Dr. Lia Istifhama, M.E.I. (Ketua Perempuan Tani HKTI Jatim)
Perjalanan negeri kita, Indonesia, sarat akan sejarah perjuangan anak bangsa, terutama dari kaum perempuan yang membentuk karakter anak bangsa melalui perannya sebagai ‘Ibu’.
Diantara begitu banyak pelaku sejarah yang harus selalu kenang adalah sosok Ibu Kartini. Lahir pada 21 April 1879, Raden Adjeng (Ayu) Kartini merupakan putri bangsawan dari Desa Mayong, Jepara, Jawa Tengah.
Ayahnya R.M.A.A. Sosroningrat adalah seorang wedana (pejabat pemerintah), sedangkan Ibunya bernama M.A. Ngasirah putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, tokoh agama di Jepara.
Seperti kita ketahui, beliau dikenang sebagai tokoh perempuan inspiratif yang sangat melegenda dan menjadi pintu terbukanya emansipasi wanita di era penjajahan. Dikenal memiliki spirit: “Kita harus membuat sejarah. Kita mesti menentukan masa depan Kita yang sesuai keperluan Kita sebagai kaum wanita dan harus mendapat pendidikan yang cukup seperti halnya kaum laki-laki”, Kartini berhasil membuka mata kaum perempuan saat itu, untuk memiliki mimpi besar, yaitu kesamaan dengan kaum laki-laki, terutama dalam hal pendidikan.
Sosok R.A Kartini yang meninggal di usia 25 tahun, telah memberikan gagasan besar sebagai penggerak kemajuan perempuan. Bermula dari surat-suratnya yang dikirim pada sahabat-sahabatnya di Eropa tentang mimpinya mewujudkan kesejahteraan gender, Kartini menjadi ikonik Mimpi Perempuan untuk Bangsa.
Tidak sedikit pihak yang mengagumi isi surat-surat beliau sehingga membukukannya sebagai pengejawantahan mimpi Kartini dan spirit perjuangan perempuan, sekalipun buku-buku tersebut justru diterbitkan setelah Kartini wafat.
Diantaranya adalah “Door Duisternis tot Licht” (Dari Kegelapan Menuju Cahaya) oleh Jacques Abendanon (1911) dan “Habis Gelap Terbitlah Terang” versi Armijn Pane (1938).
Beberapa isi surat tersebut, antara lain: “Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa behagia baginya.” (Suratnya kepada Nyonya Van Kool, Agustus 1901).
“Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”. (Suratnya kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1901).
"Kami sekali-kali tidak hendak menjadikan murid-murid kami menjadi orang setengah Eropa atau orang Jawa yang kebarat-baratan". (Suratnya kepada Nyonya Abendanon, 10 Juni 1902).
Dari kumpulan surat-surat tersebut, terkandung mimpi dan harapan seorang Kartini agar perempuan Jawa yang semula hidup dalam berbagai pembatasan, memiliki harapan perubahan seperti halnya kaum perempuan di Eropa, yang dalam hal ini kesamaan hak pendidikan seperti halnya kaum laki-laki.
Begitu besarnya pengaruh sosok Kartini dalam membangun pemikiran kaum perempuan, membuat Bapak Proklamator Soekarno pada tahun 1964 memberikannya gelar Pahlawan Nasional dan setiap tanggal 21 April adalah peringatan Hari Kartini.
Dapat disimpulkan, sosok Kartini-lah yang menjadi pengejawantahan mimpi untuk Indonesia, bahwa kaum perempuan-lah yang menjadi pembentuk anak bangsa yang cerdas dan memiliki spirit memajukan bangsa sendiri tanpa harus menjadi bangsa lain.
Dan mimpi tersebut dapat terwujud jika kaum perempuan mendapatkan hak pendidikan yang baik, sehingga mampu mendidik anak-anak mereka secara terdidik.
Direlevansikan dengan Islam, bahwa Islam sangat mengutamakan penghormatan kepada kaum perempuan. Diterangkan dalam sebuah hadis: خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِلنِّسَاءِ (رواه الحكيم عن ابن عباس) “Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik kepada orang perempuan.” (HR. Hakim dari Ibnu Abbas, Kitab Al-Jami’us Shaghier, hadis nomor 4101).
Islam juga menekankan pentingnya pendidikan bagi anak, yang mana proses tersebut terbentuk dari keluarga, yaitu peran seorang ibu, sebagaimana hadis: اِنَّ مِنْ حَقِّ الْوَلَدِ عَلَى وَالِدِهِ اَنْ يُعَلِّمَهُ الْكِتَابَةَ, وَاَنْ يُحَسِّنَ اسْمَهُ, وَاَنْ يُزَوِّجَهُ اِذَا بَلَغَ (رواه ابن النجار عن ابى هريرة)
“Sesungguhnya adalah termasuk kewajiban orang tua terhadap anaknya mengajarinya menulis, memberinya nama yang baik dan mengawinkannya apabila telah sampai umur.” (HR. Ibnu Najar dari Abu Hurairah, Kitab Al-Jami’us Shaghier, hadis nomor 2489).
Dengan begitu, perempuan memegang posisi penting bagi keberlangsungan mental dan pendidikan generasi bangsa.
Maka akhir kata, Kaum Perempuan, Tetaplah Bangun Mimpi Untuk Indonesia. Mari kita bergandengan tangan untuk membangun kebaikan untuk bangsa kita, seperti halnya yang ditekankan dalam Al-Qur’an, surat Ar-Ra’du Ayat 11: إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (*)
Editor : Redaksi