Selasa, 21 Jul 2026 06:01 WIB

Sereh Wangi Pulihkan Lahan Rusak di Sigi, Produk Desa Pulu Kini Tembus Amerika Serikat

Sereh wangi dipilih karena mampu tumbuh di lahan berpasir dan miskin unsur hara. INPhoto/Contentro
Sereh wangi dipilih karena mampu tumbuh di lahan berpasir dan miskin unsur hara. INPhoto/Contentro

SIGI, INFONEWS.ID - Tanaman sereh wangi menjadi titik balik pemulihan lahan pertanian yang rusak akibat banjir di Desa Pulu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Berawal sebagai upaya mengatasi erosi dan mengembalikan fungsi lahan, tanaman tersebut kini berkembang menjadi sumber ekonomi baru melalui produk minyak atsiri yang telah menarik pembeli hingga Amerika Serikat.

Desa Pulu merupakan salah satu wilayah yang rentan dilanda banjir setelah gempa dan cuaca ekstrem beberapa tahun terakhir. Endapan pasir yang dibawa banjir mengubah sebagian lahan pertanian menjadi tidak produktif, sehingga memukul mata pencaharian warga yang bergantung pada sektor pertanian.

Data di desa menunjukkan banjir sepanjang 2020–2021 berdampak kepada sekitar 1.365 warga. Produksi pertanian merosot tajam dengan tingkat kerugian yang diperkirakan mencapai hampir 70 persen bagi masyarakat terdampak.

Kondisi itu mendorong Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Pulu sekaligus pemilik usaha Lana Tumbavani, Dilah Sahim, mencari solusi yang berfokus pada pemulihan lingkungan, bukan keuntungan ekonomi.

Sereh wangi dipilih karena mampu tumbuh di lahan berpasir dan miskin unsur hara. Sistem perakarannya membantu memperkuat struktur tanah, sementara penanaman bersama bambu dimanfaatkan untuk mengurangi erosi di sepanjang bantaran sungai.

"Di awal kami tidak berpikir soal bisnis sama sekali. Yang penting lahan aman dan tidak semakin rusak, soal ekonomi itu datang belakangan," ujar Dilah.

Seiring kondisi lahan membaik, muncul peluang mengolah daun sereh wangi menjadi minyak atsiri yang banyak digunakan sebagai bahan baku produk spa dan perawatan tubuh. Dari proses itulah lahir Lana Tumbavani, usaha desa yang mengembangkan hasil tanaman restorasi menjadi produk bernilai tambah.

Namun, produksi minyak atsiri tidak berlangsung instan. Tanaman baru bisa dipanen sekitar delapan bulan setelah ditanam, kemudian dipanen setiap tiga bulan. Dari sekitar 200 kilogram daun sereh wangi, hanya dihasilkan sekitar 200 mililiter minyak atsiri murni tanpa tambahan bahan sintetis.

Skala produksi yang masih terbatas justru menjadi kekuatan karena kualitas minyak yang dihasilkan menarik perhatian pembeli mancanegara. Pada 2024, produk Lana Tumbavani mulai diminati konsumen dari Malaysia, Nepal, hingga Amerika Serikat.

Selain minyak atsiri, usaha tersebut kini memproduksi minyak pijat, sabun herbal berbahan daun kelor lokal, lilin aromaterapi berbasis lilin lebah, serta parfum padat.

Nama Lana Tumbavani diambil dari bahasa Kaili. "Lana" berarti minyak, sedangkan "Tumbavani" berarti sereh. Setiap produk yang dipasarkan membawa cerita tentang pemulihan lingkungan dan keterlibatan masyarakat desa, bukan sekadar menawarkan aroma atau manfaat relaksasi.

Di tengah meningkatnya permintaan global terhadap produk wellness berkelanjutan, BUMDes Pulu mendapat pendampingan dari Gampiri Interaksi melalui program inkubasi GIAT 2.0. Pendampingan difokuskan pada penguatan model usaha, mulai dari struktur biaya, kapasitas produksi, strategi harga, hingga kesiapan memasuki pasar.

Perwakilan Gampiri Interaksi, Nedya Sinintha Maulaning, menilai praktik di Desa Pulu merupakan contoh ekonomi restoratif, yakni model pembangunan yang menempatkan pemulihan lingkungan sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi.

"Kami melihat ini sebagai praktik ekonomi restoratif, bukan bisnis konvensional. Alam dipulihkan, masyarakat bergerak, dan produk punya nilai yang jelas. Kalau salah satu dilepas, model ini runtuh," katanya.

Menurut Gampiri, pendekatan tersebut berbeda dengan pola pembangunan yang selama ini mengejar pertumbuhan ekonomi lebih dulu sebelum memperhatikan kondisi lingkungan.

"Biasanya alam diperas dulu, baru ekonomi dibagi. Di sini justru alam dipulihkan dulu, baru ekonomi tumbuh. Itu yang membuatnya lebih tahan lama," ujar Nedya.

Bagi Desa Pulu, dampak pemulihan lingkungan mulai terlihat. Penanaman sereh wangi membantu menstabilkan lahan seluas kurang dari satu hektare yang sebelumnya tertutup pasir dan dianggap tidak produktif. Warga juga menilai risiko banjir di sejumlah titik mulai berkurang, meski masih berdasarkan pengamatan di lapangan.

Dilah menegaskan keberhasilan usaha desanya tidak bisa dipisahkan dari upaya memulihkan alam.

"Kalau lingkungannya tidak pulih, tidak akan ada produk, dan tidak akan ada pendapatan. Yang kami lakukan hanya membuktikan bahwa merawat alam bisa langsung berdampak ke ekonomi warga," ujarnya.

Praktik di Desa Pulu juga menjadi bagian dari dorongan Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) dalam mengembangkan ekonomi restoratif di tingkat daerah. Melalui pendekatan tersebut, pemulihan lingkungan diposisikan sebagai investasi jangka panjang untuk menciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan desa, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kisah Lana Tumbavani menunjukkan bahwa lahan yang pernah rusak akibat bencana tidak selalu berakhir menjadi kawasan mati. Dengan pendekatan restoratif, lahan yang kehilangan produktivitas justru dapat menjadi sumber nilai ekonomi baru tanpa mengabaikan keberlanjutan lingkungan.

Editor : Alim Kusuma