Satu Abad NU, Prabowo Sebut Nahdlatul Ulama Benteng Terakhir NKRI

Reporter : Ali Masduki
Presiden Prabowo dan Khofifah Indar Parawansa hadiri Puncak Satu Abad NU di Malang. INPhoto/FJN

MALANG, iNFONews.ID – Puluhan ribu warga Nahdliyin memadati Stadion Gajayana, Kota Malang, guna mengikuti puncak peringatan Satu Abad NU dalam bingkai Mujahadah Kubro, Minggu (8/2/2026). 

Kehadiran Presiden RI Prabowo Subianto bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menjadi simbol betapa strategisnya posisi Nahdlatul Ulama dalam menjaga stabilitas nasional di tengah transisi zaman.

Baca juga: Banjir Bengawan Solo Rendam 1.706 Rumah di Lamongan, Enam Kecamatan Terdampak

Presiden Prabowo Subianto secara terbuka mengakui bahwa sejarah Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran besar kaum sarungan. 

Ia menyebut organisasi yang lahir pada 1926 ini sebagai pilar penyangga yang tidak pernah absen saat kedaulatan negara terancam.

"NU selalu berdiri di garda depan menjaga persatuan. Tiap kali negara dalam kondisi bahaya, NU selalu hadir menyelamatkan bangsa Indonesia," ujar Presiden Prabowo di hadapan lautan manusia yang memenuhi tribun dan lapangan stadion.

Bagi Prabowo, konsistensi NU merawat kerukunan lintas iman merupakan cerminan nyata dari cita-cita para pendiri bangsa. Ia menaruh harapan besar agar organisasi ini tetap menjadi kompas toleransi yang tidak membeda-bedakan latar belakang rakyat.

"Saya yakin NU akan terus mengayomi semua umat beragama tanpa pandang bulu. Terima kasih telah menjadi penyejuk dan menjaga kedamaian di Republik ini," tambahnya.

Senada dengan itu, Gubernur Khofifah Indar Parawansa melihat usia satu abad sebagai bukti ketangguhan NU dalam beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Menurutnya, kekuatan utama NU terletak pada ribuan pesantren yang tersebar dari desa hingga kota.

Baca juga: Gresik Universal Science Kini Terkoneksi Trans Jatim, Wisata Jadi Murah

"Pesantren adalah pusat peradaban. Di sana, pribadi-pribadi dibekali ilmu agama sekaligus pengetahuan umum untuk membangun bangsa," kata Khofifah.

Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU ini mengibaratkan organisasi ini sebagai rumah besar yang teduh. 

Khofifah menilai semangat Islam wasathiyah atau moderasi yang diusung NU merupakan perekat paling kuat bagi keberagaman di Indonesia.

"NU itu terbuka bagi siapa saja. Ini bukan hanya milik kelompok tertentu yang paham teknis keagamaan, melainkan rumah bagi seluruh umat Islam," tegasnya.

Baca juga: Gubernur Khofifah dan Konjen RRT Bertemu, Bahas Kerja Sama Peningkatan SDM dan Perdagangan

Menariknya, kemeriahan acara selama dua hari ini juga memotret harmoni sosial di Kota Malang. Ketua PWNU Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), menceritakan bagaimana warga di sekitar Stadion Gajayana, termasuk institusi pendidikan dan gereja, secara sukarela menyesuaikan jadwal mereka demi kelancaran acara.

"Dukungan datang dari mana-mana. Bahkan pengurus gereja menunjukkan toleransi luar biasa agar Mujahadah Kubro ini berjalan khidmat. Kami berterima kasih sekaligus memohon maaf jika aktivitas masyarakat Malang sempat terganggu," tutur Gus Kikin.

Acara yang mengusung tema "Memperkokoh Jam’iyyah, Tradisi, dan Kontribusi dalam Mengembangkan Peradaban" ini ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa, menandai dimulainya langkah NU menuju abad kedua.

 

Editor : Alim Kusuma

Photo
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru