepan. Lakon "Para Petarung" menghentak kesadaran kita bahwa hidup memang harus diperjuangkan," ujar Elis Yusniyawati (Elisyus), Pengamat Sosial dan Komunikasi Publik, yang hadir dan menyimak pertunjukkan mulai awal hingga usai. (*)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Tudji Martudji