Senin, 20 Jul 2026 20:26 WIB

Ecoton Ajak Anak Anak Selamatkan Mangrove Wonorejo dari Lilitan Sampah Plastik 

ECOTON ajak anak-anak bersihkan sampah plastik di kawasan Ecowisata Mangrove Wonorejo (IN/PHOTO: IFFAN)
ECOTON ajak anak-anak bersihkan sampah plastik di kawasan Ecowisata Mangrove Wonorejo (IN/PHOTO: IFFAN)

SURABAYA, INFONews.ID – ECOTON bersama lebih dari 21 siswa-siswi SD–SMP homeschooling, tiga mahasiswa Universitas Brawijaya (UB), serta para relawan menggelar kegiatan "Make Mangrove Green Again" di kawasan Ekowisata Mangrove Wonorejo, Surabaya. Kegiatan ini bertujuan menyelamatkan akar-akar mangrove dari lilitan sampah plastik sekaligus mengajak generasi muda belajar langsung mengenai pentingnya ekosistem mangrove bagi kehidupan pesisir.

Mangrove merupakan benteng alami pesisir yang berperan penting dalam melindungi garis pantai dari abrasi, menyerap karbon dalam jumlah besar, menyaring polutan, serta menjadi habitat, tempat berlindung, tempat pemijahan, dan tempat mencari makan bagi berbagai jenis ikan, kepiting, udang, burung, hingga satwa lainnya. Keberadaan mangrove sangat menentukan kesehatan ekosistem laut dan keberlanjutan sumber daya perikanan. Mangrove adalah rumah bagi ikan, sehingga menjaga mangrove berarti menjaga kehidupan di laut.

Sayangnya, banyak akar mangrove yang terlilit sampah plastik. Selain menghambat pertumbuhan akar, sampah plastik juga dapat menutupi lentisel, yaitu pori-pori pada batang dan akar mangrove yang berfungsi sebagai jalur pertukaran gas (oksigen dan karbon dioksida) antara jaringan tumbuhan dengan udara. Saat perjalanan menyusuri kawasan mangrove menggunakan perahu, Prigi Arisandi, Founder ECOTON menjelaskan kepada para peserta bahwa apabila lentisel tertutup atau terganggu oleh sampah plastik, proses respirasi mangrove akan terhambat sehingga memengaruhi pertumbuhan bahkan kelangsungan hidup pohon. Ia juga menjelaskan bahwa sampah plastik yang terus terpapar sinar matahari, gelombang, dan gesekan di lingkungan pesisir akan terfragmentasi menjadi mikroplastik yang semakin sulit dibersihkan serta berpotensi mencemari ekosistem mangrove dan rantai makanan di laut.

Kegiatan diawali dengan perjalanan menggunakan perahu menyusuri muara dan kawasan mangrove. Selama perjalanan, peserta mendapatkan edukasi mengenai berbagai jenis tanaman mangrove, satwa yang hidup di dalamnya, fungsi ekologis mangrove sebagai pelindung pesisir dari abrasi, penyerap karbon (blue carbon), habitat berbagai biota laut, serta ancaman yang ditimbulkan oleh pencemaran sampah plastik terhadap ekosistem tersebut.

Setelah sesi edukasi, seluruh peserta melakukan aksi bersih pantai dan menyelamatkan akar-akar mangrove yang masih hidup dari lilitan sampah plastik. Dalam waktu sekitar 30 menit, peserta berhasil mengumpulkan lebih dari 20 karung sampah berukuran 25 kilogram. Sampah yang paling banyak ditemukan berupa botol plastik sekali pakai, kantong kresek, kemasan sachet, sandal, sedotan, serta berbagai jenis sampah plastik lainnya yang terbawa arus sungai hingga bermuara di kawasan mangrove.

Abdullah, siswa kelas 2 SD, mengaku terkejut melihat banyaknya sampah yang menjerat akar mangrove.

"Tadi aku habis ambili sampah plastik yang melilit akar pohon. Banyak banget sampahnya dan sulit dilepaskan dari akar pohon manggrovenya. Sampah-sampah ini dari orang-orang yang tidak membuang sampah pada tempatnya. Aku ada pesan buat orang-orang, kalau buang sampah harus di tempatnya dan kurangi pakai plastik sekali pakai karena sampahnya bisa mencemari pantai," ujar Abdullah.

Hal senada disampaikan Nashwa, siswi kelas 1 SD yang baru pertama kali mengikuti kegiatan bersih pantai.

"Ini pertama kali ikut bersih-bersih pantai. Sampahnya sangat banyak. Tadi aku dapat dua karung sampah yang bermacam-macam, ada botol plastik, wadah minuman kemasan sachet, sedotan, dan sampahnya bau. Jadi mulai sekarang harus bisa mengurangi pakai plastik agar tidak mencemari laut. Biasanya kalau ke mana-mana dan ikut acara seperti ini aku bawa wadah makan dan botol minum dari rumah dibawain Bunda supaya bisa mengurangi plastik sekali pakai dan mengurangi sampah juga," katanya.

Salah satu orang tua peserta yang juga ikut kegiatan ini, Ibu Ariesta, mengapresiasi kegiatan yang memberikan pengalaman belajar langsung bagi anak-anak.

"Ini pertama kali anak-anak ikut kegiatan seperti ini. Saya senang karena mereka bisa belajar langsung di alam, mengenal ekosistem mangrove, memahami pentingnya menjaga lingkungan, serta belajar membuang sampah pada tempatnya. Harapannya kebiasaan mengurangi plastik sekali pakai juga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di rumah," ujarnya.

ECOTON menilai bahwa edukasi yang dipadukan dengan aksi nyata di lapangan menjadi cara efektif untuk menumbuhkan kepedulian lingkungan sejak usia dini. Dengan melihat langsung dampak pencemaran plastik terhadap mangrove, peserta tidak hanya memahami pentingnya menjaga alam, tetapi juga terdorong untuk mengubah kebiasaan sehari-hari dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Melalui kegiatan Make Mangrove Green Again,  ECOTON mengajak seluruh masyarakat untuk tidak menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah karena sebagian besar sampah yang mencemari kawasan mangrove berasal dari aliran sungai. Menjaga sungai berarti menjaga pantai dan laut. Langkah sederhana seperti membawa botol minum dan wadah makan sendiri, menggunakan tas belanja pakai ulang, serta memilah sampah dari rumah merupakan kontribusi nyata yang dapat dilakukan setiap orang untuk melindungi mangrove sebagai benteng pesisir sekaligus rumah bagi berbagai biota laut. (*)

Editor : Tudji Martudji