Ekspedisi “Ngintir” Kali Surabaya dalam Tekanan Ekologis

Sampah Plastik, Alih Fungsi Bantaran, Penurunan Keanekaragaman Ikan, Ancaman Mikroplastik

Reporter : Tudji Martudji
Ekspedisi “Ngintir” peduli Kali Surabaya (IN/PHOTO: PRY)

SURABAYA, iNFONews.ID — Ekspedisi penyusuran badan sungai bertajuk Ngintir Kali Surabaya mengungkap kondisi ekologis yang mengkhawatirkan di sepanjang aliran Kali Surabaya, mulai dari Pintu Air Mlirip, Mojokerto hingga Wringinanom, Gresik. Temuan menunjukkan akumulasi sampah plastik, padatnya bangunan di sempadan sungai, serta indikasi penurunan jumlah spesies ikan dari hulu ke hilir.

Kegiatan ini dilakukan oleh sejumlah komunitas lingkungan, di antaranya AKAMSI, River Warrior, Posko Ijo, Sungai Nusantara, dan TitikTerang, sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap 5 Juni.

Penyusuran Sungai: Perbedaan Lanskap dari Darat dan Air

Dua orang pengintir mengikuti arus Kali Surabaya dari titik awal Pintu Air Mlirip, Mojokerto. Perjalanan berlangsung sekitar tiga jam dan berakhir di kawasan Wringinanom, Gresik.

Secara virtual mengikuti alur sungai, jarak dari Mlirip ke Wringinanom tercatat sekitar 42 kilometer, sementara melalui jalur darat hanya sekitar 13 kilometer. Perbedaan ini menunjukkan bahwa kondisi sungai tidak sepenuhnya terbaca dari ruang darat.

Selama perjalanan, plastik sekali pakai ditemukan melimpah, banyak di antaranya tersangkut dan melilit vegetasi bantaran. Di sejumlah titik, sampah rumah tangga juga terakumulasi di tepian sungai.

Temuan Lapangan: Indikator Kerusakan Ekologis

Dalam kurun hampir tiga jam penyusuran, tim mencatat sejumlah temuan penting:

180 pohon teridentifikasi terlilit sampah plastik 

80 titik timbunan sampah liar ditemukan di bantaran 

120 bangunan berdiri di kawasan sempadan sungai 

Selain itu, bantaran sungai menunjukkan tekanan aktivitas manusia yang tinggi, termasuk alih fungsi ruang sempadan menjadi permukiman dan gudang. Di beberapa lokasi, ditemukan praktik pembuangan tinja langsung ke lingkungan (BABS).

Perspektif Lapangan: Sungai dalam Kondisi Tertekan

Jurnalis media online yang turut dalam ekspedisi, Supriyadi, menyatakan pengalaman langsung di badan sungai mengubah perspektif terhadap kondisi Kali Surabaya.

“Waktu awal jebur di Mlirip ada rasa ragu. Pas sudah ngintir, saya menyatu dengan sungai. Dan bisa melihat persoalan Kali Surabaya satu-satu. Apa yang terjadi pada sungai ini,” ujarnya, Sabtu (30/5/2026).

Analisis Ekologis: Tekanan dari Aktivitas Manusia

Pendiri Ecoton, Prigi Arisandi, menegaskan bahwa kondisi sungai lebih jelas terlihat ketika diamati langsung dari badan air.

Ia menilai keberadaan plastik yang menggantung di vegetasi bantaran merupakan indikator kuat tekanan ekologis dari hulu hingga hilir.

“Kalau plastik sudah menggantung di pohon-pohon bantaran, artinya sungai sedang membawa luka dari hulu sampai hilir. Sungai tidak bisa terus dijadikan tempat buang sampah,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa akumulasi sampah menunjukkan lemahnya sistem pengelolaan limbah dan pengawasan pencemaran di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS).

Mikroplastik dan Penyempitan Ruang Sungai

Selain sampah makro, mikroplastik menjadi perhatian utama dalam ekspedisi ini. Partikel plastik kecil diduga berasal dari limbah industri daur ulang, sampah rumah tangga, serta degradasi plastik di sepanjang aliran sungai.

Di sisi lain, bantaran Kali Surabaya mengalami perubahan signifikan. Banyak kawasan alami bergeser menjadi permukiman, gudang, dan kawasan industri, sehingga ruang ekologis sungai semakin menyempit.

Data Ilmiah: Penurunan Keanekaragaman Ikan

Penelitian dalam jurnal Biodiversitas Volume 27 Nomor 3 Maret 2026 mencatat 35 spesies ikan air tawar di Sungai Surabaya. Penelitian dilakukan oleh Abdul R. Faqih bersama tim dari Indonesia, Malaysia, dan Inggris.

Pengambilan sampel dilakukan pada periode Desember 2025 hingga Januari 2026 di tiga lokasi utama:

Pintu Air Mlirip, Mojokerto 

Kecamatan Krian, Sidoarjo 

Pintu Air Jagir, Surabaya 

Hasil penelitian menunjukkan penurunan jumlah spesies dari hulu ke hilir:

Mlirip: 34 spesies ikan 

Jagir: 17 spesies ikan 

Hilangnya Spesies Historis

Pendiri Posko Ijo, Rulli Mustika Adya, menyebut sejumlah spesies ikan yang pernah tercatat oleh naturalis abad ke-19 kini tidak lagi ditemukan.

Sebanyak 12 spesies ikan yang sebelumnya terdokumentasi, termasuk oleh Pieter Bleeker, dilaporkan hilang dari catatan terbaru. Daftar tersebut mencakup antara lain Leptobarbus hoevenii, Crossocheilus cobitis, Crossocheilus oblongus, Barbichthys laevis, Cyclocheilichthys armatus, hingga Kalimantania lawak.

Tekanan Ekologis Multisumber

Tim peneliti mengidentifikasi sejumlah faktor utama tekanan ekologis:

Modifikasi habitat sungai 

Pencemaran berkelanjutan 

Perubahan iklim 

Penangkapan ikan berlebih 

Introduksi spesies asing 

Infrastruktur air tanpa jalur migrasi ikan 

Kombinasi faktor tersebut memperkuat indikasi bahwa degradasi Kali Surabaya bersifat sistemik.

Potensi dan Ancaman Ekosistem

Modal Kuat Pemulihan

34 Spesies Ikan Bertahan 

Ikan Rengkik 

Lele Jawa 

Wader Bintik-bintik 

Ancaman Polusi

Limbah Industri & Sampah Rumah Tangga 

Mikroplastik 

Ancaman Polusi Mikroplastik: Limbah industri daur ulang dan sampah rumah tangga menjadi sumber utama pencemaran mikroplastik 

Kekayaan Hayati Sungai Brantas

Kali Surabaya: 34 Spesies 

Sungai Brantas: 42 Spesies 

Penutup

Kali Surabaya saat ini masih mengalir ke hilir, namun berada dalam tekanan ekologis yang terus meningkat. Keberadaan ikan lokal masih terdeteksi, namun dalam lanskap yang semakin terfragmentasi oleh sampah plastik, penyempitan ruang sungai, dan penurunan kualitas habitat.

“Ikan asli menghadapi kerusakan ekologis semakin kompleks,” pungkas Rulli Mustika Adya.

Puncak Hari Lingkungan Hidup (5 Juni)

Gedung Negara Grahadi 

Keterangan: Aksi teatrikal sebagai pengingat publik pada 5 Juni.

Narahubung: Rulli Mustika Adya +62 822-3410-0211

Editor : Tudji Martudji

Photo
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru